Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sarung Goyor Gunungkidul Tembus Pasar Afrika hingga Timur Tengah

Sarung goyor produksi perajin di Gunungkidul berhasil menembus pasar ekspor di Afrika hingga Timur Tengah.
David Kurniawan
David Kurniawan - Bisnis.com 14 Maret 2022  |  20:10 WIB
Sarung Goyor Gunungkidul Tembus Pasar Afrika hingga Timur Tengah
Pembuatan kain tenun di Gunungkidul - Harian Jogja

Bisnis.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Pencil, Bendung, Semin, Gunungkidul mengembangkan kerajinan yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Hasil tenunan berupa sarung goyor sudah dipasarkan ke mancanegara mulai dari Somalia di Benua Afrika hingga negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Pemilik kerajinan, Mardi Mulyono, mengatakan usaha tenun bukan mesin ini dirintis sejak 2021 lalu. Hingga sekarang sudah ada sepuluh pekerja dan dia akan menambah tenaga untuk menambah proses produksi.

“Untuk ATBM sudah ada 17. Tapi, yang digunakan baru sepuluh. Rencananya, mau menambah tenaga lagi,” kata Mardi saat ditemui di rumahnya, Senin (14/3/2022).

Usaha yang digeluti belum lama, tapi produksinya sudah berjalan dengan lancar. Setiap bulan minimal dia bisa memproduksi kain sarung goyor sebanyak 30 lembar dengan panjang masing-masing sekitar 480 centimeter.

Menurut Mardi, proses produksi belum bisa dikebut karena perajin masih belum ahli sehingga butuh proses belajar untuk membiasakan diri. Selain itu, pembuatan benar-benar manual sehingga tidak bisa secepat pada saat menggunakan mesin.

“Memang butuh proses. Tapi, saya dan istri terus membantu untuk sisi kualitas dan perbaikan alat-alat kalau ada yang rusak,” katanya.

Ia sudah bekerja sama dengan supplier di Sragen, Jawa Tengah. Hasil kerajinan sarung goyor akan ditampung kemudian dipasarkan ke luar negeri seperti Somalia dan negara-negara di Timur Tengah.

“Memang tujuannya ke negara yang memiliki cuaca panas. Sebab, pada saat dipakai berasa adem,” tutur dia.

Harga kain bervariasi dan disesuaikan dengan motif dan bahan bakunya. Kain tenun yang dihasilkan dijual di kisaran Rp600.000 hingga Rp1 juta per jelai.

“Kelasnya masih menengah. Kalau di atasnya lebih dari Rp1 juta per kainnya,” ungkapnya.

Lurah Bendung, Semin, Didik Rubiyanto mendukung pengembangan kain tenun yang menggunakan teknologi ATBM. Menurut dia, prospek usaha sangat bagus dan juga menjadi salah satu kerajinan unggulan di Kecamatan Semin.

“Sudah ada lampu hias di Dusun Garotan. Sekarang kain tenun di Dusun Pencil,” katanya.

Selain itu, dengan usaha kerajinan ini ada warga yang ikut menggantungkan hidup dengan pembuatan tenun di Gunungkidul. “Mudah-mudahan lancar dan ekonomi para perajin bisa ikut meningkat,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor gunungkidul sarung

Sumber : Harian Jogja

Editor : Setyo Puji Santoso

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top