Anak sekolah di Indonesia kekurangan lagu anak. /
Health

Ini Dampak Minimnya Lagu Anak di Indonesia Menurut Psikolog

Deandra Syarizka
Minggu, 25 Januari 2015 - 09:38
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- "Adults are kids grown up, anyway,” begitu kata Wal Disney, Bapak Animasi sekaligus pendiri Disneyland. Maksudnya, Disney mengganggap bahwa orang dewasa sebenarnya hanyalah anak-anak yang tumbuh dewasa. Oleh karena itu, seharusnya mereka mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan anak.

Sayangnya, tidak semua orang tua paham dengan pameo tersebut. Anak-anak masih menjadi bagian masyarakat yang tersisihkan, terlebih di industri musik tanah air. Hal itu dibuktikan dengan minimnya lagu anak yang tersedia belakangan ini.

Setidaknya hal itulah yang dirasakan psikolog anak klinis Mira D. Amir mengenai perkembangan musik anak. Dia mengumpamakan di dunia musik, anak-anak belum menjadi nomor satu bagi para pelaku industri. Akibatnya, tak sedikit anak kecil yang lebih sering menyanyikan lagu-lagu dewasa yang tidak sesuai umurnya.

“Kita jadinya juga (melihat) fenomena (minimnya lagu anak ini) tergantung hukum ekonomi, kondisi psikologis yang terseret oleh pasar demand dan supply,” ujarnya ketika ditemui di Salemba. Selain itu, ketidakmampuan orang tua dalam memahami dunia anak juga menjadi salah satu faktor penyebab kondisi ini. Padahal, untuk memahami dunia anak, orang tua hanya harus mengingat kembali masa kecil mereka.

Mira menganalogikan peran musik bagi anak seperti koin yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, musik bisa menjadi alat edukasi yang efektif, terutama bagi anak dengan tipe pembelajaran audio. Namun, di sisi lain musik juga bisa memberikan pengaruh negatif bagi perkembangan psikologi anak, jika tidak sesuai dengan umur dan pemahaman mereka.

“Pada beberapa anak yang memang punya karakter atau kecenderungan kepribadian tertentu itu (lagu dewasa) bisa memupuk mereka untuk lebih cepat matang,” tambahnya. Kendati demikian,  keseharian dalam keluarga dan pergaulan juga turut memberikan andil bagi kematangan psikologis anak.

Untuk itu, ibu dua anak ini menyarankan bagi orang tua untuk memperkenalkan anak pada musik yang beragam, daripada melarang mereka mendengarkan lagu-lagu tertentu. Hal itu akan membantu mengalihkan fokus si kecil  dari lagu yang tidak mendidik.  Seiring perkembangan usianya nanti, anak akan mampu menilai sendiri kualitas musik dan cenderung memilih mendengarkan jenis musik yang sesuai minatnya.

Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan orang tua sebagai musisi dalam keluarga. Hal ini tentu tidak mudah, terlebih di lingkungan keluarga yang tidak ekspresif.

Namun, Mira meyakini kreativitas orang tua dalam membuat musik akan bermanfaat dalam banyak hal. Selain mampu mendongkrak suasana hati keluarga menjadi riang, juga sebagai latihan bagi kreativitas dan kecerdasan bermusik anak.

Adapun mengenai jenis musik yang cocok bagi tumbuh kembang anak, Mira menyatakan ada beberapa kriteria yang sebaiknya dipenuhi. Pertama, melodi yang sederhana agar mudah ditiru. Kedua, lirik lagu sebagiknya menggamabarkan keriangan, motivasi, atau hal positif lainnya seperti penghargaan kepada Tuhan, alam, dan lingkungan sekitarnya. 

Penulis : Deandra Syarizka
Editor : Setyardi Widodo
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro