Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Emily in Paris 2 Ditunggu Penggemar, Hati-hati Terkena Sindrom Paris, Apa itu?

Sindrom Paris merupakan keadaan shock atau gangguan psikologis yang dialami turis ketika sedang berlibur ke Paris.
Restu Wahyuning Asih
Restu Wahyuning Asih - Bisnis.com 29 September 2021  |  13:13 WIB
Emily in Paris 2 Ditunggu Penggemar, Hati-hati Terkena Sindrom Paris, Apa itu?
Emily in Paris - Netflix
Bagikan

Bisnis.com, SOLO - Netflix baru saja memberikan bocoran lanjutan serial Emily in Paris 2 yang akan segera tayang.

Cerita lanjutan mengenai Emily Cooper (Lily Collins) yang harus beradaptasi dengan Kota Paris akan hadir pada Desember 2021 mendatang.

Emily in Paris fokus pada Emily yang dipindah kerja di Paris dan bagaimana dirinya beradaptasi dengan lingkungan.

Paris terkenal dengan klaimnya sebagai kota romantis. Kota di Perancis itu dijulis sebagai City of Light.

Selain itu, Paris juga terkenal sebagai kota terkenal untuk tujuan berwisata. Khususnya untuk turis manca negara.

Sematan kata 'romantis' untuk Paris menggambarkan kota tersebut sangatlah indah, hangat, nyaman dan cocok untuk berlibur bersama pasangan.

Namun, penggambaran kota Paris di dalam film dengan kenyataannya jauh berbeda.

Meskipun memang menjadi kota yang cantik, namun Paris terkenal dengan ribuan sampah yang memenuhi sekitar kota.

Bahkan, Paris terkenal dengan jutaan tikus yang membuat pemerintah setempat menganggarkan miliaran rupiah untuk membasmi hewan tersebut.

Romantisasi Paris kemudian membuat istilah 'Paris Syndrome' muncul untuk menggambarkan gangguan psikologis para turis yang datang di Paris.

Paris Syndrom atau Sindrom Paris muncul ketika belasan turis asal Jepang harus terpaksa dipulangkan setelah mengalami gangguan psikologis.

Seorang psikolog di rumah sakit Hotel-Dieu, Yousef Mahmoudia mengatakan, sebagian turis asal Jepang mengalami guncangan.

Bahkan ada turis yang mendadak hilang ingatan karena perjalanannya di Paris, yang jauh berbeda dari pandangannya.

Seorang psikiater Prancis-Jepang bernama Hiraoki Ota mengatakan, Sindrom Paris dianggap sebagai bentuk kekagetan akan budaya baru atau kerinduan kampung halaman yang parah.

Kondisi tersebut diduga disebabkan oleh empat faktor yang meliputi kendala bahasa, gaya bahasa, kelelahan fisik dan romantisasi Paris.

Terbaru, Ambassador One Young World, Margianta mengatakan di akun Twitternya tentang kondisi Paris.

Dirinya mengaku pernah mengalami Sindrom Paris di tahun 2012. Ia pun menceritakan keadaan Paris berdasarkan pengalaman pribadinya.

"Kesan kota ini dlm 3 hari: bau pesing, sampah berceceran, hampir dicopet dua kali, pada gabisa bhs Inggris, banyak org kulit putih rasis, Métro-nya penuh & apa2 mahal tapi gak enak," tulisnya pada akun Twitter pribadinya, @margianta, pada Selasa (28/9/2021).

Nyatanya, cuitan Margianta mengenai kondisi Paris juga banyak disebutkan oleh para turis lain.

"Pernah ke Paris 5 hari sebagai turis & kotornya minta ampun.. kotoran anjing jg di mana2, terutama di Eiffel. Jalur metronya lumayan ruwet, prnah nyasar di stasiun Chatelet karna map nya yg ntah lah plus manusia banyak bgt," tulis netizen bernama akun @ozhan_ammary.

"Saya sempat dicopet, untungnya yg di dompet duit rupiah…dikasih tahu sama orang2 afrika yg jualan kalau saya dicopet, copetnya anak kecil pura pura nemuin dompetnya dan balikin…," tulis netizen lain, @samiaji63.

Seorang netizen kemudian mengaitkan cuitan Margianta dengan serial Emily in Paris. Dalam serial tersebut Emily juga kesulitan menemukan orang yang bisa lancar berbahasa Inggris.

"Emily kan dijudesin juga tu ama org2 paris, ditipu pas beli bunga juga," tulis akun @RiflianyEr, mengaitkan Sindrom Paris dengan serial Emily in Paris.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

psikologi paris Sindrom paris
Editor : Restu Wahyuning Asih
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top