Adaptasi Bisnis dan Strategi dalam Perubahan Trend Kedai Kopi

Dalam beberapa tahun terakhir, industri kopi bertumbuh dengan pesat dan sukses membuka berbagai market dan peluang baru. Untuk itu dalam BrewFest 2020, Toffin mengadakan business discussion “CEO Talk” The Coffee Industry is Changing : How Will your Business Adapt? yang membahas mengenai perubahan industri kopi dan upaya untuk beradaptasi.
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  13:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Dalam beberapa tahun terakhir, industri kopi bertumbuh dengan pesat dan sukses membuka berbagai market dan peluang baru. Untuk itu dalam BrewFest 2020, Toffin mengadakan business discussion “CEO Talk” The Coffee Industry is Changing : How Will your Business Adapt?  yang membahas mengenai perubahan industri kopi dan upaya untuk beradaptasi. Ada lima isu utama yang akan dibahas yaitu business performance, business expansion, managing people dan environment issue.

CEO Talks, menghadirkan berbagai pembicara handal seperti Mehdi Zaidi (CEO of Maxx Coffee), William Sutanto (Direktur Jiwa Group), James Prananto (COO & Co-founder of Kopi kenangan), Jason Leo (Founder of Ombe Kofie), dan Evani Jesslyn (CEO of First Crack Coffee) yang dipandu oleh Adrian Maulana sebagai moderator.

Business Performance

Kelimanya merupakan pemain besar di industri ini. Kopi Kenangan dan Kopi Janji Jiwa menguasai pasar kopi to go. Saat ini Kopi Kenangan memiliki 250 gerai dan Janji Jiwa mencapai 700 outlet. Sementara First Crack Coffee dan Ombe Kofie menjadi kedai kopi yang menjadi patokan trend coffee specialty, masing-masing saat ini memiliki 4 dan 5 kedai. Dari sisi big chain coffee shop diisi oleh Maxx Coffee yang sudah memiliki 80 cabang.

Diskusi dibuka dengan besarnya potensi pasar di Indonesia, menurut James saat ini 80% orang Indonesia mengonsumsi minuman kopi sachet. “Kemunculan kopi to go membuat pergeseran konsumsi karena mereka bisa merasak kopi berkualitas dengan harga terjangkau. Orang yang suka instan akan berpindah menjadi pengonsumsi fresh brewed coffee,” jelasnya.

Ia juga membandingkan kedai kopi Starbucks di Jepang yang bisa mencapai 1400 kedai dengan jumlah penduduk hanya 126 juta. Sementara di Indonesia, dengan 264 juta penduduk kedai kopi asal Amerika tersebut baru memiliki 400 kedai.

“ini berarti peluang pasar masih terbuka lebar untuk berbagai jenis kedai kopi lainnya,” ujar James lagi. Hal ini juga diamini oleh Mehdi, menurutnya Indonesia, khususnya Jabodetabek masih memiliki potensi pertumbuhan kedai kopi, meskipun pasar terlihat jenuh, namun kota-kota yang menjadi pusat tempat tinggal penduduk dan bisnis ini rupanya menjadi medan magnet yang kuat bagi para pecinta kopi.

Business Expansion

Hasilnya inovasi, strategi, dan tren terbaru kopi, lahir di kota-kota ini. Sebuat saja kelahiran kedai kopi to go seperti Janji Jiwa dan Kopi Kenangan yang menyasar pasar kelas menengah. “Pertumbuhan income kelas menengah dan penggunaan internet menjadi kesempatan bagi kami untuk mengisi kekosongan kebutuhan ngopi fresh brewed coffee dengan harga terjangkau,” jelas William.

Untuk menekan harga, para pelaku kedai kopi to go melakukan berbagai strategi, baik offline maupun online. Misalnya dengan memotong jalur supply chain, memanfaatkan promosi e-wallet, menggunakan konsep Grab & Go, mengikuti tren, dan kolaborasi.

Seperti Kopi Kenangan yang ikut terjun dalam tren minuman boba. Diakui James, Kopi Kenangan selalu berupaya untuk tetap head of the game. Hasilnya Susu Boba Gula Aren menjadi top three penjualan, dan posisi pertama masih dipegang Kopi Kenangan Mantan.

Di sisi lain, Kopi Janji Jiwa berfokus pada strategi kolaborasi dalam menghadapi persaingan pasar. Mereka menggandeng Influencer dan brand untuk melakukan kerjasama unik dalam melebarkan pangsa pasar. “Kami berfokus pada kolaborasi karena para influencer dan brand ini memiliki target pasar yang sama dengan Kopi Janji Jiwa. Kami pernah bekerjasama dengan juara IBC 2017, Muhammad Aga untuk menggaet target market para pecinta kopi,” jelas William.

Berkat berbagai kolaborasi ini, nama Janji Jiwa menjadi tren di sosial media, sehingga mereka berhasil mendapatkan penghargaan Toffin X Zomato di kategori Best Social Media Engagement 2020 dan Favorite Coffee Shop 2020.

Managing People

Berbagai kesuksesan ini, tidak membuat kedai kopi spesialti berkecil hati, mereka justru tumbuh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Edukasi, idealisme, kualitas rasa, dan riset pasar menjadi kunci utama dalam mendirikan kedai.

Agar menarik, keempatnya dibalut secara kreatif, First Crack Coffee dengan keunikan menu seperti Coffee Coconut Gayo. Layaknya Evani yang hanya menyajikan kopi terbaik dengan 3B: Best bean, Best Barista, Best match, sehingga kualitas dan rasa kopi yang tersaji tetap terjaga.

Ia juga rutin mengadakan kelas coffee cupping demi mengasah sensory skill para petani, dan roastery. Panca indera hidung dan lidah harus sering dilatih agar bisa membedakan rasa kopi, dengan begitu mereka bisa membedakan rasa dan kualitas kopi terbaik. Meskipun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : Media Digital
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top