Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Remaja Pengguna Ganja Rentan Terkena Serangan Jantung

Remaja yang menggunakan kokain, amfetamin, dan ganja lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena serangan jantung daripada rekan mereka yang tidak menggunakan obat-obatan.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 26 November 2019  |  22:54 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bisnis.com, JAKARTA - Studi terbaru menyatakan bahwa remaja yang menggunakan kokain, amfetamin, dan ganja lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena serangan jantung daripada rekan mereka yang tidak menggunakan obat-obatan.

Dilansir dari Reuters, Selasa (26/11/2019), peneliti memeriksa data dari 2010-2014 terhadap 1.694 pasien usia 15 hingga hingga 22 yang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung, ditambah hampir 9,4 juta pasien dirawat di rumah sakit karena alasan lain.

Secara keseluruhan, risiko rawat inap serangan jantung 3,9 kali lebih tinggi untuk pengguna kokain, 2,3 kali lebih tinggi untuk pengguna amfetamin, dan 30 persen lebih tinggi untuk pengguna ganja daripada non-pengguna.

Rikinkumar Patel dari Griffin Memorial Hospital di Norman, Oklahoma, dan rekannya yang menulis di Jurnal Kesehatan Remaja, mengatakan bahwa ganja dianggap oleh banyak orang memiliki risiko medis yang rendah.

"Meskipun semakin banyak bukti efek samping yang signifikan dari gangguan penggunaan ganja baik itu ketergantungan maupun penyalahgunaan," ujarnya.

Studi juga menunjukkan prevalensi lebih tinggi dan rasio peluang signifikan serangan jantung akut pada populasi anak muda yang menggunakan ganja.

"Hal itu seiring dengan potensi beban biaya karena keparahan penyakit, perpanjangan waktu rawat inap, dan penggunaan modalitas pengobatan yang lebih tinggi," tulis para peneliti.

Menurut National Institute on Drug Abuse (NIDA), ganja adalah obat terlarang yang paling umum digunakan di AS. Penggunaannya meningkat karena beberapa negara telah melegalkan ganja untuk penggunaan medis atau rekreasi.

Di sisi lain, semakin populernya ganja rekreasi juga menimbulkan kekhawatiran baru tentang potensi efek kardiovaskular, khususnya di kalangan kaum muda.

Efek jangka pendek dari kanabis dapat mencakup perubahan suasana hati, gangguan gerakan tubuh dan kesulitan berpikir, pemecahan masalah dan memori. Seiring waktu, obat ini juga dapat menyebabkan tantangan pernapasan, peningkatan denyut jantung dan berbagai gangguan mood.

Dalam studi saat ini, sekitar 15 persen orang muda yang dirawat di rumah sakit karena serangan jantung adalah pengguna ganja, sementara 2,5 persen menggunakan amfetamin, 6 persen menggunakan kokain, 2,6 persen menggunakan opioid, dan 28,4 persen menggunakan tembakau.

Studi ini juga menemukan mayoritas pasien dengan kebiasaan penggunaan narkoba, terkait dengan serangan jantung, rerata berusia 19 hingga 22 tahun, pria, dan berkulit putih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

narkoba
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top