Ilustrasi pasien Covid-19 yang sedang menjalani isoman berkonsultasi dengan dokter via layanan telemedisin/Freepik
Health

Pemerataan Layanan Kesehatan Lewat Transformasi Digitalisasi

Mia Chitra Dinisari
Sabtu, 22 Oktober 2022 - 08:16
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor kesehatan Indonesia saat ini tengah mengarah pada transformasi digital, sesuai cetak biru Cetak Biru Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024 yang disusun Kementerian Kesehatan.

Chairman IDMS 2022 dr. Rosita Rivai memaparkan digitalisasi kesehatan, akan berdampak pada kualitas layanan yang kian merata di seluruh pelosok, sekaligus mendukung fasilitas kesehatan Indonesia mampu bersaing dengan global.

Layanan kesehatan akan lebih baik, efektif, efisien serta mengedepankan prinsip keselamatan pasien atau patient safety. Hal tersebut disampaikannya dalam Indonesia Digital Medic Summit (IDMS) 2022 dan pameran perumahsakitan Hospital Expo ke-34.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Tiomaida Seviana Hasmidawati Hasugian menyatakan pihaknya kini tengah berfokus pada transformasi teknologi kesehatan sebagai bagian dari 6 pilar Transformasi Penopang Kesehatan Indonesia. Transformasi teknologi kesehatan mendukung transformasi layanan primer, rujukan, sistem ketahahan kesehatan, pembiayaan dan SDM.

Salah satu implementasinya adalah pengembangan Citizen Health App (CHA) yang akan menyimpan data kesehatan pribadi masyarakat yang digunakan saat berobat, sehingga rekam medis terintegrasi dan aman.Aplikasi itu akan dikembagkan dari aplikasi PeduliLindungi yang saat ini telah digunakan 102 juta pengguna aktif dan 8 juta pengguna aktif sehari-hari.

“Sesuai arahan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, data kesehatan harus menopang layanan, bukan hanya menjadi bahan laporan,menjadi dasar pengambilan keputusan dan kebijakan,” kata Tiomaida.

Hananiel Prakasya Widjaya (Kortex Indonesia) menyatakan pasca penerbitan Peraturan Menteri Kesehatan No 24 Tahun 2022 tentang rekam medik elekronik (RME), mewajibkan fasilitas layanan kesehatan wajib menerapkan RME.

“Peraturan ini menjadi tantangan menuju transformasi digital, salah satu kuncinya adalah kepemimpinan yang mampu mengambil keputusan untuk melakukan perubahan. Digitalisasi akan mendatangkan pengalaman pasien, kualitas layanan, meningkatkan komitmen pengguna serta memacu tarif semakin,” kata Hans. 

Sementara itu, pendiri Kitras dr. Grace Cielia, MKK menjelaskan, platform Kitras terus dikembangkan sebagai wahana edukasi atau learning management system (LMS) serta survey mandiri.

”Kami ingin berkontribusi dalam ekosistem digitalisasi kesehatan Indonesia. Komunitas Digital Medis Indonesia adalah sebuah forum untuk mendukung terus berkembangnya digitalisasi kesehatan di Indonesia. Untuk itu kolaborasi dengan seluruh pihak menjadi sangat penting guna mendorong percepatan digitalisasi kesehatan di Indonesia,” kata Grace.

IDMS merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan untuk kedua kalinya. Komunitas Digital Medis dan Rumah Sakit Indonesia (Kitras) mendukung IDMS sebagai forum bagi insan dunia kesehatan serta komunitas digital dari dalam dan luar negeri untuk saling belajar dan berbagi ilmu terkait implementasi digitalisasi di dunia kesehatan. Mereka terdiri atas dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga IT, vendor IT kesehatan, healthtech company, asosiasi dan perhimpunan, serta seluruh profesional tenaga kesehatan yang saat ini mulai terpapar dengan digitalisasi dunia kesehatan.

Tema IDMS 2022 adalah Reimagine Health Together through Improving Digitalization Knowledge and Execution. Rangkaian Kegiatan akan berlangsung hibrid melalui platform Kitras.id.

Rosita juga menekankan, di IDMS 2022 mereka meluncurkan Komunitas Health-Women In Tech, yang akan menyatukan para perempuan pendiri dan pemimpin perusahaan healthtech. Komunitas ini akan menjadi forum pembelajaran praktik terbaik terkait pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan kontribusi perempuan di bidang digitalisasi kesehatan.

“Pada industri non kesehatan, perempuan yang menguasai teknologi dan menggunakannya dalam pekerjaan sehari-hari mungkin sudah banyak. Hal ini sedikit berbeda di dunia kesehatan, yang mungkin pengambilan keputusannya lebih menantang karena berhubungan dengan pasien. Dengan terbentuknya Komunitas Health - Women In Tech ini, diharapkan dapat menjadi jembatan dan ekosistem bagi para perempuan di industri kesehatan saling belajar dan berbagi pengalaman,” kata Rosita.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro