Perjuangan Memperkenalkan Alat Musik Sasando asal NTT

Di tengah era digital, musisi lokal khususnya etnis kini memiliki pekerja rumah yang besar untuk memupuk rasa cinta anak muda terhadap musik daerah hingga memperkenalkan alat musik asal daerah.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  11:17 WIB
Perjuangan Memperkenalkan Alat Musik Sasando asal NTT
Musisi neotradisional Gilang Ramadhan (dari kiri), Ivan Nestorman, dan Gazpar Araja saat tampil dalam acara Kamisantuy di kantor redaksi Bisnis Indonesia, Jakarta, Kamis (27/2/2020). Meski perjuangan musik daerah (etnis) untuk menembus pasar nasional terbilang berat, namun Gilang dan Nestroman secara konsisten tetap membawakan aliran musik dengan tradisi dan bahasa lokal itu melalui grup Nera, dan berharap musik etnis dikenal dengan skala yang lebih luas. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Pemuda asal Flores, Gazpar Araja berjuang keras untuk mempromosikan alat musik tradisional di tengah disrupsi budaya asing penuh dengan tantangan. 

Pria yang akrab disapa Gazpar, mengaku berjuang sendiri dalam mengenalkan sasando, alat musik khas Rote, untuk bisa diterima masyarakat secara luas. Baginya, dibutuhkan sikap konsisten dan waktu yang banyak untuk memperkenalkan alat musik dari daerahnya.

"Susah, enggak ada yang support. Luangkan waktu sendiri, promosi di medsos sendiri," ujarnya saat mengunjungi Kantor Bisnis Indonesia, Kamis (28/2/2020).

Dia mengatakan generasi milenial  kurang mencintai alat musik tradisional, juga kebudayaan seperti tarian dan berpakaian. Era digital ini, membuat anak muda, termasuk juga pemuda-pemudi asal Flores menyukai musik kebarat-baratan.

Saat kepedulian kaum muda akan musik daerah sangat minim, pemerintah kurang memberikan dorongan dan gebrakan baru untuk meningkatkan kecintaan anak muda terhadap musik etnis. Walakin, Gazpar mempromosikan sasando lewat media sosial, yang banyak digunakan anak muda.

"Selama ini saya cukup gencar promosi di medsos, tetapi tanggapan begitu saja. Tidak yang memanggil saya dan mengajak diskusi untuk mempertahankan musik tradisional," imbuhnya.

Alat musik sasando asal Rote, Nusa Tenggara Timur./Novita Sari Simamora

Kendati demikian, Gazpar mengaku tetap semangat untuk memperjuangkan sasando yang dicintainya sejak 2011 dan terinspirasi dari seniornya, Ivan Nestorman. Dia mengakui untuk menguasai sasando memang cukup sulit lantaran alat musik ini memiliki 32 dawai yang mengelilingi bambu.

Namun suara yang dihasilkan membuat dia terus bersemangat untuk bisa menaklukkannya. Kini Gazpar sering menggelar workshop bagi anak-anak sekolah untuk belajar sasando. Sebab, alat musik tradisional yang biasa dikenalkan di sekolah mayoritas angklung dan kolintang. Dia juga membuka les privat untuk sasando.

"Banyak yang suka. Kaget juga ternyata sasando bunyinya kaya gini. Alat musik tradisional tapi bisa memainkan lagu modern. Mereka antusias," sebutnya.

Rencananya pada tahun ini, Gazpar sedang menyiapkan album instrumen. Album tersebut berisi sekitar 5-6 lagu. "Itu lagu saya sendiri. Ada voice Flores tapi 90 persen instrumen," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
musik, musisi

Editor : Novita Sari Simamora
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top