Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Membawa Indonesia di Panggung International dengan Konsep Multifunctional Modest Wear

Istilah modest fashion sendiri tidak tanya digunakan untuk muslimah, namun juga digunakan untuk fashion yang menutupi lekuk tubuh atau tidak menonjolkan bentuk tubuh
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 28 Agustus 2020  |  11:59 WIB
Koleksi Rosie Rahmadi
Koleksi Rosie Rahmadi

Bisnis.com, JAKARTA - Trend Modest Fashion atau pakaian ‘sopan’ dan tertutup memperlihatkan kenaikan minat yang sangat pesat dalam beberapa tahun belakangan.

Istilah modest fashion sendiri tidak tanya digunakan untuk muslimah, namun juga digunakan untuk fashion yang menutupi lekuk tubuh atau tidak menonjolkan bentuk tubuh. Peminatnya pun tidak terbatas hanya untuk penganut agama tertentu tetapi lebih luas lagi. 

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, memiliki kebutuhan terhadap pakaian modest yang sangat tinggi. Akan tetapi hal tersebut tidak diimbangi dengan  kesadaran dan edukasi mengenai pakaian yang berkelanjutan. Di balik geliat industri fashion tersebut, terdapat masalah besar di belakangnya yaitu limbah fashion yang perlu mendapatkan perhatian lebih. 

“Di tengah pandemi, dunia fashion diharapkan mengambil perubahan ke arah yang lebih sustainable dan  durable.  Fashion designer sebagai satu bagian yang penting dalam dunia mode memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mengubah pola pikir masyarakat.” ujar Rosie Rahmadi, salah satu desainer modest fashion Indonesia dalam siaran persnya.

Mengacu kepada penelitian terbaru, Industri fashion merupakan industri yang menghasilkan limbah yang terbesar di bandingkan lainnya. Lebih khusus lagi di modest fashion, yang  membutuhkan kain yang lebih banyak dalam produksinya karena terkait dengan konsep modest fashion itu sendiri yaitu loose, comfortable, dan covering. 

Terinspirasi dari konsep Rahmatan Lil Alamin, Rosie Rahmadi mengusung koleksi “Kalopsia”  pada Global Talent Digital 2020 yang diadakan ole Russia Fashion Council. Ia merupakan satu dari lima desainer Indonesia yang berhasil lolos  kurasi dan ikut serta dalam virtual fashion show acara tersebut. Pada acara tersebut, 

Kalopsia  diambil dari istilah Yunani yang berarti khayalan di mana segala sesuatu tampak lebih indah dari yang sebenarnya.

“Dan itulah yang saya rasakan tentang fashion. Seperti sebuah delusi yang Indah di depan, tetapi di balik itu semua ada sesuatu yang sangat mendesak untuk mengurangi  konsumerisme berlebihan dan impact limbah fashion yang begitu banyak” Ungkap desainer yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai Desainer of The Year di Bali Fashion Week 2019 ini.

Kalopsia terilhami dari konsep boneka kertas yang seringkali ia mainkan di masa kecilnya.

“Dulu, aku suka main mix and match boneka kertas. Kita jadi lebih kreatif menciptakan berbagai gaya baru dengan satu atau beberapa item” tambahnya.

Menurut penelitian, kebanyakan dari orang hanya menggunakan 6-38% dari wadrobe yang mereka miliki. Penelitian lain juga menyebutkan maksimal seseorang menggunakan hanya 50% dari wadrobe yang dimiliki. Kebanyakan orang merasa pakaian yang dimilikinya tidak lagi up to date dengan trend yang ada, bahan yang kurang nyaman digunakan karena kulitas bahan yang kurang baik, atau karena perubahan bentuk badan karena naiknya berat badan, menurunnya berat badan, hamil, dan lain-lain.

“Multifungsional wardrobe menjawab problem itu. Kenapa? Karena dalam multifungsional desain pakaian dibuat timeless sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama Tanpa terikat dengan trend dalam waktu tertentu.” tambahnya

Multifungsi merupakah salah satu strategi konsep sustainable yang mampu membuat sebuah pakaian dapat memiliki fungsi dan style yang berbeda beda sehingga memberikan daur hidup pakaian yang lebih panjang. Dengan demikian, pengguna diharapkan tidak cepat jenuh dengan produk dan otomatis menunda pembuangannya. 

“Jadi sama halnya dengan konsep boneka kertas saat kecil dulu, satu item yang kita gunakan bisa distyling sedemikian rupa dan dapat digunakan untuk berbagai gaya dan suasana” ujar desainer yang dikenal dengan sentuhan hand touch  dalam koleksinya seperti makrame, sulam, atau aksen kepang ini. 

Kalopsia menggunakan warna warna dengan tone natural dengan bahan utama linen, katun dan viscose, serta tetap konsisten dengan kenyamanan siluet A line & H line sebagai ciri khasnya. Beberapa item makrame sengaja didesain bisa dilepas pasang dengan pakaian lain untuk memberikan kesan yang unik. Koleksi ini terdiri dari beberapa item seperti atasan, tunik, palazzo, outer dan dress yang masing-masing bisa berganti fungsi.

“Diharapkan dari Kalopsia ini dapat memberikan inspirasi dan manfaat, bagaimana ketika kita kreatif tidak perlu memiliki banyak pakaian, cukup beberapa helai saja tetapi sangat fungsional untuk berbagai kesempatan sehingga konsumsi atas fashion bisa lebih bertanggung jawab” tutupnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

desainer fashion
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top