Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jari Nyeri? Hati-hati Trigger Finger

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Rizky P. Wisnubaroto mengatakan trigger finger adalah ketidakmampuan untuk meluruskan atau menekuk jari akibat tendon yang terperangkap.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 29 Januari 2021  |  20:32 WIB
Tangan
Tangan

Bisnis.com, JAKARTA - Pernahkah Anda mengalami nyeri pada jari-jari dan terasa terkunci hingga membumbutuhkan bantuan jari lain untuk meluruskannya?

Jika iya, mungkin anda menderita trigger finger. Jari pelatuk, jari kejepit, jari terkunci mungkin sebutan lainnya.

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Rizky P. Wisnubaroto mengatakan trigger finger adalah ketidakmampuan untuk meluruskan atau menekuk jari akibat tendon yang terperangkap.

Ini terjadi ketika jepitan secara mekanik pada tendon fleksor sewaktu melewati jaringan ikat yang menebal di tangan. Ibarat kereta sebagai tendon dan terowongan jaringan ikat.

Jika terowongan menebal atau ukurannya berubah, kereta tidak akan bisa masuk. Begitu pula ketika kereta ukurannya menjadi lebih besar, tidak sesuai aslinya, dia tidak bisa masuk dan sebabkan nyeri dan gangguan gerak pada tangan.

Trigger finger bisa dipicu dari penggunaan jari/tangan secara berulang. Terutama pada profesi yang sering menggunakan jari. "Bekerja dengan tangan, itu juru masak atau mengetik, dia menyebabkan iritasi atau inflamasi pada area pulley," ujarnya dalam diskusi online, Jumat (29/1/2021).

Karena iritasi dan inflamasi pad area tersebut, kemudian akan menyebabkan pembengkakan, sehingga jari terkunci pada posisi fleksi atau menekuk. "Kemudian trigger finger terjadi apabila kita meluruskan jari kita," jelasnya.

Rizky menjelaskan biasnaya pasien datang dengan gejala nyeri pada jari-jari dan terasa terkunci. Mereka juga mengeluhkan bunyi "kletek" atau "pop" pada saat jari ditekuk atau diluruskan. Untuk meluruskan jari, perlu dibantu dengan jari lain. Keluhan lain berupa kaku pada jari tangan terutama saat pagi hari.

"Kalau misal kaku pada jari tangan terutama pada pagi, karena malam hari tendon lebih besar sedikit ukurannya," jelasnya

Siapa saja yang terkena? Rizky menjelaskan 2-3 persen dari populasi umum bisa terkena trigger finger. Namun wanita memiliki 2-6 kali risiko yang lebih tinggi dibandingkan pria. Usia yang berisiko yakni usia dewasa muda yakni 30-40 ke atas. Lalu, kerap diasosiasikan dengan penyakit diabetes melitus 5 kali lebih sering. Kemudian orang dengan pekerjaan yang sering menggerakkan jari.

Rizky menerangkan jari yang mengalami trigger finger biasanya jari manis dan telunjuk. "Bisa lebih dari satu jari pada satu tangan," imbuhnya.

Untuk mengatasi kejadian ini, bisa dilakukan secara mandiri dengan mengistirahatkan tangan. Bisa juga dengan memasang splint pada malam hari. "Streching dilakukan sendiri di rumah," tambahnya.

Jika tidak mengurangi keluhan, lebih baik berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah ortopedi. Pada pengobatan dokter, bisa dilakukan dengan alternatif injeksi, pemakaian splint pada malam hari, hingga operasi pembebasan tendon.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penyakit jam tangan
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top