Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tembakau Sebabkan 20 Persen Kematian Pasien Jantung Koroner

Pengendalian tembakau menjadi kunci untuk mencegah sekaligus mengurangi penyakit jantung.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  16:06 WIB
Tembakau berkontribusi atas kematian pasien jantung koroner. - ilustrasi
Tembakau berkontribusi atas kematian pasien jantung koroner. - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Perokok dan orang yang terpapar asap rokok memiliki risiko peningkatan sakit jantung koroner yang menyebabkan kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatatkan sebanyak 1,9 juta orang meninggal setiap tahun, karena penyakit jantung akibat tembakau. Ini adalah laporan singkat terbaru yang dirilis oleh WHO, Federasi Jantung Dunia dan Universitas Newcastle Australia.

Angka kematian ini setara dengan satu dari lima kematian akibat penyakit jantung. Laporan tersebut juga memperingatkan kepada semua pengguna tembakau untuk berhenti guna mencegah serangan jantung.

Seperti dikutip dari website resmi WHO, Kamis  (1/10/2020) menekankan bahwa perokok lebih mungkin mengalami kejadian kardiovaskular akut pada usia yang lebih muda daripada orang-orang yang tidak merokok.

Penyakit jantung koroner bisa muncul saat mengisap beberapa batang rokok sehari, sesekali merokok, atau terpapar asap rokok orang lain. Namun perokok segera mengambil tindakan dan berhenti, maka risiko penyakit jantung akan menurun hingga 50 persen setelah satu tahun tidak merokok.

“Tembakau dan kesehatan kardiovaskular sangat berkaitan. Gagal menawarkan layanan berhenti merokok kepada pasien dengan penyakit jantung dapat dianggap sebagai malpraktek klinis atau kelalaian,” ungkap Eduardo Bianco, Ketua Kelompok Pakar Tembakau Federasi Jantung Dunia.

Eduardo mengungkapkan bahwa perhimpunan kardiologi harus melatih anggotanya dalam berhenti merokok, serta mempromosikan dan bahkan mendorong upaya advokasi pengendalian tembakau

Laporan singkat tersebut juga menunjukkan bahwa tembakau tanpa asap bertanggung jawab atas sekitar 200.000 kematian akibat penyakit jantung koroner per tahun. Selain itu, rokok elektrik juga meningkatkan tekanan darah sehingga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Sebuah survei WHO baru-baru ini menemukan bahwa di antara orang yang meninggal karena Covid-19 di Italia, sebanyak 67 persen memiliki tekanan darah tinggi dan di Spanyol, 43 persen orang memiliki penyakit jantung dan terinfeksi Covid-19.

“Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melindungi kesehatan rakyatnya dan membantu membalikkan epidemi tembakau. Menjadikan komunitas bebas rokok mengurangi jumlah pasien masuk rumah sakit terkait tembakau, ”kata Dr. Vinayak Prasad, Pimpinan Unit WHO No Tobacco Unit.

Pengendalian tembakau adalah elemen kunci untuk mengurangi penyakit jantung. WHO merekomendasikan agar pemerintah membantu perokok berhenti dengan meningkatkan pajak atas produk tembakau, memberlakukan larangan iklan tembakau, dan menawarkan layanan untuk membantu orang berhenti merokok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tembakau who perokok iklan rokok bahaya merokok
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top