Seorang ibu sedang menenangkan bayi yang menangis. Baby blues atau sindrom setelah melahirkan merupakan hal umum bagi orang tua baru./vhiblog
Health

Cegah Depresi Postpartum, Gangguan Psikologis Bagi Ibu Melahirkan

Maretha Uli
Kamis, 3 Agustus 2023 - 20:11
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perempuan yang hamil dan melahirkan sering sekali mengalami perubahan fisik dan psikologi, karena harus menyusui dan merawat bayi yang dilahirkan.

Saat melahirkan anak, maka seorang ibu akan memiliki perasaan campur aduk yakni bahagia, terharu, takut, dan sedih. Perubahan emosi pada ibu sering terjadi dan hal ini bisa mengarah pada hal yang lebih serius.

Psikolog klinis Brawijaya Clinic, Nuran Abdat mengatakan bahwa 80% ibu yang melahirkan mengalami baby blues. Kondisi ini juga dinilai tidak berbahaya selama ditangani dengan baik. Namun, baby blues bisa mengarah pada postpartum depression atau depresi postpartum.

Baby blues terjadi ketika seorang ibu mengalami perubahan suasana hati ekstrem seperti menangis, cemas, dan sulit tidur. Kondisi ini biasa muncul dalam dua atau tiga hari pertama setelah melahirkan dan dapat berlangsung sampai dua minggu.

Depresi postpartum adalah gangguan psikologis yang terjadi pada ibu yang baru melahirkan dengan gejala depresi mayor seperti kecemasan berlebihan, insomnia, dan perubahan berat badan. Depresi postpartum terjadi lebih lama dari baby blues, yakni mulai minggu kedua atau keenam pascapersalinan dan bisa berlangsung sampai setahun.

Gejala yang dialami biasanya merupakan emosi yang meluap-luap. “Ibu akan merasakan sedih yang luar biasa, putus asa, kerap menangis tetapi tidak tahu alasannya apa, merasa tidak berguna, sampai merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik,” jelas Abdat.

Penyebab utama depresi postpartum adalah penurunan hormon estrogen dan progesteron setelah melahirkan. Kondisi ini memicu perubahan suasana hati secara drastis dan berujung pada depresi.

Kondisi postpartum juga bisa terjadi karena dipicu oleh faktor yang lebih spesifik. Beberapa faktornya adalah tekanan sosial dari pasangan dan keluarga, riwayat sindrom pramenstruasi (PMS), dan ketidaksiapan untuk memiliki anak.

Abdat menyampaikan bahwa 20% ibu yang tidak mengalami baby blues akan mengalami depresi postpartum ini. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan psikologis pada ibu adalah hal yang umum terjadi, tetapi depresi adalah situasi yang lebih parah. 

Risiko ini juga diperparah oleh potensi depresi perempuan yang lebih tinggi. “Perempuan usia produktif punya risiko depresi tiga kali lebih tinggi dibanding laki-laki,” kata Abdat.

Pada kenyataan di Indonesia, depresi postpartum cukup sering ditemui. Berdasarkan data yang disampaikan dalam wawancara, 22,4% ibu di Indonesia mengalami depresi postpartum. Angka ini cukup besar mengingat angka kelahiran di tanah air yang juga tinggi.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dr Ulul Albab juga menyampaikan dampak mengkhawatirkan depresi postpartum. “Efeknya pada ibu dan bayi, bisa berkaitan juga dengan stunting dan pola asuh anak. Ketika kondisi psikososial ibu tidak bagus, pola asuhnya juga tidak bagus,” kata Albab. 

Efek kondisi depresi ini mencakup hilangnya semangat beraktivitas, gangguan makan, gangguan tidur, pelambatan psikomotor, lemah, perasaan tidak berguna, sulit konsentrasi, bahkan menimbulkan keinginan bunuh diri.

Depresi postpartum yang dialami ibu akan membuat bayi mengalami keterlambatan perkembangan kognitif, psikologi, neurologi, dan motorik. Bayi juga akan lebih rewel dan tidak tenang karena tidak mendapat perhatian yang cukup dari ibunya.

Halaman:
  1. 1
  2. 2
Penulis : Maretha Uli
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro