Bolehkah Membalas 'Beauty Bullying' di Media Sosial?

Berbicara tentang beauty bullying atau perundungan akibat standar kecantikan tertentu memang tak henti-hentinya menghajar kaum hawa apalagi dengan perkembangan dunia digital terkhususnya media sosial seperti sekarang
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  16:45 WIB
Bolehkah Membalas 'Beauty Bullying' di Media Sosial?
Ilustrasi - Stopbullying.gov

Bisnis.com, JAKARTA - "Ih gemuk banget ya sekarang," tulis seorang teman di media sosial Instagram.

Mungkin kalimat ini terdengar sederhana namun punya artian besar bagi orang yang tidak mampu membendung komentar pedas dari luar dirinya. 
 
Berbicara tentang beauty bullying atau perundungan akibat standar kecantikan tertentu memang tak henti-hentinya menghajar kaum hawa apalagi dengan perkembangan dunia digital terkhususnya media sosial seperti sekarang. 
 
Nuran Abdat, Psikolog Klinis Brawijaya Healthcare baru-baru ini menerangkan kalau beauty bullying sebenarnya sudah sangat akrab kita temui, namun jarang disampaikan di ruang publik mengingat isu ini masih sangat sensitif untuk dibicarakan. 
 
Umumnya terjadi antara wanita dan wanita
 
Menurut sebuah studi, perempuan umumnya memang harus mengeluarkan 2000 kata per harinya, sehingga wajar dan memang kodratnya kalau wanita dianggap 'cerewet'.
 
Nuran menyebutkan fenomena beauty bullying ini umumnya terjadi antara wanita dan wanita dengan maksud mendapatkan kepuasan daripadanya. 
 
Jika dirunut dari jaman dulu, menurutnya, perempuan tidak terbiasa dididik atau diberikan pemahaman tentang kompetensi, sehingga perempuan hanya bisa menilai value dan penilaian diri dari penampilan luar. 
 
"Dari dulu perempuan itu jarang untuk diberikan ruang untuk mengeluarkan agresivitas dirinya, terpendam kan, kalau lama-lama diam akan capek juga. Media sosial ini tidak terbendung, jadi kesannya kaya 'nyinyir' atau 'julid' yang diimplementasikan dalam sebuah ruang yang dimana dirinya nggak ketahuan, identitasnya bisa ditutupi," jelasnya saat ditemui di Hotel The Hermitage, Senin (29/7/2019) malam.
 
Ia menerangkan media sosial adalah sasaran empuk fenomena beauty bullying karena media sosial adalah sarana yang tak bisa menembus identitas seseorang lebih dalam, apalagi dengan adanya fasilitas berganti nama, foto dan penguncian akun. 
 
"Darisini lah mungkin perempuan punya pemikiran tentang cara menilai dirinya atau value dirinya kurang tepat, jadi cara wanita mengeluarkan agresifitasnya kurang baik. Jadi kelihatannya wanita ke wanita lain tidak saling bantu," terangnya. 
 
Efek beauty bullying
 
Tidak hanya masyarakat awam, penelitian menerangkan kalau beauty bullying ternyata juga bisa dilontarkan seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi. 
 
Kecenderungan merasa memiliki keistimewaan hubungan seperti sahabat, teman atau saudara, untuk mengomentari fisik seseorang menjadi salah satu faktor banyak sekali orang yang merasa bebas meninggalkan komentar fisik seseorang.
 
Dampak dari fenomena ini juga tidak main-main, Nuran menyebutkan kalau efek dari perilaku negatif ini paling tidak menyerang kepercayaan diri seseorang.
 
"Yang paling utama adalah untuk citra dirinya sendiri, si individu ini bagaimana dia memandang citra dirinya dia, bagaimana dia memandang wanita dan pria juga di luaran sana. Cara dia yang memandang diri awalnya cukup baik, citra diri sangat berpengaruh pada kepercayaan diri. Otomatis karena ini citra diri, kepercayaan dirinya berkurang karena dia tidak punya ruang membalas kembali. Tidak semua orang berani untuk membalas komentar tersebut," ungkap Nuran. 
 
Di tahapan selanjutnya, ketika komentar sudah terlalu banyak diterima bukan tidak mungkin level stres akan meningkat yang mengakibatkan individu ingin mengisolasikan dirinya.

Efek yang paling membahayakan salah satunya adalah keinginan untuk melakukan percobaan bunuh diri atau bahkan realisasi bunuh diri karena merasa tidak diterima di lingkungan sekitar. 
 
Bolehkah membalas komentar tersebut?
 
Apakah bijak membalas komentar pedas yang dilontarkan orang terdekat yang membahas tentang penampilan kita?
 
Nuran menyebut hal ini dikembalikan lagi ke persepsi masing-masing orang. Jika hanya ingin melampiaskan kepuasan, membalas komentar bukan menjadi pilihan yang bijak. 
 
"Saya tidak bilang tidak boleh membalas, kadang kita cukup bilang dengan baik apa yang ada dalam perasaan kita dengan cara yang baik pula, misalnya ada yang bilang 'kok style-nya gitu-gitu aja' jawabnya, 'oh sorry to say, gue nyaman aja nih pakai ini'," ungkapnya.
 
Dengan begitu, masing-masing individu menyadari untuk tidak berlarut pada konfrontasi hanya karena penampilan. Dengan memutuskan tali rantai beauty bullying, diharapkan warganet termasuk diri kita sendiri lebih bijak menggunakan media sosial.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Medsos, Bullying

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top