Terbitkan Buku, Ini Transformasi Ahok Selama Dipenjara

Layaknya manusia biasa yang memiliki rasa khawatir dan cemas. Hal itu dirasakan Ahok saat berada di balik jeruji besi. Sesak. Marah sempat muncul di dalam pikiran.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 17 Februari 2020  |  15:42 WIB
Terbitkan Buku, Ini Transformasi Ahok Selama Dipenjara
Basuki Tjahja Purnama alias Ahok luncurkan buku dan gelar Ngobrol dengan tema Titik Balik dari Penjara, Senin (17/2/2020) di Ruang dan Tempo. - Gloria K. Lawi

Bisnis.com, JAKARTA – Basuki Tjahja Purnama alias BTP, Komisari PT Pertamina (Persero) meluncurkan buku “Panggil Saya BTP: Perjalanan Psikologi Ahok Selama di Mako Brimob” yang merupakan catatan harian selama dipenjara 20 bulan di Mako Brimob yang mentransformasi dirinya.

Ahok menyatakan, selama berada di penjara, Ahok membeberkan telah menulis secara rutin setiap hari hingga mencapai 615 halaman. Secara total, lembaran tulisan tangan Ahok selama di penjara bahkan mencapai 620 halaman. Dia mengatakan buku ini mencerminkan perubahan perjalanan psikologi dari stress sampai tidak stres.

“Jadi ini dicocok-cocokkan itu ada kondisi saya kumat-tobat, jadi dikumpulkan per tanggal, dan ini ternyata cocok masuk psikologi positif,” ujar Ahok di Ruang dan Tempo, Senin (17/2/2020).

Dia menjelaskan, semua yang dia tulis dalam buku tersebut adalah perjalanan kejiwaan Ahok. Proses penulisan dilakukan Ahok setelah terinspirasi dari sebuah buku yang diberikan salah seorang rekannya yang datang berkunjung selama dipenjara. Judul buku tersebut adalah ‘I Am Doing My Best’.

“Buku itu membantu saya, kalau saya tak temukan solusi dalam hidup, saya bisa menabrakkan kepala ke tembok, bangun jam 11,” kata Ahok.

Dia menjelaskan pada awalnya berada di penjara, Ahok sempat merasakan sakit dada. Dia pun sempat cemas terkena serangan jantung. Maklum saja, saat awal masuk penjara usai keputusan kasus penistaan agama hingga berujung demonstrasi 212, Ahok kerap dihantui rasa marah.

Ahok lantas mengikuti saran para narapidana dan sipir yang menganjurkan dia berobat ke dokter. Namun karena gengsi dan tak mau menggegerkan publik, Ahok pun menolak. Akhirnya, Ahok pun mengikuti saran sipir untuk berolahraga dengan lari keliling Mako Brimob dengan luas 60 hektare itu. Sayangnya, kerap kali pikiran negatif masih menghantui Ahok meski sudah rutin melakukan olahraga.

“Saya sehabis marah juga kadang masih marah. Saya tak terima diperlakukan begini. Namun saya mulai mengerti, untuk belajar memaafkan, saya tulis semua,” sambungnya.

Ahok juga menceritakan masa-masa dimana dia diliputi rasa penasaran pada suasana di luar Mako Brimob. Hal itu terlintas dalam pikiran Ahok setiap kali menerima kunjungan dari rekan-rekan dan pendukungnya yang membawa McDonalds. Dia pun kerap berandai-andai dan berimajinasi soal seberapa besar luas McDonalds yang makanannya selalu dikirimkan oleh Ahok.

“Akhirnya saya sadar, dalam tahanan, kita tak perlu memikirkan apa yang tidak bisa kita dapatkan. Kita bayangkan saja, yang bisa kita dapatkan,” ujarnya.

Ahok menambahkan, perjalanan psikologisnya yang menjadi psikologi positif adalah upaya melihat kesulitan dan masalah menggunakan perspektif yang benar adalah perspektif iman yakni Allah.

“Perspektif Allah adalah kebenaran, dan kebenaran adalah Allah. Kita refleksikan sesuai agamanya,” jelasnya.

Sejumlah tokoh hadir dalam peluncuran buku antara lain; Djarot Saiful Hidayat mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Taufik Effendi yakni Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2009, dan Chairman Jababeka Group Setyono Djuandi Darmono.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
buku, ahok

Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top