Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ilmuwan: Mutasi Covid-19 Lebih Lambat dari Virus Influenza

Ahli yang melacak penyebaran virus penyebab Covid-19 tersebut menyimpulkan bahwa mutasi virus tersebut lebih lambat daripada virus pernapasan lainnya, contohnya influenza.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  13:06 WIB
Petugas Kesehatan memeriksa suhu tubuh rombongan siswa penumpang angkutan darat saat transit di Terminal Mamboro, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (24/3/2020). Pemerintah Sulawesi Tengah memperketat pintu keluar dan masuk daerah tersebut dengan memeriksa kesehatan setiap warga yang melintas guna mengantisipasi penyebaran virus Corona (COVID-19). - ANTARA/Mohamad Hamzah
Petugas Kesehatan memeriksa suhu tubuh rombongan siswa penumpang angkutan darat saat transit di Terminal Mamboro, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (24/3/2020). Pemerintah Sulawesi Tengah memperketat pintu keluar dan masuk daerah tersebut dengan memeriksa kesehatan setiap warga yang melintas guna mengantisipasi penyebaran virus Corona (COVID-19). - ANTARA/Mohamad Hamzah

Bisnis.com, JAKARTA - Secercah harapan kembali muncul di tengah pandemi virus Corona jenis baru atau Covid-19. Ahli yang melacak penyebaran virus penyebab Covid-19 tersebut menyimpulkan bahwa mutasi virus tersebut lebih lambat daripada virus pernapasan lainnya, contohnya influenza.

Dikutip dari Business Insider, Kamis (26/3/2020), lambatnya laju mutasi SARS CoV-2--virus yang menyebabkan pandemi Covid-19--memiliki dua implikasi, yaitu virus tersebut tidak mungkin menjadi lebih berbahaya karena terus menyebar.

Hal tersebut juga berarti bahwa pemberian vaksin terhadap manusia bisa efektif menangkal virus tersebut dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, pemberian vaksin tersebut dilakukan sekali seumur hidup layaknya vaksin campak atau cacar air. Bukan seperti vaksin influenza yang harus diberikan setiap rentang waktu tertentu.

Peter Thielen, ahli genetika molekuler di Johns Hopkins University, mengatakan bahwa analisis terhadap 1.000 sampel berbeda mengungkapkan hanya ada 4 hingga 10 perbedaan genetik antara virus yang telah menginfeksi orang di AS dan virus asli yang menyebar di Wuhan, China.

"Pada titik ini, tingkat mutasi virus akan menunjukkan bahwa vaksin yang dikembangkan untuk SARS CoV-2 akan menjadi vaksin tunggal, bukan vaksin baru setiap tahun seperti vaksin flu," kata Thielen.

Lebih lanjut, Thielen menjelaskan semua virus akan bermutasi seiring waktu. Ketika mereka mereplikasi diri, kesalahan kecil terus-menerus dimasukkan ke dalam kode genetik virus, dan kemudian menyebar melalui populasi virus.

Mutasi-mutasi seperti itu memecah virus menjadi jenis-jenis yang berbeda, tetapi cenderung tidak mempengaruhi seberapa menular virus itu atau bagaimana penyebarannya.

Andrew Rambaut, seorang ahli biologi evolusi molekuler di Universitas Edinburgh mengatakan kepada Science bahwa SARS-CoV-2 mengakumulasi rata-rata sekitar satu hingga dua mutasi per bulan.

"Ini sekitar dua hingga empat kali lebih lambat dari flu," katanya.

Adapun Trevor Bedford, seorang ilmuwan di Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson, sebelumnya menyebut bahwa virus influenza bermutasi setiap 10 hari.

Sebagian besar mutasi itu tidak penting, tulisnya di Twitter, tetapi kadang-kadang orang akan muncul yang merusak kekebalan masyarakat terhadap flu.

"Itu sebabnya kita harus mendapatkan suntikan flu baru setiap tahun, dan juga mengapa vaksin flu tidak selalu 100 persen berpengaruh," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top