Mengapa Milenial Kota Lebih Suka Ngekos?

Hasil survei Indonesia Property Watch mengindikasi generasi milenial di kota-kota besar, seperti di Jakarta, lebih senang menyewa dibandingkan membeli properti.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 08 Februari 2020  |  08:18 WIB
Mengapa Milenial Kota Lebih Suka Ngekos?
Ilustrasi-Razia rumah kost diduga tempat praktik prostitusi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Hasil survei Indonesia Property Watch mengindikasi generasi milenial di kota-kota besar, seperti di Jakarta, lebih senang menyewa dibandingkan membeli properti.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menilai saat ini harga properti sudah sangat tinggi sehingga kesulitan untuk dijual.

Namun, masih ada juga investor yang membeli, dengan harapan harganya akan terus naik. Padahal, pasar properti sama seperti ekonomi mempunyai siklus pasar, ini sering kali diabaikan oleh investor.

Hal itulah yang menyebabkan jika saat ini banyak masyarakat yang lebih memilih untuk menyewa dibandingkan untuk membeli, terutama di kota-kota besar.

“Hasil survei kami sekitar 47,4 persen pilih tinggal di kos-kosan, kemudian sebanyak 47,1 persen berkeinginan untuk tinggal di apartemen, sedangkan sisanya memilih tinggal di kediaman keluarga atau saudara," katanya melalui siaran pers, Sabtu (8/2/2020).

Dengan penghasilan rata-rata kaum milenial berkisar Rp6 juta - Rp7 juta per bulan artinya mereka hanya mampu membeli properti dengan cicilan Rp2 juta - Rp2,5 juta per bulan atau seharga Rp200 juta - Rp300 jutaan. Dengan rentang harga tersebut sulit untuk mereka mendapatkan properti di Jakarta. Itu sebabnya, milenial lebih memilih menyewa apartemen atau kosan.

Masih berdasarkan riset IPW, saat ini ada sebanyak 39,9 persen kaum milenial tinggal di kos atau apartemen dengan besaran sewa di bawah Rp 2 juta per bulan. Lalu sebanyak 38,5 persen menyewa dengan harga Rp 2-3 juta/bulan, dan 21,6 persen menyewa dengan harga di atas Rp3 juta per bulan.

Sementara itu, Perusahaan rintisan PT Hoppor International lewat operator indekos Kamar Keluarga juga menilai bahwa setiap tahun tren penyewa kosan terus tumbuh.

Hal itu juga yang membuat Kamar Keluarga terus meluaskan jaringanya di kota-kota besar dan daerah penyangganya. Selama dua tahun berdiri, Kamar Keluarga kini telah memiliki 2.041 kamar yang tersebar di 75 lokasi di Jabodetabek dan Bandung.

“Kami akan terus melihat setiap potensi pengembangan bisnis kosan. Hal ini untuk menjawab kebutuhan pasar,” ujar CEO Kamar Keluarga Charles Kwok.

Kwok mengemukakan untuk mendukung ekspansi tersebut, Kamar Keluarga tahun ini akan melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana hasil IPO tersebut sebagian besar akan digunakan untuk menambah jaringan dibeberapa daerah.

Selain mendirikan kos sendiri, Kamar Keluarga sejatinya juga membuka peluang kepada para pemilik aset berupa tanah atau properti mengganggur untuk dijadikan produktif dan menghasilkan passive income.

"Sistemnya bagi hasil, Kamar Keluarga akan menjadikan lahan atau bangunan tidak produktif menjadi kamar kos atau hunian co-living. Nantinya pemilik akan mendapat uang sewa jangka panjang 10 tahun hingga 25 tahun," ujar Charles.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lifestyle

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top