Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Studi Ungkap Cara Mendeteksi Risiko Orang Meninggal Karena Serangan Jantung

Tingkat sensitivitas protein C-reaktif (CRP) yang lebih tinggi dan tes darah sederhana sudah digunakan di rumah sakit untuk mendiagnosis kondisi lain. Alat ini dapat digunakan untuk merampingkan bagaimana pasien dirawat di rumah sakit setelah dugaan serangan jantung.
Intan Riskina Ichsan
Intan Riskina Ichsan - Bisnis.com 07 Maret 2022  |  13:25 WIB
Ilustrasi serangan jantung - Freepik.com
Ilustrasi serangan jantung - Freepik.com

Bisnis.com, JAKARTA — Serangan jantung adalah peristiwa yang mengancam jiwa dan memiliki risiko untuk mengalami infark miokard lain yang lebih mematikan.

Sebuah studi baru-baru ini, telah mengidentifikasi cara untuk mengetahui dengan lebih baik apakah seseorang berisiko lebih tinggi meninggal dalam tiga tahun ke depan setelah serangan jantung.

Tingkat sensitivitas protein C-reaktif (CRP) yang lebih tinggi dan tes darah sederhana sudah digunakan di rumah sakit untuk mendiagnosis kondisi lain. Alat ini dapat digunakan untuk merampingkan bagaimana pasien dirawat di rumah sakit setelah dugaan serangan jantung.

Misalnya, mereka yang diidentifikasi berisiko tinggi (kematian) dapat diberikan perawatan yang lebih agresif dan dipantau lebih ketat. Sementara mereka yang teridentifikasi berisiko lebih rendah dapat dipulangkan.

Saat ini, ketika pasien dirawat di rumah sakit setelah diduga terkena serangan jantung, tes darah dilakukan untuk memeriksa protein troponin. Troponin dilepaskan ke dalam aliran darah ketika jantung rusak dan merupakan indikasi yang baik dari serangan jantung. Tes darah akan menjadi kesempatan yang optimal juga untuk mengukur tingkat CPR.

Proyek penelitian, yang diterbitkan di PLOS Medicine dan didanai oleh BHF, didasarkan pada lebih dari 250.000 pasien yang dirawat di rumah sakit dengan dugaan serangan jantung. Data yang dikumpulkan oleh NIHR Health Informatics Collaborative (HIC) mengungkapkan hal berikut.

Mereka yang berisiko tinggi kematian memiliki tingkat CPR 10-15mg/L dibandingkan dengan tingkat "normal" 2mg/L atau di bawah. Ini juga meramalkan kemungkinan kematian lebih dari 35 persen dalam tiga tahun ke depan setelah serangan jantung yang dikonfirmasi.

Satu obat anti-inflamasi, khususnya colchicine telah terbukti efektif melawan aterosklerosis yaitu penumpukan timbunan lemak di arteri yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

Dokter Ramzi Khamis, Peneliti Klinis Menengah British Heart Foundation (BHF) dan konsultan ahli jantung di Institut Jantung dan Paru Nasional, Imperial College London, menguji apakah pasien dengan kadar CRP tinggi, yang diberi colchicine akan hidup lebih lama.

Kerjasama penelitian ini antara National Heart and Lung Institute, Imperial College London, dan National Institute for Health Research (NIHR) Health Informatics Collaborative (HIC).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top