Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perempuan Muda Berisiko Lebih Tinggi Alami Pembekuan Darah Akibat Vaksin Covid-19

Chair Medicine Evaluation Board Sabine Straus mengatakan bahwa kelompok perempuan yang lebih muda tampaknya lebih terwakili dibanding kelompok lain yang menderita reaksi trombosis merugikan, yang mungkin terkait dengan vaksin.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 19 Maret 2021  |  11:34 WIB
Ilustrasi pembekuan darah - istimewa
Ilustrasi pembekuan darah - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – European Medicines Agency (EMA) menyatakan bahwa vaksin virus corona dari Oxford-AstraZeneca aman dan efektif, menyusul sejumlah kekhawatiran yang muncul terkait efek samping pembekuan darah.

Namun demikian, EMA mengatakan bahwa mereka tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa vaksin tersebut terkait dengan laporan dari 30 kasus kelainan darah yang tidak biasa, pada orang yang telah divaksinasi.

Chair Medicine Evaluation Board Sabine Straus mengatakan bahwa kelompok perempuan yang lebih muda tampaknya lebih terwakili dibanding kelompok lain yang menderita reaksi trombosis merugikan, yang mungkin terkait dengan vaksin.

Akan tetapi, dia menyatakan masih terlalu dini untuk memberikan jawaban pasti tentang mengapa hal itu terjadi, dan bisa saja mereka lebih mungkin menerima vaksin atau memiliki risiko latar belakang yang lebih tinggi.

“Terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa wanita yang lebih muda berada pada risiko yang lebih besar, tapi penyelidikan akan terus berlanjut,” katanya seperti dikutip Metro UK, Jumat (19/3).

Penelitian di Lancet sebelumnya telah merinci bagaimana konsumsi pil kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah hingga tiga kali lipat. Perempuan muda adalah yang paling mungkin meminum pil tersebut.

Pejabat di Jerman menerima enam laporan cerebral venous sinus thrombosis (CVST) yang terkait dengan trombosit rendah pada orang yang telah menerima vaksin Oxford. Semuanya adalah wanita yang lebih mudah hingga paruh baya.

Namun, di Inggris, lima orang yang menderita pembekuan darah langka setelah mendapat vaksin semuanya adalah laki-laki, yang berusia 19 hingga 59 tahun. Satu dari lima orang telah meninggal. Tidak ada hubungan sebab akibat terkait suntikan vaksin.

Peter Arlett dari EMA mengatakan bahwa jika perempuan memang lebih berisiko mengalami pembekuan darah yang langka, hal itu dapat menjelaskan mengapa lebih banyak insiden terlihat di Uni Eropa daripada di Inggris, karena profil orang yang divaksin di negara itu adalah umumnya yang lebih tua.

Dalam informasi umum yang diposting di situs webnya, regulator obat Eropa itu mengatakan sebagian besar pasien yang diselidiki terkait pembekuan darah langka mengalami masalah dalam dua minggu setelah vaksin.

“Mayoritas laporan melibatkan wanita di bawah 55 tahun, meskipun beberapa di antaranya mungkin mencerminkan keterpaparan yang lebih besar dari individu tersebut karena penargetan populasi tertentu untuk kampanye vaksin di negara anggota yang berbeda,” kata EMA.

EMA mengatakan bahwa mereka akan terus memantau laporan pembekuan darah yang terkait dengan vaksin dan akan mempertimbangkan untuk meminta agar daftar efek samping dari vaksin tersebut diperbarui.

Mereka memperingatkan bahwa siapa pun yang mengalami sakit kepala yang terus-menerus atau parah setelah vaksinasi, terutama setelah tiga hari setelah vaksinasi, harus mencari bantuan medis. Mudah memar atau berdarah juga terdaftar sebagai tanda peringatan potensial.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

darah Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top