Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Satu Dari 4 Balita Menderita Anemia

Ahli kesehatan mengungkapkan, pemberian makanan pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) seharusnya mementingkan kecukupan asupan nutrisi makro dan mikro agar balita tak mengalami kekurangan nutrisi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 11 Mei 2015  |  17:05 WIB
Balita membutuhkan makanan sesuai perkembangan organ pencernaannya - telegraph.co.uk
Balita membutuhkan makanan sesuai perkembangan organ pencernaannya - telegraph.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA--Ahli kesehatan mengungkapkan, pemberian makanan pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) seharusnya mementingkan kecukupan asupan nutrisi makro dan mikro agar balita tak mengalami kekurangan nutrisi.

Hanya saja, menurut pakar riset epidemiologi khususnya mikronutrien dari Universitas Indonesia, Dr. Trevino A. Pakashi, MS, PhD, secara umum praktik pemberian MP-ASI di Indonesia, belum optimal.

Salah satu tandanya adalah masih ditemuinya kasus anemia pada balita. "Pola pemilihan makanan untuk balita di atas enam bulan tidak cukup memenuhi gizi mikro, salah satunya zat besi yang berdampak anemia," ujar Trevino dalam media briefing di Jakarta, Senin.

Merujuk pada Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, diketahui, prevalensi anemia pada balita terutama usia 12-59 bulan ialah sebesar 28,1 persen. Hal ini berarti, anemia mengintai satu dari empat balita.

Trevino mengatakan, balita idealnya membutuhkan asupan zat besi sekitar tujuh miligram per harinya. Bila pada enam bulan pertama, pemberian ASI ekslusif saja mampu mencukupi kebutuhan nutrisi balita termasuk zat besi, maka setelah usia enam bulan, balita memerlukan tambahan berupa makanan pendamping.

"Makanan pendamping ASI misalnya dari susu, atau makanan rumah seperti nasi tim yang ditambah hati atau ayam," ujar Trevino. Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Head of Public Health Nutrition Department dari Nestle Research Center, Dr. Jorg Spieldenner, mengungkapkan, pemberian susu fortifikasi dan produk sereal dapat menjadi salah satu solusi mengurangi anemia pada anak.

"Sebaiknya pilih makanan (pendamping) yang tidak jauh dari makanan sehari-hari. Misalnya sereal, tetapi yang telah diperkaya dengan zat gizi tertentu, misalnya zat besi," kata Spieldenner.

Anemia merupakan kondisi tubuh kekurangan jumlah sel darah merah. Salah satu penyebab kondisi ini ialah kekurangan mikronutrien berupa zat besi. Sejumlah penelitian di Asia, Afrika, Eropa, Australia dan Amerika menunjukkan, konsumsi makanan dengan fortifikasi zat besi atau menambahkan zat besi pada makanan bisa meningkatkan konsentrasi hemoglobin dan menurunkan risiko terjadinya anemia pada anak. Anemia pada anak memiliki sejumlah dampak negatif seperti penurunan kognitif dan anak mudah terkena infeksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anemia

Sumber : Antara

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top