Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bahaya yang Menghantui Anak dan Remaja Obesitas

Obesitas merupakan masalah global yang elanda hampir semua negara. Kondisi yang terjadi akibat kelebihan berat badan ini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga pada anak.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  14:17 WIB
Bahaya yang Menghantui Anak dan Remaja Obesitas
Ilustrasi obesitas - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Obesitas merupakan masalah global yang elanda hampir semua negara. Kondisi yang terjadi akibat kelebihan berat badan ini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga pada anak. 

Obesitas pada anak di dunia meningkat selama 10 tahun terakhir. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi obesitas pada balita di Indonesia mencapai 11,9 persen.

Berdasarkan penelitian multisenter di Indonesia ditunjukkan bahwa prevalensi obesitas usia Sekolah Dasar (SD) mencapai 12,3 persen.

Dokter spesialis anak dan konselor laktasi Yovita Ananta, dari RS Pondok Indah Jakarta mengatakan bahwa 1 di antara 10 anak menderita obesitas.

 “Paling mudah mendeteksi anak obesitas atau tidak adalah dari berat badan dan tinggi badan melalui indeks massa tubuhnya sesuai dengan masa tumbuh kembang,” ujar Yovita.

Pada anak usia 2 tahun ke bawah indeks massa tubuh (IMT) yang lebih 2 standar deviasi, termasuk kelebihan berat badan.

Sementara itu, jika IMT nya di atas 3 standar deviasi, anak termasuk obesitas.Untuk anak yang di atas 2 tahun, obesitas dinilai dari  grafik IMT pada angka di atas P95 pada grafik. 

“Penyebabnya karena input-nya lebih banyak dari pada output-nya,” ujar Yovita di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan aktivitas fisik, maka kejadian obesitas dapat terjadi. Selain itu faktor genetik, psikososial, lingkungan, dan jenis kelamin juga mempengaruhi obesitas pada anak.

“Lingkaran setan obesitas anak bisa terjadi karena tingginya angka pemakaian gawai sebagai aktivitas fisik anak, sehingga aktivitas makin pasif. Anak juga cenderung suka makan camilan, akibatnya terjadi pertambahan berat badan. Makin berat badan, makin malas bergerak,” ujar Yovita.

Akibat dari obesitas pada anak bukan hal sepele karena dapat menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang seperti masalah saraf, masalah pernapasan, depresi, risiko asma, emboli paru, hipertensi paru, risiko kanker, diabetes melitus tipe 2, masalah reproduksi ketika dia dewasa nanti. 

“Banyak juga yang mengalami hipertensi, kolesterol, dan penyakit jantung,” ujar Yovita. Untuk menangani obesitas pada anak perlu diperbaiki pola makan, aktivitas fisik, modifikasi perilaku, dan juga keterlibatan keluarga. 

“Makan tetap 3 kali sehari dengan camilan 2 kali, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan kalori dan dikurangin sedikit-sedikit dengaan target badan turun 0.5kg seminggu,” ujarnya. 

Pengaruh Lingkungan

Lingkungan juga harus netral dalam mendukung penurunan berat badan anak yang obesitas. Jangan memaksa anak untuk diet, sementara keluarga tidak mendukung.

Seluruh anggota keluarga sebaiknya berpartisipasi dalam program diet dan mengubah perilaku makan dan aktivitas. Pilihlah menu makanan tetap dengan diet seimbang dan diet tinggi serat.

“Aktivitas fisik dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan motorik seperti bersepeda, berenang, menari, karate, senam, dan lain-lain,” ujar Yovita.

Pastikan juga anak melakukan aktivitas harian seperti berjalan kaki, mengurangi penggunaan gawai, dan bermain di luar rumah. Pastikan juga agar guru dan teman sekolah dapat mendukung proses pengurangan berat badan pada anak.

“Memuji bila anak berhasil, dan tidak mengejek anak-anak yang gemuk,” ujarnya lagi.

Untuk anak-anak obesitas di atas 12 tahun yang sudah memiliki penyakit penyerta mungkin membutuhkan terapi pengobatan ataupun tindakan bedah seperti bariatrik.

Pencegahan obesitas dapat dilakukan sejak dini dengan melakukan pola makan dan aktivitas fisik yang tepat sejak bayi.

Pemberian ASI ekslusif dapat membantu mengatasi obesitas karena bayi yang disusui ibunya lebih terkendali jumlah ASI dan kalori yang dikonsumsinya dibandingkan dengan bayi yang minum dengan susu botol.

Ketika anak sudah masuk masa MPASI, hindari minuman manis dan susu berlebih.

 “Saat makan bersama anak, jangan makan di depan TV. Biarkan anak bermain aktif,” ujarnya lagi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obesitas kanker sekolah dasar air susu ibu
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top