Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

3 Jenis Serangan Jantung Koroner

Serangan jantung, juga dikenal sebagai infark miokard, terjadi ketika penyumbatan berkembang di arteri koroner dan membatasi aliran darah ke jantung.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 18 Februari 2020  |  09:22 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Serangan jantung, juga dikenal sebagai infark miokard, terjadi ketika penyumbatan berkembang di arteri koroner dan membatasi aliran darah ke jantung.

Penyumbatan terjadi ketika lemak, kolesterol, dan zat lain menumpuk, membentuk endapan yang disebut plak di pembuluh darah. Plak-plak ini dapat menjadi rusak seiring waktu dan dapat melepaskan trombosit.

Trombosit dapat menyebabkan darah membeku. Mereka mungkin terkumpul di sekitar plak, yang akhirnya menghalangi aliran darah.

Dengan membatasi aliran darah, penyumbatan ini dapat merusak otot jantung. Tingkat keparahan kerusakan akan tergantung pada ukuran penyumbatan. Ketika darah tidak mencapai segmen jantung yang signifikan, kerusakan akan lebih luas.

Henti jantung sering disalahartikan sebagai serangan jantung. Namun, serangan jantung terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti bekerja.
Jenis

Serangan jantung terjadi dari salah satu jenis penyakit arteri koroner berikut ini seperti dikutip dari medicalnewstoday.com :

STEMI

Serangan jantung STEMI parah dan membutuhkan perhatian segera.

Serangan-serangan ini terjadi ketika arteri koroner tersumbat sepenuhnya, mencegah darah mencapai area jantung yang luas. Ini menyebabkan kerusakan progresif pada otot jantung, yang pada akhirnya dapat menghentikan fungsinya.

NSTEMI

Serangan jantung NSTEMI terjadi ketika arteri koroner tersumbat sebagian dan aliran darah sangat terbatas. Meskipun mereka kurang berbahaya daripada serangan jantung STEMI, mereka dapat menyebabkan kerusakan permanen.

Kejang arteri koroner

Kejang ini juga disebut serangan jantung diam atau angina tidak stabil. Mereka terjadi ketika arteri yang terhubung dengan jantung berkontraksi, mencegah atau membatasi aliran darah ke jantung.

Gejalanya tidak menyebabkan kerusakan permanen, dan gejala-gejalanya tidak separah dari jenis penyakit arteri koroner lainnya.

Dimungkinkan untuk keliru spasme arteri koroner untuk kondisi minor, seperti gangguan pencernaan. Namun, kejang arteri koroner dapat meningkatkan risiko serangan jantung yang lebih parah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

serangan jantung Ashraf Sinclair

Sumber : medicalnewstoday

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top