Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jalan Panjang Pengembangan dan Distribusi Vaksin Corona

Menemukan vaksin virus corona tak cukup untuk mengakhiri pandemi virus Corona (Covid-19), tetapi distribusi global harus menjadi perhatian penting.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 12 Mei 2020  |  17:00 WIB
Seorang peneliti bekerja di laboratorium pusat pencegahan dan pengendalian penyakit di Nanyang, Provinsi Henan, China tengah, pada 4 Februari 2020. - Antara/Xinhua
Seorang peneliti bekerja di laboratorium pusat pencegahan dan pengendalian penyakit di Nanyang, Provinsi Henan, China tengah, pada 4 Februari 2020. - Antara/Xinhua

Bisnis.com, JAKARTA – Johnson & Johnson tengah menyiapkan produksi satu miliar dosis vaksin virus corona baru (Covid-19) di pabrik bioteknologi dekat Interstate 95 di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat.

Akan tetapi, ketika para teknisi itu bersiap menurunkan 1.000 liter kantong plastik bahan ke dalam tangki baja untuk menyeduh batch pertama dari vaksin eksperimental, kekhawatiran international terus bergelora tentang apa yang akan dihasilkan dari inokulasi pertama itu.

Pabrik di Baltimore adalah yang kedua dari empat lokasi yang direncanakan untuk Johnson & Johnson menghasilkan vaksin berskala besar di seluruh dunia. Ini merupakan langkah besar untuk melindungi populasi manusia dari virus yang diperkirakan tidak akan hilang dengan sendirinya.

Jika SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Covid-19 menetapkan dirinya sebagai virus endemik yang keras kepala seperti halnya influenza, para ahli mengatakan bahwa hampir pasti tidak akan ada cukup vaksin untuk setidaknya beberapa tahun ke depan.

Lebih jauh lagi, para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar 70 persen populasi dunia atau sekitar 5,6 miliar orang mungkin perlu diinokulasi untuk mulai membangun kekebalan tubuh yang dapat memperlambat penyebaran virus.

Namun, prioritas nasionalistik masing-masing negara dapat menggagalkan keharusan strategis untuk meredakan titik-titik ‘panas’ penyebaran virus, termasuk negara-negara miskin yang mungkin tidak mampu membayar untuk vaksin.

Skenario terburuk yang ditakutkan para ahli kesehatan masyarakat adalah pertarungan di seluruh dunia, di mana para produsen hanya menjual vaksin kepada penawar tertinggi. Misalnya, negara-negara kaya mencoba membeli persediaan dan negara produsen yang menimbun vaksin untuk warga negaranya sendiri.

“Model negara yang hanya memikirkan diri sendiri ini tidak akan berhasil. Bahkan jika Anda tinggal di suatu tempat yang entah bagaimana tidak ada infeksi, upaya terbaik untuk melawan virus akan gagal kecuali Anda menutup semua perbatasan,” kata Set Berkley, CEO Gavi seperti dikutip Washington Post, Selasa (12/5/2020).

Para pendukung kesehatan internasional ingin menghindari terulangnya kejadian pada 2009, ketika negara-negara kaya berada di garis depan untuk mendapatkan vaksin flu babi H1N1, tetapi meninggalkan negara-negara miskin dengan hanya sedikit persediaan vaksin.

Pendekatan semacam itu akan sangat diuji dengan kepemimpinan yang saat ini dipegang oleh Donald Trump dan para pemimpin dunia lainnya yang memiliki impuls nasionalistis, dan populasi yang cemas dengan kesehatan dan ekonomi mereka.

Di Amerika Serikat, badan pemerintahan federal yang bertanggung jawab atas pengembangan vaksin darurat telah mengindikasikan bahwa hal itu akan diperuntukkan atau diprioritaskan untuk perhatian dalam negeri.

“Saat ini, kami fokus pada pendekatan seluruh Amerika yang diperlukan untuk mempercepat ketersediaan vaksin, kata Gary Disbrow, pejabat di Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) kepada The Washington Post.

BARDA bertugas melindungi warga Amerika Serikat dari ancaman biologis. Mereka menyalurkan hampir setengah miliar dolar dana darurat kepada Johnson & Johnson untuk mengembangkan vaksin dari penyakit pandemi ini.

Mereka juga menyediakan ratusan juta dolar dalam bentuk dukungan keuangan untuk upaya pengembangan vaksin oleh Sanofi, perusahaan obat besar di Prancis. Terlibat juga dalam pengembangan vaksin dari Moderna, perusahaan biotek di Massachusetts.

“Melalui kerja sama dengan banyak perusahaan, kami memiliki lebih banyak harapan terhadap ‘tembakan yang tepat sasaran’ untuk meningkatkan peluang bahwa AS akan memiliki satu atau lebih vaksin tersedia secepat mungkin,” imbuh Disbrow.

Saat ini, lusinan perusahaan besar dan kecil bergegas mengembangkan vaksin menggunakan berbagai teknologi dan pendekatan. Avalere Heath, sebuah perusahaan konsultasi farmasi telah melacak setidaknya ada 120 proyek vaksin yang disponsori oleh pemerintah, universitas, lembaga nirlaba, dan perusahaan swasta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

vaksin Virus Corona
Editor : Novita Sari Simamora

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top