Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kecemasan Lebih Cepat Menular Dibandingkan Covid-19, Pilih Reaktif atau Responsif?

Tak hanya penderita, keluarga, kerabat bahkan lingkungan bisa dicekam kecemasan ketika mengetahui ada orang di sekitarnya yang terinfeksi Covid-19.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 24 Desember 2020  |  10:59 WIB
Ilustrasi - hipnoterapi.com
Ilustrasi - hipnoterapi.com

Bisnis.com, JAKARTA  -  Pada 4 April 2020 seminggu sebelum PSBB pertama diberlakukan di Jakarta, Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia meluncurkan form swaperiksa di-webnya.

Berdasar data Oktober 2020 diperoleh jumlah pengisi swaperiksa di web PDSKJI berjumlah 5661, berasal dari 31 provinsi.

Secara umum, tercatat 32 persen pengisisi swapersiksa yang mengalami masalah psikologis, dan 62 persen tidak ada masalah psikologis.

Sementara terkait jenis masalah psikologis, kasus kecemasan menempati posisi teratas dengan jumlah 2.606 swaperiksa.

Di luar data di atas, kecemasan memang cenderung muncul di masyarakat terkait Covid-19.

Tak hanya penderita, keluarga, kerabat bahkan lingkungan bisa dicekam kecemasan ketika mengetahui ada orang di sekitarnya yang terinfeksi Covid-19.

Munculnya kecemasan tidak terlepas dari sikap mental seseorang dalam menghadapi kasus Covid-19.

Psikiater dan Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS.dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor dr.Lahargo Kembaren, SpKJ mencatat bagaimana respons masyarakat ketika pemerintah mengumumkan pertama kali kasus Corona di Indonesia.

“Segera setelah itu, muncul berbagai reaksi di masyarakat dan terlihat KECEMASAN cepat sekali menghinggapi setiap orang,” tulisnya pada artikel di situs http://pdskji.org/home, dikutip Kamis (24/12/2020).

Kecemasan itu, lanjutnya, menyebabkannya munculnya aksi memborong masker, sanitizer, sembako, banyak orang menggunakan masker di tempat-tempat umum, dan perilaku lainnya.

Sebetulnya, menurut Lahargo, rasa cemas adalah reaksi emosi yang wajar. Hal itu muncul akibat suatu keadaan tidak diharapkan yang diasumsikan dapat menimbulkan bahaya.

“Rasa cemas akan memberikan respons pada tubuh untuk cepat melakukan perlindungan untuk memastikan keamanan. Reaksi emosi cemas ini positif dan baik apabila dirasakan dan direspons sewajarnya,” ujar Lahargo.

Tetapi apabila respons yang muncul berlebihan atau reaktif akan menyebabkan gangguan cemas atau ansietas.

Ganggunan kecemasan itu antara lain ditandai dengan gejala-gejala :

  • khawatir, gelisah, panik
  • takut mati, takut kehilangan kontrol
  • jantung berdebar lebih kencang
  • nafas sesak, pendek, berat
  • perut mual, kembung, diare
  • kepala pusing, berat, terasa ringan
  • kulit terasa gatal, kesemutan
  • otot otot terasa tegang dan nyeri
  • gangguan tidur

Kondisi di atas tentu sangat mengganggu. Lantas, bagaimana sebaiknya mengelola kecemasan atas ancaman virus Corona?

Lahargo menyebut ada dua  sikap mental yang bisa terjadi terkait kondisi di atas, yaitu reaktif atau responsif.

Reaktif adalah sikap mental yang ditandai dengan reaksi yang cepat, tegang, agresif terhadap keadaan yang terjadi dan menyebabkan kecemasan, kepanikan.

Responsif adalah sikap mental yang ditandai dengan sikap tenang, terukur, mencari tahu apa yang harus dilakukan dan memberikan respons yang tepat dan wajar.

Lantas mana yang akan kita pilih?

“Ketika seseorang lebih memilih REAKTIF daripada RESPONSIF, maka kehidupan mentalnya akan terpengaruh dan dapat berujung pada Gangguan Cemas (ansietas),” tulis Lahargo.

Tentu, jika Anda tak mau reaktif, sikap mental yang dipilih adalah responsif.

Terkait upaya membangun sikap mental responsif, Lahargo menyebutkan beberapa tahapan berikut:

  • Breathe : Ambil waktu untuk berpikir apa yang akan dilakukan, yang bermanfaat dan tidak berlebihan
  • Assess : Cek fakta yang valid dari sumber terpercaya, hindari informasi yang salah, berlebihan, yang membuat kecemasan berlebihan.
  • Action : Lakukan tindakan yang sesuai yang dianjurkan, tetap nilai risikonya dan tetap tenang.
  • Reflect : Merefleksikan apa yang sudah dilakukan, menilai situasi terkini dan mempersiapkan respons berikutnya yang akan diambil.

Ditegaskan Lahargo bahwa kita semua takut dan cemas menghadapi virus Corona. "Tapi, takut dan cemas berlebihan akan menyebabkan kondisi mental kita terganggu," tegasnya.

Kewaspadaan memang diperlukan, namun bukan berarti kita harus bertindak panik atau grasa-grusu tidak terkendali.  

“Tetap waspada tapi tetap tenang. Hindari juga menyebarkan informasi yang belum kita tahu kebenarannya, informasi yang dapat memicu kepanikan karena kecemasan lebih cepat menular dibanding virus itu sendiri," ujarnya mengingatkan.

Prinsip "saring" sebelum "sharing" menjadi hal yang perlu diperhatikan ketika kita akan membagikan informasi.

Di luar itu, jangan ragu memeriksakan diri jika Anda terus didera rasa cemas.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik! Apabila kita mengalami gangguan cemas (ansietas) segera konsultasikan ke profesional kesehatan jiwa terdekat seperti Psikiater, Perawat jiwa, Psikolog, Dokter umum terlatih, Pekerja Sosial dan konselor agar segera mendapat pertolongan,” ujar Lahargo.

Jadi, jika tak ingin reaktif dan terus cemas, tak ada salahnya kita melakukan hal-hal responsif yang lebih menenangkan dan terencana, bukan?

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitangandengansabun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan jiwa Covid-19 Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top