Apakah Pil KB Bikin Rahim Kering? Berikut Faktanya

Perencanaan menunda kehamilan dengan menggunakan pil kontrasepsi di masyarakat diiringi dengan mitos-mitos yang menakutkan.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 26 September 2019  |  20:50 WIB
Apakah Pil KB Bikin Rahim Kering? Berikut Faktanya
Ilustrasi ibu hamil - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perencanaan menunda kehamilan dengan menggunakan pil kontrasepsi di masyarakat diiringi dengan mitos-mitos yang menakutkan.

Masih banyak perempuan yang termakan oleh mitos bila menelan pil kontrasepsi atau yang sering disebut pil KB, maka akan menyebabkan rahim kering. Hal itu dibantah oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan Boy Abidin.
 
Menurut dia, banyak ibu milenial yang masih takut menggunakan pil kontrasepsi hormonal karena dapat menyebabkan ketidaksuburan rahim atau dikenal dengan istilah ‘rahim kering'.

"Juga takut mitos menyebabkan penambahan berat badan dan bahkan dapat menyebabkan kanker. Pada kenyataannya, hal tersebut tidak benar. Ada penelitian ilmiah yang dapat mematahkan seluruh mitos yang ada,” kata Boy di Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Adapun, kontrasepsi modern memberikan kekuatan pilihan/power of options kepada perempuan dan juga keluarganya dengan memberikan mereka ketenangan pikiran dalam merencanakan masa depan sehingga dapat memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam meraih harapan.

Di samping itu, manfaat non-kontrasepsi yang menyertainya dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan. Contohnya, pil kontrasepsi modern memiliki tingkat efektivitas proteksi kehamilan sebesar 98%–99%. 

"Saat ini ada pil kontrasepsi modern dengan kandungan drospirenone 3 mg dan Ethinylestradiol 0,03 mg yang memiliki manfaat tambahan non-kontrasepsi seperti mempertahankan berat tubuh, mengurangi rasa sakit saat menstruasi, dan jerawat.”

Psikolog Anna Surti Ariani mengungkapkan, masyarakat Indonesia memberikan tuntutan bagi pasangan yang baru menikah untuk segera memiliki anak, bahkan segera menambah jumlah anak.

Padahal, jarak kehamilan ideal secara psikologis rentangnya 2-5 tahun. Menghadapi tuntutan sosial tersebut, seorang ibu harus berdaya untuk memilih apakah dan kapan ingin hamil dan memiliki anak. Dengan memilih, maka ibu jadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan konsekuensinya.

“Kehamilan tidak direncanakan dapat memberikan berbagai risiko buat ibu dan anak. Cukup sering terjadi penolakan kehamilan atau ketidaksadaran bahwa dirinya hamil. Stres ibu juga menjadi lebih tinggi selama kehamilan," ungkapnya.

Dia mengatakan, kondisi kehamilan tak direncanakan, dapat membuat tumbuh kembang janin terhambat. Demikian pula setelah lahir, kasih sayang antara ibu dan bayi (attachment) kurang berkembang secara optimal sehingga tumbuh kembang psikologis anak jadi bermasalah.

Sebaliknya, dengan jarak kehamilan yang direncanakan, ibu juga dapat mengembangkan dirinya, mengurus keluarga secara lebih optimal dan menjadi lebih bahagia. Setiap anak yang dilahirkan juga dapat menjadi lebih diperhatikan sehingga perkembangannya lebih optimal.

Dia menambahkan, salah satu metode merencanakan keluarga yaitu dengan menggunakan kontrasepsi. Namun, adanya hambatan bagi ibu dalam menggunakan kontrasepsi, khususnya pil kontrasepsi, yaitu lupa, sibuk, ketidakpahaman cara penggunaan pil kontrasepsi, juga terjadi perubahan besar dalam hidup (pindah rumah atau pindah kerja, bertengkar dengan pasangan, dan lainnya).

Hambatan lainnya yakni travelling ke negara lain, tidak meletakkan pil di tempat yang mudah diambil, ketiadaan apotek atau pusat kesehatan yang menjual pil kontrasepsi, serta anggapan bahwa pil mahal hingga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, perempuan

Editor : Pamuji Tri Nastiti
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top