Ingatan Kelam Para Penyintas

Seniman Elisabeth Ida gelisah setelah mendengar cerita para eksil yang berpuluh tahun terpaksa hidup mengembara dari satu negara ke negara lain, akibat paspor mereka dicabut menyusul peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Azizah Nur Alfi | 10 Januari 2016 05:30 WIB
/Foto: elisabeth/ida.com

Bisnis.com, JAKARTA - Seniman Elisabeth Ida gelisah setelah mendengar cerita para eksil yang berpuluh tahun terpaksa hidup mengembara dari satu negara ke negara lain, akibat paspor mereka dicabut menyusul peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Peristiwa kelam itu membuat seniman --yang kini bermukim di Belgia—membuat karya videografi yang berjudul Supervivere [video, 2012-2015]. Karya ini sempat dipamerkan di Teater Taman Ismail Marzuki pada akhir Desember lalu.

Karya Supervivere berisi cuplikan wawancara Ida terhadap delapan orang eksil yang kini bermukim di negara Eropa Barat. Mereka adalah Warsito, Tom Iljas, Syarkawi, Sukamto, Sarmadji, Ibrahim Isa, Kuslan, dan Mintardjo. Proses wawancara dilakukan  di kediaman para eksil di Belanda dan Swedia.

Benang merah dari videografi ini adalah program yang diterapkan oleh Presiden Soekarno pada awal 1960-an yang banyak mengirimkan para pemuda untuk belajar ke luar negeri. Tugas belajar ke mancanegara dilakukan dengan tujuan untuk membangun Indonesia pascakemerdekaan.

Dari sekian banyak pemuda yang dikirimkan, salah satunya adalah Warsito. Dia ditugaskan untuk belajar di  yang meninggalkan Tanah Air pada Agustus 1962 untuk belajar di Lomonosov State University, Uni Soviet.

Namun, pecahnya peristiwa G30S membuat papornya dinyatakan tidak berlaku pada 1966. Dia kemudian meninggalkan Uni Soviet pada Juli 1967, dan mulai menggelandang dari satu negara ke negara lain untuk mencari suaka politik. Dalam wawancaranya dengan Ida, Warsito mengekspresikan kesedihannya yang mendalam karena gagal belajar.

Ida menuturkan sangat tidak mudah membuat para eksil tersebut untuk membuka cerita masa lalu. "Tidak mudah membuat mereka mau bercerita. Saya perlu mengenal mereka lebih dekat untuk tumbuh rasa percaya. Maka, video ini dibuat dari 2012-2015," tutur seniman yang juga lulusan master seni visual-fotografi tersebut.

Videografi dipertunjukkan dengan disandingkan 10 foto Supervivere (fine art print dengan kertas baryta, 30x45 cm, 2015) yang menampilkan wajah para eksil. Dia menyusun menjadi sebuah narasi dengan menampilkan aktivitas para eksil dalam keseharian, hingga makam eksil yang sudah meninggal. "Karya ini masih to be continued. Karena masih ada janjian [wawancara] dengan yang lain," jelasnya.

Peristiwa Masa Lalu

Suara para penyintas juga tampil dalam 10 foto potret perempuan penyintas berjudul Pemenang Kehidupan (cetak hitam putih, RC paper, 2015) karya Adrian Mulya. Foto yang terangkum dalam buku foto dengan judul yang sama, dikumpulkan mulai 2007 hingga 2015. Foto juga menggambarkan cukilan kehidupan dari beberapa penghuni panti Waluya Sejati Abadi, yang menjadi tempat berteduh beberapa penyintas.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno menuturkan tema 50 tahun peristiwa 1965 menjadi fokus tema tahun ini. Menurutnya, kesenian bertanggung jawab membangun empati manusia terhadap penderitaan orang lain. Melalui Museum Rekoleksi Memori ini dapat menyampaikan informasi dengan baik pada generasi muda. “Dengan demikian, kita tidak lagi melakukan kesalahan orang-orang tua di masa dulu,” tuturnya.

Ketua Komnas HAM Nur Kholis menilai Museum Rekoleksi Memori sebagai alternatif bagi korban peristiwa G30S untuk mencari keadilan. Selain melalui proses hukum, cara lain yakni dengan mengumpulkan kembali apa yang terjadi di masa lalu, salah satunya melalui kegiatan ini. “Pembangunan ini menjadi penting. Yakni untuk meyamaikan kembali kepada publik, khususnya generasi muda,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
g30s/pki, daya ingat

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (10/1/2016)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top