Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

4 Tantangan Utama Menghentikan Pandemi Covid-19

Oliver Wouters dari London School of Economic and Political Science dan penulis utama makalah mengatakan beberapa produsen telah berhasil mengembangkan vaksin Covid-19 dalam waktu yang luar biasa cepat.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 22 Februari 2021  |  18:03 WIB
Petugas vaksinator menunjukkan tensi darah Bupati Kabupaten Ogan Komering Ilir Iskandar saat proses pemberian vaksin Covid/19. istimewa
Petugas vaksinator menunjukkan tensi darah Bupati Kabupaten Ogan Komering Ilir Iskandar saat proses pemberian vaksin Covid/19. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pada awal bulan ini, ada 289 vaksin eksperimental yang sedang dalam pengembangan. 29 kandidat di antaranya telah mencapai uji klinis ketiga dan 5 vaksin telah menerima otorisasi penggunaan dari lembaga kesehatan.

Namun demikian, hal tersebut belum cukup untuk benar-benar menghentikan pandemi Covid-19. Sebuah makalah yang dirilis di jurnal Lancet meninjau empat tantangan yang saling terkait dalam skema vaksinasi.

Catatan ilmiah itu dibuat oleh pakar kebijakan kesehatan masyarakat, vaksinasi, dan penyakit menular dari berbagai negara termasuk Inggris, Amerika Serikat, Thailand, dan Singapura.

Oliver Wouters dari London School of Economic and Political Science dan penulis utama makalah mengatakan beberapa produsen telah berhasil mengembangkan vaksin Covid-19 dalam waktu yang luar biasa cepat.

"Tapi kenyataannya dunia sekarang membutuhkan lebih banyak dosis vaksin Covid-19 daripada vaksin lain dalam sejarah untuk mengimunisasi cukup banyak orang guna mencapai kekebalan vaksin global," katanya seperti dikutip Medical News Today, Senin (22/2).

Makalah itu menyoroti empat hal terkait keberhasilan skema atau program vaksinasi global yakni produksi, keterjangkauan, alokasi, dan penyebaran vaksin.

1. Meningkatkan Produksi

Para penulis makalah menyoroti bahwa 10 pengembang vaksin telah memprediksi mereka akan dapat menghasilkan 1 miliar dosis tahun ini. Sementara, 9 pengembang lebih lanjut memperkirakan kapasitas hingga 700 juta setahun.

Tapi tidak semuanya telah enyelesaikan proses pengembangan dan persetujuan, dan tidak ada satu perusahaan pun yang dapat memasok cukup untuk seluruh populasi di dunia.

Penulis juga menunjukkan keadaan kapasitas manufaktur yang terkonsentrasi dan hubungan antara pengembang dan produsen membatasi produksi vaksin. Begitu juga dengan rantai pasok botol kaca dan jarum suntik.

WHO telah mengindikasikan bahwa jika negara, produsen, dan organisasi lain setuju untuk berbagi pengetahuan, kekayaan intelektual, dan data yang terkait teknologi Covid-19, hal itu akan membantu meningkatkan produksi.

2. Vaksin yang Terjangkau

Harga vaksin menjadi faktor penting dalam kesuksesan skema vaksinasi global karena negara berharap dapat memvaksin seluruh populasi mereka. Vaksinasi bisa menjadi pengeluaran berulang pula di masa depan.

Harga vaksin resmi dan kandidat ternama berkisar antara US$5 hingga US$62. Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai faktor termasuk biaya teknoogi, jumlah pendanaan publik, jaringan produksi perusahaan, dan lain-lain.

Pemerintah negara juga akan mengeluarkan biaya lanjutan untuk distribusi dan administrasi program vaksinasi. Menurut Lancet, 85 persen populasi dunia tinggal di negara berpenghasilan rendah atau menengah yang mungkin kekurangan sumber daya yang sesuai.

Makalah menyoroti perlunya mekanisme yang ditargetkan untuk memastikan vaksin terjangkau baik sekarang maupun dalam jangka panjang di setiap negara dan untuk setiap bagian dari populasi.

3. Alokasi Global

Akses universal ke vaksin tidak dijamin karena kelangkaan pasokan dan karena negara berpenghasilan tinggi telah memesan setidaknya 4,2 miliar dosis atau setara 70 persen dosis yang tersedia pada 2021.

Masalahnya, jika miliaran orang tidak menerima vaksinasi pada tahun ini, pandemi virus corona baru bisa lebih panjang lagi. Selain itu, perpanjangan masa pandemi menimbulkan kemungkinan mutasi baru yang terus menyebar.

Oleh sebab itu, WHO membentuk Covax yang bertujuan untuk mengamankan vaksin guna negara-negara berpenghasilan rendah dan miskin. Covax juga mengatur distribusi dan bertujuan memastikan 20 persen dari setiap populasi negara menerima vaksin sebelum vaksinasi lebih lanjut berdasar kebutuhan.

Namun demikian, agar Covax mencapai tujuan yang diinginkannya, harus ada lebih banyak negara berpenghasilan tinggi yang mendaftar dan terlibat dalam skema tersebut. Selain itu, Covax juga membutuhkan pendanaan lebih lanjut.

4. Penyebaran Komunitas

Tantangan keempat adalah penyebaran pasokan vaksin yang efisien. Beberapa negara dan otoritas lokal tidak memiliki infrastruktur yang mendukung guna identifikasi, transportasi, dan pengelolaan vaksin.

Penelitian lebih blanjut dan pengembangan vaksin mungkin membantu menghilangkan beberapa hambatan termasuk masalah logistik. Covax mungkin juga dapat membantu dengan mengalokasikan vaksin yang sesuai untuk tiap negara.

Tak hanya itu, pemerintah dan pengembang vaksin juga perlu mengatasi keraguan vaksin. Ada skeptisisme vaksin di semua kelompok sosial ekonomi, agama, dan etnis, baik di negara berpenghasilan rendah maupun tinggi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona pandemi corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top