Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penderita Hepatitis B, Waspadai Penyakit Kanker Hati

Bisnis.com, JAKARTA - Sembilan kali masuk keluar rumah sakit tak menyurutkan langkah nenek saya, Hj. Sudarti Adnan Fatchullah untuk berusaha melawan penyakitnya. Namun ketika ke sepuluh kalinya Ia dirawat di rumah sakit, ia menghembuskan nafas terakhir
Deliana Pradhita Sari
Deliana Pradhita Sari - Bisnis.com 30 September 2013  |  09:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Sembilan kali masuk keluar rumah sakit tak menyurutkan langkah nenek saya, Hj. Sudarti Adnan Fatchullah untuk berusaha melawan penyakitnya. Namun ketika ke sepuluh kalinya Ia dirawat di rumah sakit, ia menghembuskan nafas terakhir pada usia 61 tahun pada Mei 2011 lalu.

Perempuan yang dulunya berprofesi sebagai guru agama dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Solo itu merupakan wanita karir pekerja keras. Hidupnya dihabiskan dengan mengajar dan aktifitas keagamaan atau aktifitas sosial lainnya.

Namun pada 2010, ia didiagnosa menderita hepatitis B yang disebabkan oleh virus dan diperparah dengan konsumsi yang mengandung zat kimia macam mi instan yang terdapat banyak bahan pengawet. Hepatitis B itu pun berlanjut menjadi penyakit sirosis hati yang tak lagi dapat disembuhkan.

“Kemungkinan penyakit hepatitis B untuk menjadi sirosis hati mencapai 10%,” ungkap DR.Dr.Umar Zein, DTM&H, MHA, Sp.PD, KPTI, ahli penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Prima Medan ketika dihubungi Bisnis belum lama ini.

Sirosis hati adalah merupakan penyakit gangguan fungsi hati atau juga disebut kanker hati dimana struktur jaringan hati rusak. Penyakit ini adalah penyakit lanjutan penderita yang memiliki penyakit hepatitis B. Hepatitis macam ini akan menyerang organ hati.

Hati semacam terdapat luka atau yang disebut dengan jaringan ikat yang menyebabkan hati mengecil atau mengkeret. Sel yang terdapat di hati juga banyak yang rusak dan mati (nekrosis).

Fungsi hati sendiri adalah untuk mengatur kerja metabolisme tubuh, mengatur lemak dan menghancurkan racun. Apabila hati terganggu, protein yang diserap hati berkurang, racun atau toksin dalam tubuh tak terkontrol dengan baik yang akan mempengaruhi keseimbangan asam amino yang akan mempengaruhi sistem kerja otak. Akibatnya, penderita mudah ngantuk, lemah dan dapat sampai koma.

Gejala-gejala lain, paparnya, adalah mudah mual, perut membesar, muntah darah, panas tinggi, air seni berwarna coklat menyerupai teh, tinja menjadi encer dan berwarna pekat.

“Sirosis hati akut sudah merupakan tahap konsisi akhir dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan kecuali dengan transplantasi hati,” katanya.

Penjagaan agar sirosis hati tak masuk kategori akut adalah dengan tidak mengonsumsi sembarang obat, hanya obat-obat khusus dari rumah sakit dan menu diet ketat yang artinya mengatur pola makanan dengan tidak banyak mengonsumsi protein dan garam agar hati tidak bekerja berat dalam mengolah protein dan tidak makan makanan yang mengadung zat kimia.

Minum pun juga harus dikurangi. Menyembuhkan penyakit ini tak bisa ditempuh dengan jalan olahraga dan aktifitas fisik menyehatkan lainnya. Penderita harus istirahat maksimal dan tidak boleh terforsir karena kecapekan.

Pengobatan tradisional juga dapat dilakukan dengan mengonsumsi tumbuhan obat atau herbal untuk pencegahan dan membantu pengobatan semacam temulawak, meniran, jamur kayu, akar alang-alang, pegagan, rumput mutiara, buah kacapiring dan buah mengkudu.

Namun penyakit ini juga menular karena disebabkan oleh virus Hepatitis yang laiknya adalah penyakit menular. Untuk terhindar dari penyakit hepatitis B maupun sirosis hati, hendaknya tidak bertukar alat makan dan alat mandi dengan penderita. Jangan memakai barang-barang bersamaan.

Penyakit ini juga menular melalui cairan semisal darah (melalui tranfusi darah), air liur (berciuman), air susu ibu, dan air kencing serta hubungan seksual dengan penderita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kanker hati hepatitis b
Editor :
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top