Health

ANAK HIPERAKTIF: Inilah Cara Mendidiknya

Linda Teti Silitonga
Kamis, 14 Februari 2013 - 21:57
Bagikan

Bila melihat anak dengan gejala terus bergerak melebihi kebiasaan anak-anak pada umumnya, susah berkonsentrasi dan tidak bisa duduk tenang lebih dari 5 menit, waspadai kemungkinan anak masuk dalam kelompok hiperaktif.

Apalagi jika perilaku anak tersebut di sertai ulah yang sering menganggu temannya serta tak segan melontarkan kata-kata yang bisa menyakiti perasaan
re kannya di manapun dia berada. Anak seperti ini kemungkinan mengalami gangguan ADHC alias attention deficit hiperactivity disorder.

Indra Jaya, staf pengajar Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Jakarta, memaparkan ADHD atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif
anak biasanya diikuti dengan perilaku tidak bisa diam di berbagai tempat entah di sekolah, rumah, ataupun tempat bermain.

“Kalau hanya satu tempat, itu kemungkinan bukan gejala ADHD. Kalau ADHD [menyerang] pada semua kondisi,” katanya.

Menurutnya, ada tiga gangguan yang tergolong ADHD. Pertama, gangguan pusat perhatian. Ketika anak sedang bermain bola tiba-tiba langsung beralih main mobil-mobilan pada saat temannya membawa jenis mainan tersebut.

Kemudian beralih lagi ke permainan lainnya bila menjumpai mainan lainnya. “Jadi sangat mudah teralihkan konsentrasinya. Anak seperti ini perlu
segera ditangani,” katanya.

Kedua, di mana pun berada, anak akan terus melakukan aktivitas dan biasanya tidak didahului dengan suatu tujuan yang jelas.

Namun, orangtua bisa sering salah kaprah membedakan antara anak hiperaktif dan anak berbakat ataupun anak pintar. Anak berbakat dan pintar biasanya juga seringkali memiliki karakteristik seperti anak hiperaktif. Bedanya, setiap melakukan aktivitas anak berbakat dan pintar memiliki tujuan.

Anak pintar akan naik ke lemari pakaian dengan menggunakan sarung karena ingin menirukan tokoh komik pujaannya yang bisa terbang dengan menggunakan sayapnya, atau masuk ke kolong karena ingin bermain ular-ularan.

Adapun, anak hiperaktif naik ke atas meja tidak ada tujuannya. Ketiga, berlaku impulsif lantaran tidak bisa mengendalikan apa yang dia lakukan
dan diucapkan serta tidak bisa menahan sabar. Bila guru belum selesai bertanya, sang anak langsung menjawab karena tidak sabar menunggu gilirannya.

Faktor Penyebab

Indra mengatakan penyebab hiperaktif pada anak juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan, di samping kemungkinan karena trauma otak atau faktor genetik.
Cara orangtua atau keluarga berkomunikasi dengan anak juga dapat berpengaruh kuat dalam membentuk gejala hiperaktif anak. Orangtua yang sering ribut dan mengeluarkan kata-kata kotor, akhirnya dilampiaskan anak lewat perilakunya.


Indra mengaku pernah menangani kasus seperti ini saat dirinya mengajar di TK. Ada seorang anak yang senang menganggu temannya dan tidak bisa diam.
Saat diselidiki secara neurologis, ternyata tidak bermasalah.

Dari pihak pengantar-jemput anak, diperoleh informasi orangtuanya ketika marah suka menggunakan tangan dan berteriak-teriak. “Akhirnya anak
melampaiaskan emosinya di sekolah,” kata Indra.

Sekolah lantas membentuk tim dan membuat program menjadikan anak hiperaktif tersebut sebagai pemimpin kelas. Setiap ingin melakukan kesalahan, sang anak diingatkan bahwa seorang pemimpinan mesti memberi contoh yang baik kepada rekan-rekannya.

Beberapa waktu kemudian, perubahan pada anak tersebut tidak drastis, tetapi minimal bisa mengurangi tingkat kenakalannya. Jika menjumpai anak yang sulit
berkonsentrasi dan tidak bisa diam dalam waktu lama, paparnya, orangtua bisa gunakan cara mendidik dengan memberikan penghargaan berupa pujian.

Setiap ada kemajuan pada anak, maka pendidik atau orangtua yang mengarahkannnya berkonsentrasi dalam waktu lama bisa memberikannya hadiah.
“Misalnya, anak disuruh menulis supaya bisa konsentrasi. Anak hiperaktif biasanya duduk diamnya tidak lebih dari 5 menit,” tuturnya.

Di samping itu, anak juga bisa diajak menyalurkan aktivitasnya dengan olahraga yang disukainya seperti berenang, sepakbola, basket atau lainnya. “Ini supaya energi anak terkuras sekaligus mengurangi hiperaktifnya,” jelasnya.

Pada saat beranjak dewasa, tuturnya, perilaku hiperaktif anak biasanya akan berkurang, karena orang dewasa akan malu. Yang perlu diwaspadai bila
hiperaktivitasnya terbawa sampai dewasa.

Siti Nuraini Purnamawati, staf pengajar Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNJ yang juga bergabung dalam Konsorsium Pendidik Anak Usia Dini, mengatakan
cara mengatasi anak yang hiperaktif harus dilihat faktor penyebabnya.

“Apabila disebabkan faktor medis seperti gangguan otak, konsultasikan pada ahli syaraf [neurolog]. Apabila akibat faktor lingkungan, konsultasikan pada psikolog anak,” katanya. ([email protected])

 

Editor : Lahyanto Nadie
Sumber : Linda T. Silitonga
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro