Benarkah Deodoran Picu Kanker Payudara?

Banyak orang mengalami masalah bau badan. Bagi orang lain di sekeliling, keberadaan bau badan seseorang bisa jadi sangat mengganggu. Beruntung hadir produk pewangi ketiak atau deodoran yang dapat menjadi solusi bagi mereka yang mengalami persoalan bau badan.
Tisyrin Naufalty Tsani
Tisyrin Naufalty Tsani - Bisnis.com 03 April 2015  |  04:00 WIB
Benarkah Deodoran Picu Kanker Payudara?
Ada dugaan pemakaian deodoran di ketiak berpotensi menimbulkan penyakit kanker payudara. . - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak orang mengalami masalah bau badan. Bagi orang lain di sekeliling, keberadaan bau badan seseorang bisa jadi sangat mengganggu. Beruntung hadir produk ’pewangi ketiak’ atau deodoran yang dapat menjadi solusi bagi mereka yang mengalami persoalan bau badan. Konsumennya tidak hanya wanita, tetapi juga pria.

Namun, ada dugaan pemakaian deodoran di ketiak berpotensi menimbulkan penyakit kanker payudara. Dugaan tersebut tentu saja membuat para pengguna deodoran, khususnya wanita, merasa was-was. Apalagi, kanker payudara tergolong penyakit mematikan. Benarkah penggunaan deodoran dapat menyebabkan kanker payudara?

Alfiah Amiruddin, Spesialis Bedah Konsultan Payudara Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta, mengatakan belum ada bukti penggunaan deodoran dapat menyebabkan kanker payudara. Oleh karena itu, ujarnya, sebetulnya aman-aman saja menggunakan deodoran untuk mengatasi bau badan. Dia menambahkan hingga saat ini penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti.

”Karena itu, sampai saat ini, tidak ada vaksinnya,” katanya kepada Bisnis.com Ada banyak sekali yang beredar di tengah-tengah masyarakat tentang kanker payudara. Selain penggunaan deodorant, ada pula mitos tentang bra berkawat yang dapat menyebabkan kanker payudara.

Menurut Alfiah, masyarakat tidak perlu merasa khawatir dengan mitos-mitos tersebut. Banyak mitos tersebut tidak benar. Ahli lain juga berpendapat serupa
tentang penggunaan deodoran dan kaitannya dengan kanker payudara. ”Belum terbukti secara ilmiah,” ujar Ketua  Komite Penanggulangan Kanker
Nasional Soehartati Gondhowiarjo.

Dia memaparkan ada beberapa faktor risiko kanker payudara. Faktor risiko merupakan faktor yang mendekatkan pada risiko terkena kanker. Faktor risiko tersebut antara lain terlambat  menopause, menikah di atas usia 30 tahun, serta riwayat penyakit keluarga yang pernah mengalami kanker payudara.

Kanker payudara, ujarnya, dapat dicegah dengan melakukan pola hidup sehat.  Pola hidup sehat yang dimaksud adalah melakukan aktifitas fisik yang seimbang, menghindari obesitas, menghindari konsumsi alkohol, tembakau, pengawet, penyedap, perasa, dan pewarna makanan. Jangan lupa hindari infeksi pada tubuh dan stres.

Pola hidup sehat lainnya yaitu mengatur pola makan secara sehat yakni dengan banyak mengkonsumsi sayur dan buah dan memperbanyak konsumsi protein nabati.

Situs resmi Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) menjelaskan kanker payudara merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulus.

Di Indonesia, kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak terjadi. Berdasarkan Pathological Based Registration di Indonesia, kanker payudara menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar 18,6%.

Menurut data Histopatologik dari Badan Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI) dan Yayasan Kanker Indonesia (YKI), angka kejadian kanker payudara di Indonesia diperkirakan mencapai 12 dari 100.000 wanita.

Laki-laki juga tidak terhindar dari peluang terkena kanker payudara, dengan frekuensi sekitar 1%. Lebih dari 80% kasus kanker payudara ditemukan telah berada pada stadium yang lanjut. Jika kanker payudara diketahui saat telah memasuki stadium lanjut, upaya pengobatan sulit dilakukan. Oleh karena itu, perlu pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosis dini, pengobatan secara kuratif dan paliatif, serta upaya rehabilitasi yang baik.

Tidak perlu takut dengan kanker payudara. Para wanita bisa melakukan program sadari atau memeriksa payudara sendiri secara rutin untuk mengetahui lebih dini apabila ada keanehan pada payudara. Untuk mereka yang berusia 35 tahun ke atas, sebaiknya melakukan juga pemeriksaan mammografi setahun sekali sambil tetap sadari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
deodorant

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (5/4/2015)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top