Penyakit komorbid seperti hipertensi bisa dicegah dengan rutin melakukan pemeriksaan dan pola hidup sehat untuk mencegah pemburukan kondisi kesehatan. Prodia menyediakan MCU hingga tes genomik bagi masyarakat/Freepik.com
Health

Cegah Komorbid Sejak Usia Muda Melalui Tes Genomik di Prodia

Desyinta Nuraini
Senin, 13 Desember 2021 - 19:23
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Mendeteksi komorbid sejak dini sangat penting untuk melakukan mengidentifikasi dan mencegah munculnya penyakit yang lebih serius pada tubuh manusia. Salah satu caranya yakni dengan melakukan medical check up. 

Medical check up atau pemeriksaan fisik, ternyata bisa dilakukan sejak anak-anak, remaja, dewasa muda, hingga para lansia atau lanjut usia.

Direktur Bisnis & Marketing PT Prodia Widyahusada Tbk. Indriyanti Rafi Sukmawati menerangkan bahkan anak-anak bisa mengalami obesitas. Oleh karena itu, pemeriksaan klinis perlu dilakukan sejak dini untuk melihat apakah ada abnormalitas di dalam tubuh kita. 

"Kalau dalam kondisi baik, minimal 1 tahun sekali medical check up. Kalau ada abnormal dari gula darah misalnya, bisa dilakukan terapi atau treatment," ujarnya dalam Instagram Live bersama Bisnis.com, Senin (13/12/2021).

Di dalam terapi, Indriyanti menyebut biasanya dokter akan melihat kondisi pasien kembali dalam 3 bulan. Selama periode itu akan dipantau agar terapi yang dilakukan cocok buat pasien dengan merujuk hasil laboratorium. 

"Kita validasi dengan pemeriksaan laboratorium," imbuhnya.

Sementara itu, Indriyanti menyampaikan Prodia mengeluarkan inovasi terbaru untuk mengetahui kebutuhan gizi dan nutrisi di dalam tubuh, serta bisa mencegah datangnya penyakit komorbid. Pemeriksaan ini disebut Nutrigenomic. 

"Setiap orang unik, punya DNA masing-masing. Kita punya gen yang berbeda. Dengan Nutrigenomic kita bisa melihat makanan apa saja yang cocok dan jenis olahraga yang cocok buat kita," tuturnya.

Nah, apabila makanan dan olahraga sudah sesuai, Indriyanti mengatakan bahwa komorbid diyakini tidak akan terjadi. Prodia Nutrigenomic ini dapat memeriksa lebih dari 50 jenis gen dengan 75 variasi genetik, yang dikelompokkan menjadi nutrition dan exercise. 

Tidak hanya itu, ada juga tes genomik yang bisa mengetahui kondisi kulit dan kepala. Ada pula CA Risk yang bisa mengidentifikasi risiko penyakit kanker pada tubuh. 

Kanker payudara, kolorektal, serviks, hati, pankreas, paru, lambung, tiroid, prostat, ovarium, nasofaring, kantung kemih, dan limfoma non-hodgkin bisa dideteksi dalam pemeriksaan ini. 

Tidak ketinggalan DiRisk, yang bertujuan untuk melihat potensi obesitas. "Dengan kita atur, bisa terkendali. Komorbid kalau bisa jangan ada, apalagi di usia produktif," tegas Indriyanti.

Tes genomik berikutnya yakni Immune Risk yang bisa mendeteksi 7 penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, psoriasis, systemic lupus erythematosus (SLE), allergic rhinitis, atopic dermatitis, alopecia areata, dan vitiligo. 

Indriyanti menerangkan penyakit autoimun banyak terjadi di Indonesia. Beberapa ahli menilai kondisi ini ada kaitannya dengan defisiensi vitamin D. "Yang bisa kita lakukan, karena autoimun berkaitan dengan vitamin D. Bagaimana menjaga vitamin D dengan kadar yang baik," jelasnya.

Untuk itu, perlu dilihat kadar vitamin D di dalam tubuh dengan tes genomik. "setelah itu dicek lagi apakah terjadi peningkatan, apakah dosisnya pas," tukasnya.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro