Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tips Hidup Tentram Bebas dari Utang

Hidup tanpa utang mungkin tidak dapat dihindari oleh sebagian orang, contoh utang dadakan yakni kebutuhan biaya berobat.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 18 Februari 2021  |  18:57 WIB
Tips Keuangan.  - Bisnis.com
Tips Keuangan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak orang melihat utang sebagai hal buruk yang diperlukan, tetapi kita masih mungkin untuk hidup dan berkembang tanpa menggunakan utang atau mengkhawatirkan nilai kredit Anda.

Manfaat hidup bebas utang mudah dipahami, tetapi penting untuk mengetahui tantangan apa yang akan Anda hadapi dan cara mengatasinya.

Dilansir melalui Lifepal, tidak selamanya utang selalu dianggap buruk. Pada umumnya, pandangan buruk terhadap utang muncul ketika seseorang tidak mampu membayar utang yang sudah mereka ajukan sebelumnya.

Adapun beberapa hal yang akhirnya membuat seorang berutang adalah:

- Untuk mengembangkan kegiatan produktif (bisnis, kerja sampingan, dan lain sebagainya)

- Untuk meningkatkan nilai kekayaan (pembelian aset yang nilainya akan naik di masa depan)

- Untuk kebutuhan likuiditas pembayaran

- Untuk kebutuhan darurat

Hidup tanpa utang mungkin tidak dapat dihindari oleh sebagian orang, berikut adalah beberapa cara yang harus dipahami debitur untuk mengelola utangnya, menurut financial educator dan periset Lifepal Aulia Akbar.

1. Berutang sah-sah saja, asalkan untuk kebutuhan produktif.

Dua karakteristik utang produktif adalah bisa meningkatkan penghasilan sekaligus nilai kekayaan kita di masa yang akan datang.

Utang untuk modal usaha adalah bentuk utang produktif karena dapat memberikan leverage kepada peminjam dalam meningkatkan operasional bisnis dan diharapkan dapat meningkatkan profit.

Sementara itu, kredit pemilikan rumah (KPR) bisa membantu debitur dalam melakukan akumulasi aset. Mengingat harga properti terus mengalami pertumbuhan, maka seiring dengan berjalannya waktu, kekayaan bersih debitur yang bersangkutan akan bertambah.

2. Hindari risiko utang konsumtif.

Ketika seseorang mengalami masalah likuiditas (kekurangan aset lancar) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka berutang tentu akan menjadi solusi.

Salah satu contoh buruk utang konsumtif adalah utang untuk kebutuhan darurat seperti halnya utang untuk biaya berobat, maupun utang untuk menopang biaya hidup karena kehilangan penghasilan.

Biaya berobat tentu bisa ditanggulangi dengan jaminan kesehatan, sementara itu pengeluaran biaya hidup bisa dimitigasi lewat dana darurat.

3. Cicilan utang per bulan maksimal 35 persen dari penghasilan tapi maksimal jumlah utang 50 persen dari aset.

Penilaian kesehatan jumlah utang secara sederhana bisa dilakukan dari dua hal yaitu debt service ratio dan debt to asset ratio. Nilai debt service ratio (DSR) atau rasio pelunasan (cicilan) utang maksimal adalah 35 persen dari penghasilan.

Cicilan utang yang terlalu banyak dapat mengakibatkan menurunnya kualitas hidup. Kemampuan kita dalam mencukupi kebutuhan hidup per bulan akan terganggu.

Belum lagi, kita akan semakin sulit menyisihkan uang untuk dana darurat, kebutuhan proteksi, hingga investasi jangka panjang. Lantas untuk debt to asset ratio, nilai wajar dari total utang tertunggak kita adalah maksimal 50 persen dari aset.

Apabila kita kehilangan penghasilan untuk membayar cicilan, kita terpaksa melikuidasi aset. Ketika total utang setara 70 persen dari nilai aset, maka sisa aset yang kita miliki setelah utang-utang tersebut dibayar lunas hanya 30 persen dari total nilai awal. Penyusutan nilai aset juga akan menggerus nilai kekayaan bersih Anda.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

utang tips keuangan perencana keuangan
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top