Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

"Demam" Batu Akik Juga Melanda Banda Aceh

"Demam" Batu Akik Juga Melanda Banda Aceh
Redaksi
Redaksi - Bisnis.com 22 Januari 2015  |  14:09 WIB
Batu akik - bakulakik.com
Batu akik - bakulakik.com

Bisnis.com, JAKARTA—Peunayong Kota Banda Aceh sejak tiga pekan terakhir dilanda demam batu mulia atau batu akik yang juga terjadi di daerah lainnya.

Aneka jenis batu yang banyak didagangkan masyarakat di kawasan Peunayong itu antara lain adalah giok, cempaka madu, kecubung teh, hijau, dan solar madu, baik dalam bentuk bongkahan (bahan) maupun wujud batu cincin.

Harganya juga bervariasi, kisaran Rp50 ribu sampai jutaan atau tergantung jenis dan beratnya. Batu-batu itu merupakan hasil tambang rakyat dari sejumlah daerah seperti asal Aceh Jaya, Nagan Raya, dan Aceh Tengah. Bahkan, ada batu mulai yang saat ini sedang diburu dengan harganya di atas Rp2 juta dalam bentuk mata cincin, dengan ukuran kecil yakni batu kelas Idocrase atau bio solar yang ditemukan di Nagan Raya, Aceh.

Untuk jenis Idocrase atau bio solar Nagan Raya, menurut pemburu batu mulia Aceh Hendro, sudah susah diperoleh dalam bentuk bahan. Jika pun ada, harganya melangit terkadang puluhan juta untuk satu kilogram.

Para pedagang musiman itu menggelar dagangannya di kaki lima atau emperan toko, dan ada juga di atas mobil pick up dengan mengandalkan lampu penerangan jalan di kawasan tersebut. Sepanjang jalan tersebut diperkirakan lebih 50 pedagang musiman yang mangkal menjajakan batu.

Demam batu cincin di Aceh dalam setahun terakhir juga ditandai ramainya warga yang membuka usaha jasa pengasah batu, dan hampir setiap sudut desa terdapat usaha tersebut.

Bahkan lima tahun lalu, bisnis jasa asah batu cincin seperti di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar masih bisa dihitung jari atau tiga hingga empat usaha yang digeluti masyarakat di daerah tersebut.

Aceh "demam" batu cincin. Seakan-akan, ukuran laki-laki di Aceh saat ini bisa dikatakan "jantan" jika di tangannya dihiasi cincin aneka jenis yang merupakan batuan dari dalam perut bumi, sumberdaya alam di provinsi itu.

Usaha penjualan dan jasa asah batu cincin itu tidak pernah sepi, bahkan hingga larut malam tetap saja dikunjungi warga, termasuk juga wisatawan yang sedang melancong ke kota berjuluk Serambi Mekah itu.

Sebagian besar jasa usaha itu menerima order asah bahan baku dari masyarakat. Untuk mengasah satu batu cincin diperlukan waktu satu hingga dua minggu baru bisa diselesaikan karena ordernya yang cukup banyak.

Bahkan, tidak sedikit warga yang meninggalkan usaha yang digelutinya berpuluh tahun itu kini beralih menjadi jasa asah atau penjualan batu cincin.

Syamsuddin salah seorang pengrajin akik mengaku modal untuk mendirikan usaha jasa asah batu tidak terlalu besar atau minimal Rp50 juta guna membeli tiga buah mesin, termasuk mesin pemotong batu. Namun, yang paling penting adalah adanya tenaga terampil untuk momotong dan mengasah batu.

"Kalau untuk memotong dan mengasah batu itu harus benar-benar tenaga terampil, tidak bisa semberangan sebab berisiko rusaknya orderan yang merupakan bahan batu untuk pembuatan batu cincin," katanya menambahkan.

Apalagi, kata dia, untuk memotong atau mengasah batu giok Nagan Raya tidak bisa dilakukan sembarang orang, karena jika salah-salah maka tidak ada satu pun yang bisa dijadikan batu cincin seperti yang dikehendaki oleh pengorder.

Ongkos asah batu yakni dari Rp30 hingga Rp40 ribu/mata cincin dengan berbagai ukuran yang dikehendaki oleh masing-masing pengorder.

Melambungnya harga idocrase bio solar Aceh itu setelah menyabet hadiah utama dalam lomba batu mulia atau "Indonesian Gemstone" di Jakarta pada September 2014. Batu jenis itu meraih juara pertama kategori idocrase solar.

Selain jenis bio solar, batu lumut Aceh memang menjadi varian yang lain yang menanjak di dunia perbatuan di Tanah Air pada beberapa tahun terakhir.

Ketua Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia yang juga seorang geologist dan gemmologist, H Sujatmiko menyebutkan bahwa di Indonesia, hanya daerah Aceh yang memiliki batu mulia giok jenis nephrite jade.

Dua daerah di Aceh yang menyimpan batu mulia nephrite jade adalah Nagan Raya dan Sungai Lumut, Aceh Tengah dan Gayo Lues.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu akik

Sumber : Antara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top