Bali: Beats of Paradise, Perlukah Dikomersialisasikan?

Sutradara asal Indonesia, Livi Zheng kembali dengan film terbarunya yakni Bali: Beats of Paradise yang akan rilis di bioskop Indonesia mulai 22 Agustus mendatang.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  06:50 WIB
Bali: Beats of Paradise, Perlukah Dikomersialisasikan?
Studio Bioskop Pemutaran Film Bali: Beats of Paradise di CGV Grand Indonesia Rabu (14/8 - 2019) / Ria Theresia Situmorang

Bisnis.com, JAKARTA - Sutradara asal Indonesia, Livi Zheng kembali dengan film terbarunya yakni Bali: Beats of Paradise yang akan rilis di bioskop Indonesia mulai 22 Agustus mendatang.

Setelah promosi di Amerika Serikat dan Korea Selatan, sutradara yang mengenyam pendidikan dan berkarir di Amerika Serikat tersebut akhirnya pulang ke Indonesia dengan membawa oleh-oleh berupa film terbaru.
 
Bali: Beats of Paradise adalah film dokumenter bergenre drama yang bercerita tentang kisah hidup seorang seniman gamelan Bali bernama I Nyoman Wenten. 
 
Dalam perjalanan karirnya, I Nyoman Wenten diberi kesempatan untuk berkolaborasi dengan penyanyi pemenang Grammy Award untuk kategori Best Music Film, Judith Hill, dan gitaris jazz asal Bali, I Wayan Balawan. 
 
Tema gamelan yang diambil dalam film ini, yang menurut sutradaranya menarik, karena merupakan warisan budaya seni tradisional Indonesia seperti memiliki bumerang tersendiri. 
 
Keliru rasanya jika menantikan efek emosional ketika menonton film dokumenter satu ini, karena penggambaran karakter dalam filmnya sendiri relatif datar.
 
Menggabungkan musik, tarian dan keindahan alam Pulau Bali, tampaknya membuat film ini seakan rakus, sehingga memaksa penontonnya bisa memahami semua bagian-bagian dari cerita. Pembuatnya seakan lupa kalau tidak semua penonton awam fokus dan tertarik selama 56 menit durasi film ini berjalan.
 
Penambalan narasi tokoh dalam cerita juga tak mampu membuat penontonnya terbius, sehingga timbul pertanyaan, apakah cocok film ini dikomersialisasikan?
 
Ya, film Bali: Beats of Paradise memang memiliki kualitas gambar yang baik. Namun dari segi cerita, film ini sepertinya memang memiliki pasar penontonnya sendiri. 
 
Terlepas dari berbagai prestasinya di dunia internasional, di Indonesia sepertinya film genre ini relatif hanya cocok ditonton oleh pencinta budaya dan seni dan diputar sebagai film seni.
 
Target segmentasi film ini sebenarnya memang bukan penonton awam, sehingga kurang tepat rasanya jika filmnya dijadikan film komersial di tengah riuhnya perlombaan menggaet penonton di bioskop Indonesia lewat genre drama, horor dan komedi yang terbilang sangat laku di pasaran. 
 
Seperti kata Kimber Myers dari Los Angeles Times dalam situs review film Rotten Tomatoes, "(Film) Ini menghibur tapi hanya sedikit."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film indonesia

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top