Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FENOMENA “DEMAM BATU”: Perajin Kebanjiran Order, Sehari Raup Rp1 Juta

Puluhan perajin batu cincin di kawasan Pasar Tengah, Kota Pontianak, Kalimantan Barat mengakui kebanjiran pesanan untuk pembuatan batu cincin dalam beberapa bulan terakhir.
Editor
Editor - Bisnis.com 22 Januari 2015  |  15:51 WIB
Batu akik - bakulakik.com
Batu akik - bakulakik.com

Bisnis.com, PONTIANAK— Puluhan perajin batu cincin di kawasan Pasar Tengah, Kota Pontianak, Kalimantan Barat mengakui kebanjiran pesanan untuk pembuatan batu cincin dalam beberapa bulan terakhir.

"Dalam sehari saya bisa menyelesaikan lima sampai 10 buah batu cincin, untuk diasah dari yang semula batu asli menjadi buah cincin yang menarik seperti berbentuk oval," kata Agus salah seorang perajin batu cincin di kawasan Pasar Tengah Pontianak, Kamis (22/1/2015).

Dijelaskan, upah yang ditawarkan untuk membuat batu menjadi cantik, mulai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu/buah atau tergantung ukuran batu yang diasah sehingga berbentuk bulat atau oval tersebut.

"Penghasilan dari saya dari mengasah batu cincin bisa Rp300 ribu hingga Rp500 ribu/hari, bahkan pernah Rp1 juta," ungkap ayah tiga anak tersebut.

Agus menambahkan ada belasan bahkan puluhan orang yang mencari nafkah seperti dia di pasar tua dalam kota, yang memanfaatkan "demam" batu cincin yang kini terjadi di Kota Pontianak, bahkan hampir merata di seluruh Indonesia.

"Dahulu sebelum masyarakat 'demam' batu cincin, sehari hanya bisa mengasah atau menjual satu saja sudah susah. Sekarang saya malah tidak sanggup melayani banyaknya permintaan, terutama bagi konsumen yang minta dibuatkan cepat," ujarnya.

Koleksi Batu

Agus berharap fenomena masyarakat gemar mengkoleksi batu bisa bertahan lama, sehingga dia dan teman-temannya bisa dapat penghasilan yang lumayan dari mengambil upah membentuk batu sehingga menjadi menarik untuk disandingkan dengan cincin.

"Sekarang yang 'gila' batu tidak hanya orangtua, tetapi sudah merambah pada kalangan menengah dan anak muda. Untuk anak muda mereka cenderung memilih warna batu yang cerah atau warna yang tidak mencolok, seperti putih bening, sementara yang kalangan tua umumnya gemar warna hitam dan sebagainya," kata Agus.

Hal senada juga diakui oleh Ali salah seorang perajin batu cincin.

"Sejak tiga bulan terakhir penghasilannya naik drastis, dari sebelumnya sebagai tukang bangunan per hari Rp100 ribu, kini penghasilan saya naik menjadi Rp300 ribu hingga Rp500 ribu," ujarnya.

Ali juga berharap "demam" batu di kalangan masyarakat bisa bertahan lama sehingga bisa membantu orang yang tidak penghasilan tetap seperti dirinya dan teman-temannya itu.(Bisnis.com)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu akik

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top