Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cara Menghilangkan Stres Selama Pandemi Virus Corona

Komunikasi yang baik dengan keluarga dan rekan-rekan kerja menjadi solusi untuk mengatasi stres selama pandemi virus Corona (Covid-19).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 13 April 2020  |  14:55 WIB
Ilustrasi - Hooplaha
Ilustrasi - Hooplaha

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah pandemi virus Corona baru (Covid-19), setiap orang harus taat pada pembatasan sosial, yang berdampak pada tekanan kesehatan mental.

Psikolog dari Unika Atma Jaya Eunike Sri Tyas Suci menjelaskan pembatasan sosial berskala besar yang sekarang ditetapkan oleh pemerintah sangat berpotensi untuk memicu tekanan kesehatan mental.

“Saya merekomendasikan agar seorang tetap terhubung dengan rekan, keluaraga, teman dari lingkungan pergaulan kita,” ujar Tyas dikutip dari siaran pers, Senin (13/4/2020).

Berdasarkan anjuran yang dikeluarkan Association Psychology American dan American Psychiatric Association, Tyas merekomendasikan beberapa hal sederhana agar seseorang terhindar dari stress selama masa #WFH dan memberikan energi.

Pertama, stay connected. Tetap terkoneksi secara sosial dengan teman-temen. Gawai kini amat memudahkan manusia modern untuk terhubung dengan sesamanya.

“Bangun komunikasi untuk mendiskusikan hal-hal baik dan membangun energi dan tidak melulu mengenai pademi,” jelas Tyas.

Kedua, batasi informasi mengenai corona. Dia menilai, informasi yang membanjiri group WhatsApp sering membuat masyarakat tidak bisa memilah berita yang benar sehingga membuatnya menjadi stres dan cemas.

Tyas merekomendasikan kita untuk pilah berita dari paltfom berita tertentu dan batasi waktu konsumsi berita. “Cukup dua kali dalam satu hari,” sambungnya.

Ketiga, ikuti saran dari WHO. Tyas menilai kalau situasi ini menjadi suatu kesempatan yang baik bagi keluarga di Indonesia. Budaya komunal, atau budaya bersama-sama, yang kental dalam keluarga dan masyarakat Indonesia seharusnya membuat kita tidak kesulitan untuk tetap betah tinggal di rumah dan berinteraksi dengan keluaraga.

“Saya berharap dengan budaya komunal menjadi kekuatan untuk keluarga Indonesia untuk bisa tetap di rumah,” tutup Tyas.

Tyas yang juga merupakan Ketua Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia ini menjelaskan kini work from home kini menjadi fenomena baru yang disebut the new normal. Ke depan, akibat Covid-19 diprediksi akan mengembangkan tren baru dimana orang sudah mulai “beradaptasi” dengan pola rutin #stayathome yang sudah hampir satu bulan terkahir dijalani.

“Dengan adanya Covid-19 kita mencoba untuk beradaptasi dengan kewajaran baru (new normal. Sebelumnya ketika bertemu orang normal untuk saling bersalaman kini normalnya tidak salaman,” tuturnya.

Dia menilai, setelah hampir empat minggu ini harusnya masyarakat sudah mulai dengan terbiasa dengan kebiasaan dan norma baru. Dia pun melihat bahwa kita mengikuti sebuah transisi baru prilaku masyarakat yang awalnya panik luar biasa sekarang masuk minggu kelima terbiasa dengan tren yang begitu saja.

“Saya berharap sekarang ini keluarga-keluarga sudah mulai teradaptasi dengan gaya hidup baru ini, stay at home ini,” ungkapnya.

Tyas meyakini masa karantina saat ini bisa menjadi suatu kesempatan baik untuk memperbaiki hubungan keluarga yang mungkin sempat memudar atau renggang karena mobilitas harian yang tinggi, khususnya bagi keluarga di kota metropolitan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stres kesehatan jiwa tips bahagia Work From Home
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top