Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tingginya Kasus Diabetes di Indonesia dan Tantangannya

Menurut data International Diabetes Federation (IDF) Atlas edisi ke-10, di Indonesia, tahun ini, jumlah penderita diabetes mencapai 19,5 juta orang. Padahal, pada 2019 angkanya sebesar 10,7 juta. Artinya, ada peningkatan hampir 9 juta hanya dalam 2 tahun, atau tepat selama pandemi covid terjadi.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 06 Desember 2021  |  22:34 WIB
Ilustrasi pasien mengecek gejala diabetes - Freepik
Ilustrasi pasien mengecek gejala diabetes - Freepik

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah kekhawatiran adanya pandemi covid-19 selama 2 tahun terakhir, Indonesia ternyata masih harus bekerja keras melawan diabetes, salah satu penyakit tidak menular yang banyak diderita masyarakat.

Bahkan, mirisnya, tahun 2021 ini, Indonesia menduduki peringkat kelima dunia dengan angka kasus diabetes tertinggi.

Menurut data International Diabetes Federation (IDF) Atlas edisi ke-10, di Indonesia, tahun ini, jumlah penderita diabetes mencapai 19,5 juta orang. Padahal, pada 2019 angkanya sebesar 10,7 juta. Artinya, ada peningkatan hampir 9 juta hanya dalam 2 tahun, atau tepat selama pandemi covid terjadi.

Dengan penambahakan hampir 2 kali lipat itu, menempatkan Indonesia di peringkat ke lima, atau naik 2 peringkat dari posisi 7 dunia tahun lalu. 

Peningkatan jumlah penderita diabetes tipe-2 tersebut disebabkan oleh faktor sosio-ekonomi, demografi, lingkungan, dan genetik. Beberapa pendorong utamanya adalah urbanisasi, populasi yang menua, berkurangnya aktivitas fisik, dan peningkatan jumlah masyarakat yang menderita obesitas atau kelebihan berat badan.

Bukan hanya di Indonesia, namun tren kenaikan kasus ini juga terjadi di dunia. Menurut data IDF juga, saat ini setidaknya 1 dari 10 orang atau sebanyak 537 juta orang di dunia hidup dengan diabetes.

Apabila tidak ada intervensi, angka ini diproyeksikan akan naik hingga 643 juta pada tahun 2030, dan 784 juta pada tahun 2045. 

Untuk kasus diabetes melitus tipe-2 (DMT2), bahkan telah menyerang lebih dari 90% pasien di seluruh dunia. Penyakit ini juga telah menyebabkan 6,7 juta kematian pada tahun 2021. Diperkirakan terdapat 1 orang meninggal setiap 5 detik akibat diabetes.

Sayangnya, ketika kasus terus naik tidak berbanding lurus dengan akses pengobatan diabetes yang tepat dan memadai. Hal ini, membuat banyak orang dengan diabetes yang tidak terdiagnosis.

Diabetes juga bukan melulu penyakit orang dewasa, tapi juga menyerang anak dan remaja. Banyak masyarakat Indonesia yang tidak menyadari ancaman DMT1 pada anak dan remaja yang dapat berdampak seumur hidup. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat underdiagnosis dan misdiagnosis DMT1 pada anak-anak, serta masih tingginya jumlah anak yang menderita ketoasidosis diabetik (DKA).

Penting diketahui orang tua, jika anak-anak penderita DMT1 yang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan akan sulit mendapatkan hidup sehat, mengembangkan potensi dan bakat, serta mewujudkan cita-cita mereka. 

Selain dampak kesehatan, diabetes di Indonesia juga membebani keuangan. 

Berdasarkan data CHEPS FKM UI dan PERKENI pada tahun 2016, pemerintah menghabiskan 74 persen anggaran kesehatan untuk secara khusus mengobati komplikasi diabetes.

Kondisi ini menegaskan pentingnya akses pengobatan diabetes, karena orang dengan diabetes memerlukan perawatan dan dukungan yang berkelanjutan untuk mengelola kondisi mereka dan menghindari komplikasi yang bisa dicegah dengan mengontrol gula darah. 

Hal ini sejalan dengan tema utama dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia 2021-2023 yang menekankan pentingnya akses pengobatan diabetes,

Mengontrol gula darah sangatlah penting bagi penderita diabetes karena untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Namun, masih banyak juga orang dengan diabetes yang tak berhasil mencapai target HbA1c yang sudah ditentukan atau tidak terkontrol.

Dikutip dari diabetes.org, HbAic adalah kadar gula darah yang normal (seperti orang tanpa diabetes). Idealnya, HbA1c ini  berkisar antara 70 dan 130 mg/dL sebelum makan, serta kurang dari 180 mg/dL dua jam setelah makan. Nilai HbA1c yang diukur setiap 3 bulan sekali harus kurang dari 7 persen. Angka tersebut menjadi target bagi penderita diabetes.

Ironisnya, studi menunjukkan lebih dari 70 persen orang dewasa dengan diabetes tipe-2 di Indonesia tidak berhasil mencapai target HbA1c di bawah 7 persen tersebut.

Upaya mengejar target kadar gula darah bagi orang dengan DMT2 biasanya berupa diet, olahraga, dan pengobatan antidiabetes oral.

Tapi, ketika cara-cara tersebut sudah tidak ampuh, maka mereka membutuhkan insulin.

Insulin adalah bagian dari manajemen diabetes, yang membantu orang dengan diabetes untuk mengontrol gula darah agar mengurangi risiko komplikasi.

Kenapa orang dengan Diabetes butuh insulin

DMT2 adalah penyakit yang progresif, yang bisa membuat pankreas tidak mampu memenuhi kebutuhan insulin tubuh. Karena itu, dibutuhkan suntikan insulin tambahan.

Sejak ditemukan 100 tahun lalu, suntikan insulin membantu mengelola diabetes dengan memastikan kontrol gula darah yang baik dan stabil, dan mencegah komplikasi jangka pendek dan jangka panjang dari diabetes. Yang pada akhirnya bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. 

Terapi insulin seringkali merupakan bagian penting dari pengobatan diabetes untuk mengontrol tingkat gula darah dan mencegah komplikasi diabetes.

Selama satu abad terakhir, sudah ada sejumlah insulin generasi baru yang dikembangkan dan dipasarkan untuk mengurangi beban pengobatan sehari-hari, menghadirkan prosedur pengobatan yang lebih fleksibel, dan membantu penderita diabetes dalam mengontrol gula darah dengan lebih mudah.

Mengutip diabetes.org, Insulin ditemukan oleh Sir Frederick G Banting (foto), Charles H Best dan JJR Macleod di Universitas Toronto pada tahun 1921 dan kemudian dimurnikan oleh James B Collip.

Sebelum tahun 1921, adalah luar biasa bagi penderita diabetes tipe 1 untuk hidup lebih dari satu atau dua tahun. Salah satu penemuan medis terbesar abad kedua puluh, itu tetap satu-satunya pengobatan yang efektif untuk orang dengan diabetes tipe 1 saat ini.

Penemuan insulin 100 tahun itu, adalah salah satu terobosan medis terbesar dalam sejarah, yang kemudian menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia dan memicu satu abad penemuan diabetes. 

Pada 11 Januari 1922, Leonard Thompson, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang sekarat karena diabetes tipe 1, menjadi orang pertama yang menerima suntikan insulin. Dalam 24 jam, kadar gula darah tinggi yang berbahaya dari Leonard turun, meski masih memiliki abses di tempat suntikan dan memiliki tingkat keton yang tinggi.

Barulah, ketika suntikan kedua pada 23 Januari 1922 sukses dan kadar gula darah Leonard mendekati normal, tanpa efek samping yang jelas. Saat itulah pertama kalinya dalam sejarah, diabetes tipe 1 bukanlah hukuman mati.

Saat ini, hanya ada tiga produsen insulin yang melayani pasar AS yakni Eli Lilly, Novo Nordisk, dan Sanofi. 

Khusus Novo Nordisk, setidaknya ada 13 produk insulin yang dipasarkan di dunia. Jenisnya sendiri mulai dari insulin aspart, human, glucagon, detemir, dan semaglutide.

Dalam memperingati Hari Diabetes Sedunia  dan hari jadi insulin ke-100, Novo Nordisk, Kemenkes, dan Kedutaan Besar Denmark berkolaborasi menggelar serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap diabetes. Beberapa kegiatannya yang dilakukan adalah penyediaan booth di Stasiun Kereta Tanah Abang di mana para komuter dapat melakukan tes gula darah.

Kegiatan serupa juga dilakukan di Pasar Tanah Abang, di mana ratusan karyawan Pasar Tanah Abang dapat menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mengecek risiko diabetes. Ada pula Monas Blue Light yang merupakan bagian dari Blue Monument Challenge. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap diabetes.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, H.E. Lars Bo Larsen mengatakan, di Hari Diabetes Sedunia masih ada organisasi global, regional, dan komunitas yang senantiasa mendukung upaya pengentasan penyakit ini. Tahun ini, peningkatan jumlah orang dengan diabetes yang pesat menjadi peringatan mengenai pentingnya kesehatan masyarakat, terutama pada masa pandemi COVID.

"World Diabetes Day dapat menjadi kesempatan untuk berbagi informasi mengenai pencegahan diabetes dan meminta tambahan sumber daya dan perhatian yang lebih memadai. Kami meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kesadaran diabetes dan menyediakan akses pengobatan bagi penderita di Indonesia.” ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

Sementara itu, Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia, Anand Shetty mengatakan diabetes telah menjadi beban besar dalam sistem kesehatan, dan mereka berkomitmen untuk bekerja sama dengan otoritas kesehatan dan mitra terkait di Indonesia untuk mencegah dan mengobati penyakit ini.

"Bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kami akan meningkatkan dan memperkuat upaya kami untuk menyediakan pengobatan diabetes yang berkelanjutan di Indonesia dengan memberikan diagnosis dini dan pengendalian yang optimal,” ujarnya.

Dia mengatakan mereka ingin menjangkau sebanyak mungkin orang dengan diabetes di Indonesia dengan melakukan berbagai kampanye dan edukasi mengenai diabetes, bergabung dengan gerakan global Changing Diabetes in Children; menyediakan berbagai produk inovatif; dan mendukung pemerintah dalam berbagai pendekatan yang bersifat preventif,” 

“Salah satu kolaborasi kami mendatang adalah chatbot diabetes. Masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai diabetes melalui platform WhatsApp. Kami berharap chatbot ini dapat menjadi sumber informasi utama mengenai diabetes.” tambahnya..

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

diabetes gula darah insulin
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top