Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengurangi Sampah Plastik dengan Gaya Hidup Guna Ulang

Meskipun terlihat lebih ekonomis, sampah kemasan sekali pakai sulit untuk didaur ulang, sehingga meningkatkan biaya pengelolaan sampah lokal dan menurunkan kualitas lingkungan kita bersama.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 05 Juli 2022  |  20:59 WIB
Mengurangi Sampah Plastik dengan Gaya Hidup Guna Ulang
Ilustrasi sampah plastik

Bisnis.com, JAKARTA - Kemasan makanan, kemasan produk rumah tangga atau peralatan makan sekali pakai masih mencemari perairan Jakarta.

Meskipun terlihat lebih ekonomis, sampah kemasan sekali pakai sulit untuk didaur ulang, sehingga meningkatkan biaya pengelolaan sampah lokal dan menurunkan kualitas lingkungan kita bersama.

Menyikapi hal tersebut, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dan Zero Waste Living Lab (ZWLL) Enviu menggelar Gerakan Guna Ulang Jakarta untuk mewujudkan ekosistem yang dapat mendukung gaya hidup guna ulang di Jakarta.

Program ini bertujuan untuk mengurangi plastik sekali pakai dari produk sehari-hari yang masih menjadi masalah utama, seperti kemasan makanan, kemasan produk rumah tangga dan kemasan plastik dari layanan pesan-antar makanan online.

Darina Maulana, Indonesia Program Lead, Zero Waste Living Lab, Enviu mengatakan Gerakan Guna Ulang Jakarta memberikan kemudahan untuk mengadopsi gaya hidup guna ulang dengan dukungan portofolio Enviu yang terdiri dari startupstartup yang berambisi mengubah dunia.

“Lewat inisiatif ini, kami ingin menunjukkan bahwa gaya hidup guna ulang dapat menjadi pilihan nyata dan mudah bagi semua orang dan pemangku kepentingan terkait, seperti produsen, ritel dan masyarakat sebagai pengguna. Gerakan Guna Ulang Jakarta akan dipantau secara berkala dengan harapan, implementasinya dapat diperluas ke wilayah sekitar Jakarta bersama dengan lebih banyak lagi pemangku kepentingan di dalamnya,” sebut Darina.

Sementara itu, Tiza Mafira, Executive Director, GIDKP mengatakan kolaborasi pemangku kepentingan sangat penting untuk menciptakan ekosistem guna ulang yang masif.

Perubahan besar-besaran ini membutuhkan keterlibatan dan komitmen semua pemangku kepentingan. Pemerintah sebagai regulator; produsen, pengecer dan perusahaan lain sebagai sektor bisnis, serta masyarakat sebagai konsumen.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi lingkungan dan menyadarkan kita semua untuk mulai berubah dan mengurangi konsumsi plastik sekali pakai. Nantinya lingkungan yang kita tinggali ini harus bisa kita wariskan kepada anak cucu.

"Karena itu, gerakan ini menjadi penting untuk kesadaran kita semua, kesadaran seluruh warga Jakarta,” ucap Anies Baswedan.

Pemerintah Provinsi DKI saat ini sudah memiliki peraturan pelarangan kantong plastik sejak tahun 2020. Setelah dua tahun diterapkan, kesadaran masyarakat untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai semakin meningkat. Untuk mencapai pengurangan sampah plastik sebesar 30% pada tahun 2025, Jakarta perlu memanfaatkan upaya pengurangan plastik sekali pakai, selain kantong plastik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sampah Plastik gaya hidup
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top