Ilustrasi anak sakit demam/istimewa
Health

Waspada! TBC jadi Penyakit Silent Killer yang Mengintai Anak

Arlina Laras
Jumat, 6 Januari 2023 - 12:10
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tuberkulosis (TBC) menjadi penyakit yang patut diwaspadai pada sang anak, sebab dikenal sebagai pembunuh senyap alias silent killer. Gejalanya sangat ringan, namun baru mulai memunculkan tanda atau gejala setelah penyakit tersebut sudah sangat parah.

Salah satu ciri khas dari silent killer adalah penyakit yang dapat muncul sekaligus memburuk tanpa gejala yang jelas. Tidak jarang penyakit-penyakit ini sulit dideteksi pada anak di tahap awal.

TBC pada anak cenderung lebih sulit dideteksi yang mengakibatkan anak bisa saja terlambat ditangani, padahal anak lebih rentan untuk terkena infeksi TBC karena daya tahan tubuh yang belum optimal. 

Sehingga, sering kali, penanganan penyakit sudah sangat terlambat dan bahkan diketahui ketika penderita di ambang kematian.

Tercatat, sebanyak 619 anak di Kabupaten Bantul terkena Tuberkulosis (TBC) sepanjang Januari-November 2022, sebagaimana dilaporkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul. Hal ini menjadi kekhawatiran banyak orang tua.

Proses Penulasan TBC pada Anak

“Jadi, TBC adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang umumnya terbesar di 85 persen ke paru-paru dan sisanya berada di luar. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini ditularkan melalui droplet yang sangat kecil. Lalu, masuk saluran napas hingga ke organ paru,” jelas dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A dari Pusat Kesehatan Ibu dan Anak Nasional, RSAB Harapan Kita, Jumat (6/1/2023). 

Dia pun menjelaskan percikan cairan dari saluran pernapasan yang mengandung bakteri penyebab TBC rentan terhirup dan masuk ke paru-paru anak. Biasanya, anak-anak tertular TBC karena ada transmisi lokal dari orang dewasa yang tinggal bersama. 

“Masalahnya, orang dewasa kadang banyak yang tidak paham kalau ada gangguan kesehatan atau dia tidak mau berobat. Lalu, bisa jadi dia terpaksa berobat tapi gamau dibilang TBC, jadi tidak diminum secara rutin, alhasil ketika tidak diminum tuntas, jadi resisten dan menular ke anak-anak,” jelasnya. 

Digendong dan Dicium Bukan Faktor Utama Penularan TBC Anak

Dimas pun meluruskan soal beredarnya kabar bahwa anak-anak yang sering digendong atau diciumi orang-orang di sekitarnya bisa tertular oleh TBC. Alhasil, orang tua saat ini takut dan tidak membiarkan si kecil berinteraksi dengan orang lain.

“Anggapan untuk langsung menyalahkan bahwa anak tertular TBC karena sering dicium atau digendong itu salah ya,” tuturnya.

Pasalnya, seorang anak biasanya tidak terinfeksi kecuali dia telah berulang kali melakukan kontak dengan bakteri.

"Kalau Covid-19, kini tertular virus di hari ini, maka dua hari atau tiga hari, kita pun terindikasi positif. Sementara, TBC, kita terpapar bakteri sekarang, sakitnya 1 bulan, 6 bulan atau bahkan 1 tahun kemudian, jadi tidak heran jika penyakit ini silent killer," ungkap dr. Dimas.

Bakteri Mycobacterium Tuberculosis sendiri berukuran sangat kecil. Penularan terjadi ketika seseorang penderita TBC bersin ataupun batuk atau bahkan berbicara. 

Droplet yang keluar menampung 5 kuman TBC dan dalam 1 jam sudah ada 4.000 ada kuman, dan bakteri itu bisa beterbangan di udara. Bahkan, apabila suatu rumah tidak ada ventilasi, tidak ada jendela dan rumah itu gelap, maka bakteri bisa bertahan selama 4 jam. 

Sebagai informasi, dilaporkan bahwa penderita TBC mengalami peningkatan, di mana Indonesia menempati peringkat kedua, setelah India yang disusul oleh RRC.

“Tahun lalu, angkanya, 824.000 penderita di Indonesia, lalu 2021 naik 996.000. Bahkan, dari 100 ribu penduduk, sebanyak 331 terinfeksi TBC,” kata dr. Dimas. 

Gejala TBC pada Anak

1. Batuk lebih dari dua minggu

Batuk menjadi gejala TBC yang paling sering ditemukan. Umumnya, TBC paru akan menimbulkan gejala berupa batuk berdahak yang berlangsung lebih dari 14 hari. Percikan dahak inilah yang bisa menularkan bakteri ke orang lain.

Meski begitu hal ini masih kurang disadari banyak orang. Padahal, jika mengalami gejala batuk yang tak kunjung sembuh hingga 14 hari atau lebih, gejala tersebut bisa jadi disebabkan oleh infeksi bakteri TBC.

“Jadi yang bikin banyak orang terkecoh itu, batuknya di sini bukan batuk yang bikin payah. Tapi, batuk sudah diobatin dan muncul batuk sesekali, terus waktunya ngga tentu, bisa pagi siang malam,” jelas dr. Dimas

2. Demam lebih dari dua minggu

Demam pada TBC biasanya berlangsung lama, lebih dari 2 minggu. Seringnya terjadi pada malam hari dan kadang sampai menggigil. Demam yang hilang dan timbul ini pun kerap dianggap sebagai flu biasa, sehingga tidak terlalu dihiraukan oleh orang yang terinfeksi TBC. 

3. Berat badan terus turun

Bila orang tua merasa sudah selalu memberi asupan bergizi pada si kecil, namun dia tetap saja kurus, ada kemungkinan dia terkena penyakit seperti TBC. Penyakit TBC dapat mengganggu proses metabolisme  sehingga membuat berat badan (BB) anak tak kunjung naik atau bahkan terus turun. 

4. Lemas

Anak tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan, tampak terlihat lesu dan tidak aktif saat diajak bermain. Jika kondisi ini disertai tiga gejala sebelumnya, “Anaknya lemas, ogah main, bobo enggan. maka Anda sangat perlu khawatir dan berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena bisa jadi ini tanda TBC pada anak,” jelasnya. 

Penulis : Arlina Laras
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro