Foto rontgen sinar-X menunjukkan paru-paru yang terinfeksi tuberkulosis./Reuters-Luke MacGregor
Health

Kenali Gejala TBC yang Banyak Menyerang Orang Indonesia

Elsa Hayati Sukma
Senin, 27 Maret 2023 - 09:24
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Saat ini Indonesia menjadi peringkat kedua di dunia dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia salah satunya adalah tuberkulosis (TBC) pada anak yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menyerang ke organ tubuh paru-paru.

TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang menular melalui percikan air ludah. Melalui percikan air ludah ini umumnya TBC menyerang paru-paru, tetapi bisa juga menyerang ke organ tubuh yang lain seperti otak, tulang, perut, usus, kulit, dan mata yang disebut dengan TBC Ekstra Paru.

Menurut data yang diberikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) jumlah kasus TBC pada anak mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berikut data yang diberikan oleh IDAI:
- Kasus TB pada anak
Tahun 2021: 42.187
Tahun 2022: 88.927

- Kasus TB HIV
Tahun 2021: 8.344
Tahun 2022: 12.108

- Tingkat keberhasilan Pengobatan
Tahun 2021: 86%
Tahun 2022: 85%

- Pasien TB meninggal
Tahun 2021: 15.186
Tahun 2022: 16.409

Berdasarkan data Treatment Coverage TBC anak di Indonesia yang merupakan proporsi dari jumlah kasus di provinsi, dibandingkan dengan perkiraan yang seharusnya ada di provinsi itu target ini seharusnya 90% di tingkat nasional. Tetapi jika dilihat berdasarkan data hanya mencapai 12 provinsi yang bisa mencapai 90% dan ini adalah permasalahan terkait TBC yang tidak hanya di Indonesia tetapi tingkat global.

“Banyak anak-anak yang sebenarnya TBC tetapi masih belum terdiagnosis” ucap Dr. Rina Triasih

Hal tersebut untuk mengetahui pasien yang terkena TBC umumnya memiliki gejala biasa yang diawali dengan tanda:
- Batuk lama lebih dari 2 pekan walaupun sudah diberikan pengobatan
- Demam lebih dari 2 pekan tanpa sebab jelas
- Berat badan turun atau menetap dalam 2 bulan
- Anak lesu dan tidak seaktif biasanya.

Penyakit TBC ini dapat dicegah dan hilang dengan perawatan minimal enam bulan
“Pengobatan TBC itu minimal selama enam bulan dan obat nya itu harus diminum setiap hari, kemudian harus teratur, dosis nya harus tepat, dan jumlah obatnya pun tidak hanya satu. Minimal dua bulan pertama itu minum 3 macam obat selanjutnya setelah dua bulan minum 2 macam obat” ujar Dr Rina Triasih melalui Zoom (20/3/2023)

“Untuk TBC ekstra paru pengobatannya berbeda dengan TBC umum paru karena pengobatan yang diperlukan untuk TBC ekstra paru ini cukup lama sebanyak 12 bulan karena mengenai organ tubuh lainnya selain paru seperti otak, tulang dll” sambungnya.

Selain pada anak-anak, TBC pada remaja cenderung mempunyai tipe TBC seperti pada dewasa yang mempunyai risiko penularannya dan kematiannya lebih tinggi. Hal ini menyebabkan stigmatisasi yang terjadi pada remaja masih cukup tinggi sehingga remaja ini takut untuk pergi ke rumah sakit untuk dilakukan diagnosis mengenai penyakitnya.

“Remaja jika disuruh minum obat ketaatannya tidak bagus tadi sudah saya sampaikan risikonya. Dan dengan mobilitas nya itu yang tinggi dia sakit dan tidak diobati atau diobati tetapi minum obatnya tidak teratur maka dia berisiko sebagai sumber penularan teman-temannya maupun kalangan lain” ujar Rina Triasih

Selain dengan pengobatan untuk mengurangi penambahan TBC yang terjadi dengan cara dicegah diantaranya:
- Vaksin BCG pada bayi yang baru lahir
- Pemberian asupan gizi seimbang untuk menjaga imunitas
- Cari sumber penularan, adakah orang yang sakit TBC tinggal serumah atau yang kontak erat dengan anak. Orang yang mengalami TBC ini harus mendapatkan pengobatan TBC sampai tuntas
- Pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) kepada anak yang kontak serumah dengan pasien TBC aktif.
- Upayakan menjaga lingkungan rumah/ tempat tinggal tetap bersih, tidak lembab dan pastikan sinar matahari dapat masuk kedalam rumah.

Untuk itu dalam rangka memperingati hari TBC sedunia pada tanggal 24 Maret IDAI mengajak masyarakat untuk kenali cegah TBC bersama agar tidak ada lagi TBC yang menyerang anak-anak remaja maupun dewasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro