Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Dampak Buruk Hand Sanitizer Terhadap Kesehatan

Para ahli mengatakan masyarakat perlu menghindari hand sanitizer yang kandungan alkoholnya tidak sesuai, kadaluwarsa, atau bila perlu lebih baik menggunakan air dan sabun.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 26 Juni 2020  |  19:13 WIB
Penumpang menggunakan antiseptik atau hand sanitizer di Halte Harmoni, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Penumpang menggunakan antiseptik atau hand sanitizer di Halte Harmoni, Jakarta, Selasa (3/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Penggunaan hand sanitizer ternyata tidak selamanya baik. Salah kandungan, bisa-bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Contohnya saja beberapa waktu lalu produk pembersih tangan yang diproduksi oleh perusahaan Eskbiochem SA de CV di Meksiko, mengandung metanol kimia beracun. Kandungan tersebut menyebabkan efek mengantuk, pusing, sakit kepala, mual, muntah, dan kebingungan, jika tertelan atau diserap kulit.

Namun, itu bukan satu-satunya pembersih tangan berisiko. Para ahli mengatakan perlu menghindari hand sanitizer yang kandungan alkoholnya tidak sesuai, kadaluwarsa, atau bila perlu lebih baik menggunakan air dan sabun saja.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) sudah memperingatkan jangan membeli hand sanitizer yang dibuat dengan metanol, sejenis alkohol yang biasanya digunakan untuk industri dan ditemukan dalam produk seperti perekat, pengencer cat, dan antibeku. Setiap produk dengan metanol lebih dari 4% harus diberi label "racun" di AS.

Varietas alkohol yang lebih aman untuk hand sanitizer yakni alkohol isopropil (gosok) atau etil (digunakan dalam bir, anggur, dan alkohol), tetapi kandungan yang dianjurkan setidaknya 60 persen untuk membunuh kuman.

"Intinya adalah bahwa alkohol adalah bahan aktif," ujar Miryam Wahrman, seorang profesor biologi di William Paterson University dan penulis The Hand Book: Surviving in a World-Filled World, dilansir dari Insider, Jumat (26/6/2020)

Jika membuat hand sanitizer sendiri dengan mencampurkan alkohol isopropil, yang sering dijual dalam larutan 70 persen, dengan lidah buaya, takarannya harus pas jangan sampai di bawah 70.

Namun Wahrman mengingatkan hand sanitizer apa pun yang dibuat menggunakan alkohol standar dari minuman keras tidak akan mencukupi karena tidak efektif membunuh kuman. Pabrik penyulingan yang memproduksi hand sanitizer pun selama ini menggunakan etil alkohol, bukan minuman keras yang sudah jadi.

Penting untuk memeriksa tanggal produksi hand sanitizer ketika hendak membeli di toko. Jika tanggal produksi lebih dari tiga tahun, sebaiknya jangan dibeli karena seiring waktu konten alkohol di kemasan tersebut menurun.

Alex Berezow, ahli mikrobiologi dan Wakil Presiden Komunikasi Ilmiah di American Council on Science and Health, menerangkan memang mencuci tangan dengan sabun dan air adalah cara terbaik. Hand sanitizer hanya membunuh sebagian besar kuman tetapi tidak menghilangkannya dari kulit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alkohol Virus Corona hand sanitizer
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top