Ilustrasi cluster Blue Crystal Residence/www.summareconmutiara.com
Fashion

Hunian Ramah Lingkungan Kian Dicari

Rezha Hadyan
Selasa, 24 November 2020 - 08:20
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Gaya hidup ramah lingkungan atau eco living kini sudah menjadi kebutuhan masyarakat urban di Tanah Air lantaran diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, gaya hidup tersebut juga dipilih sebagai bentuk aktualisasi kepedulian terhadap berbagai permasalahan lingkungan yang muncul belakangan ini.

Hal tersebut tentunya ikut mempengaruhi preferensi masyarakat urban terutama kalangan milenial saat mencari hunian. Oleh karena itu, tak heran jika hunian berkonsep eco living dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan makin dicari belakangan ini.

Menurut Executive Director PT Serpong Cipta Kreasi (Summarecon Serpong) Magdalena Juliati, saat ini calon konsumen sangat selektif dalam memilih hunian. Mereka cenderung memilih hunian yang mengutamakan kenyamanan dan kualitas hidup lewat kehidupan sosial yang sehat, interaksi sosial yang hangat dan berbagai aktivitas menyenangkan lainnya.

Berangkat dari kecenderungan tersebut, anak usaha dari PT Summarecon Agung Tbk. itu akhirnya mengembangkan Rainbow Springs Condovillas. Dari keseluruhan lahan apartemen bertingkat rendah (low-rise apartment) itu, sebanyak 70 persen diantaranya diklaim sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dalam bentuk taman tematik dan berbagai fasilitas lainnya.

Tidak hanya itu, desain bangunan bertema modern tropical Rainbow Springs Condovillas juga diklaim ramah lingkungan lantaran memperhatikan sirkulasi udara dan pencahayaan alami.

“Aliran angin dan posisi matahari pun diperhatikan untuk menjamin sirkulasi udara dan cahaya alami pada setiap ruangan sehingga kriteria rumah yang sehat dan hemat energi capat dicapai,” kata Magdalena.

Dia menambahkan Rainbow Springs Condovillas juga menawarkan hunian yang berdampingan langsung dengan alam. Lokasi dari apartemen tersebut dikelilingi oleh RTH dan tepat berada di tepi danau.

Sementara itu, Direktur PT Ciputra Development Tbk. Harun Hajadi mengatakan bahwa pada dasarnya seluruh proyek yang dikembangkan oleh pihaknya sudah menerapkan eco living. Penerapan konsep tersebut menurutnya mau tidak mau harus dilakukan mengikuti permintaan pasar saat ini.

“Karena mau tidak mau pembeli sangat concern dengan biaya energi. Akan tetapi, saat ini kami masih harus memilah-milah mana yang [nilai] investasinya masih tinggi dan sudah dengan mudah diaplikasikan,” ungkapnya.

Adapun, pemilahan yang dimaksud oleh Harun adalah penggunaan material yang tepat untuk masing-masing proyek sesuai dengan segmentasinya. Tentunya, proyek yang menyasar segmen pasar menengah ke bawah tidak bisa sepenuhnya menerapkan eco living untuk menjaga harganya tetap terjangkau.

“Misalnya apakah sudah cocok menggunakan kaca Sunergy Solar Control E-Glass, STP [Sewage Treatment Plant] untuk mengolah limbah, apakah ada solar panel, apakah tidak menghadap ke barat, apakah sunshade sudah cukup, apakah ada lorong cahaya,” tuturnya.

Kemudian terkait dengan RTH, Harun menyebut pihaknya selalu mengalokasikan lebih dari 30 persen luas lahan keseluruhan. Selain memenuhi kewajiban yang tercantum dalam Undang-Undang (UU) No. 27/2007 tentang Penataan Ruang, alokasi RTH yang besar juga bertujuan untuk menarik minat konsumen.

“Tanpa diminta kami mengalokasikan [RTH] cukup besar karena [lingkungan] lebih hijau lebih mudah dijual,” tegasnya.

Terakhir, untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi menurut Harun pihaknya juga menyediakan bus pengumpan dari kawasan hunian yang dikembangkan ke pusat kota. Selain itu, jika memungkinkan pihaknya juga bersedia membangun stasiun agar kawasan tersebut berkembang menjadi kawasan transit-oriented development (TOD) yang memudahkan mobilitas penghuninya.

Sebagai contoh adalah kawasan Citra Maja Raya di Lebak, Banten yang di dalamnya akan dibangun stasiun baru. Adapun, saat ini penghuni di kawasan tersebut masih mengandalkan Stasiun Maja yang lokasinya tak jauh dari gerbang utama apabila ingin menggunakan layanan kereta Commuter Line.

TAK HARUS MAHAL

Banyak yang beranggapan bahwa rumah ramah lingkungan adalah rumah dengan biaya pembangunan amat tinggi. Namun, hal tersebut ternyata tak sepenuhnya berlaku.

Menurut Arsitek Akanoma Studio Yu Sing hunian ramah lingkungan justru dapat dibangun dengan biaya yang lebih terjangkau dari rumah konvensional. Kuncinya adalah memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar, khususnya yang tidak terpakai.

Arsitek yang dikenal lewat rancangan bangunan ramah lingkungannya itu mencontohkan kayu-kayu bekas yang masih layak pakai bisa dimanfaatkan kembali. Seperti yang dilakukan pada proyek rumah kayunya di Ciledug, Jakarta.

“Kami mencari kayu-kayu bekas untuk bahan bangunan, bangunan tidak dibuat menempel pada batas lahan. Menambahkan taman di tengah rumah, membuat ventilasi yang baik agar sirkulasi udara lancar dan tak perlu lagi menggunakan pendingin udara seperti sebelumnya,” katanya.

Melalui salah satu presentasinya berjudul ‘Peran Arsitektur dalam Kelestarian Bumi, pria asal Bandung itu menyebut arsitektur ramah lingkungan atau arsitektur hijau yang menjadi kunci dari eco living masih sulit menjadi tren arus utama lantaran berbagai alasan, salah satunya adalah bahan bangunan ramah lingkungan yang dinilai tak sekokoh bahan bangunan konvensional.

Walaupun demikian, bukan berarti bahan bangunan ramah lingkungan, khususnya yang berasal dari alam tak layak digunakan. Peningkatan teknologi memungkinkan bahan bangunan tersebut menjadi lebih kokoh.

Kondisi tersebut yang pada akhirnya membuat Yu Sing memutuskan untuk mengembangkan rumah mikro yang diklaim mampu memperkecil emisi karbon dengan menghemat lahan dan ruang. Luas lahan untuk rumah tersebut tak lebih dari 8,75 m2 dengan sistem mezzanine.

Penulis : Rezha Hadyan
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro