Begini Hubungan Diabetes, Hipertensi dan Stroke

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko tertinggi dari diabetes melitus.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 28 September 2019  |  13:39 WIB
Begini Hubungan Diabetes, Hipertensi dan Stroke
Ilustrasi - Wowamazing

Bisnis.com, JAKARTA — Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko tertinggi dari diabetes melitus.

Keduanya juga bisa diderita seseorang secara bersamaan sehingga penanganannya juga harus menyeluruh.

Oleh karena itu, pengobatan hipertensi harus dilakukan bersamaan dengan pengendalian diabetes melitus. Ini penting karena penderita diabetes yang menunda untuk mengobati hipertensinya, lebih berisiko mengalami serangan jantung dan stroke.

Hal ini dungkapkan dalam penelitian di University of Colorado Anschutz Medical Campus, Amerika Serikat.

Para peneliti memeriksa data pada 43.986 pasien dengan diabetes yang memulai pengobatan untuk tekanan darah tinggi antara tahun 2002— 2007.

Orang-orang yang menunggu sampai tekanan darah lebih tinggi untuk memulai pengobatan ternyata 10 persen lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung fatal dan strok.

 “Hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah faktor risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik, yang meliputi penyakit arteri koroner, serangan jantung, dan strok,” kata Sridharan Raghavan, peneliti di University of Colorado Anschutz Medical Campus, AS.

Itulah sebabnya, kata dia, menurunkan tekanan darah pada pasien diabetes dengan hipertensi dapat mengurangi beberapa risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik.

Pengobatan Hipertensi

Seperti yang mereka lakukan dengan kelompok lain yang berisiko tinggi untuk penyakit kardiovaskular, dokter merekomendasikan agar penderita diabetes mempertimbangkan untuk mengobati tekanan darah tinggi sedini mungkin.

American Heart Association dan American College of Cardiology merekomendasikan bahwa orang dengan diabetes sebaiknya memulai  pengobatan hipertensi ketika  tekanan darah sistolik di atas 130 mmHg.

American Diabetes Association merekomendasikan bahwa orang dengan diabetes memulai pengobatan ketika tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg, dengan tujuan untuk menurunkan tekanan darah di bawah angka itu.

Hasil dari penelitian saat ini menunjukkan bahwa individu dengan diabetes dan hipertensi yang memulai terapi penurun tekanan darah ketika tekanan darah sistolik mereka melebihi 130 mmHg lebih berisiko rendah mengalami kematian akibat serangan jantung dan stroke.

Akan tetapi, mereka yang tekanan darah sistoliknya melebihi 140 mmHg saat memulai pengobatan biasanya bernasib lebih buruk daripada pasien yang memulai dengan tekanan sistolik di bawah 130.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa bagi penderita diabetes, manajemen tekanan darah harus diperhatikan lebih serius. Pada pasien dengan diabetes, hipertensi harus ditangani secepat mungkin jika tekanan darah mulai naik di atas 130 mmHg.

Pada pasien dengan tekanan darah lebih besar dari 140 mmHg, tekanan darah harus tetap dirawat tetapi tidak agresif, agar tidak mengurangi tekanan darah secara berlebihan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diabetes, hipertensi, stroke

Sumber : Reuters

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top