Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sulit Cari Pasangan Lawan Jenis, Jumlah Lajang Naik 55%

Keadaan ekonomi dan kesejahteraan yang meningkat membuat sebagian orang memutuskan untuk menunda pernikahan.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 23 Januari 2016  |  05:36 WIB
Kencan Online - boldsky.com
Kencan Online - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA - Keadaan ekonomi dan kesejahteraan yang meningkat membuat sebagian orang memutuskan untuk menunda pernikahan.

Kebanyakan anak muda lebih memilih menghabiskan waktu mereka dengan berjalan-jalan atau bertemu dengan teman terdekat. Namun, bukan berarti mereka tak berminat mencari pasangan.

Menurut Violet Lim, Co-Founder dan CEO Lunch Actually Group, kebanyakan anak muda di kota besar lebih memilih bekerja dibanding mencari pasangan. Menurut penelitian Euromonitor International, angka orang single meningkat 55 persen dalam waktu 15 tahun, yakni dari 153 miliar pada 1996 menjadi 277 miliar pada 2011.

Mayoritas kesulitan mencari pasangan lawan jenis lantaran tak memiliki waktu.

”Kebanyakan orang bertemu dengan pasangan mereka di sekolah atau universitas. Begitu masuk ke dunia kerja, mencari pasangan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan,” ujar Lim.

Melihat potensi ini, dia pun mendirikan Lunch Actually di Singapura, yaitu sebuah layanan pencarian jodoh premium. Layanan pencarian jodoh ini cukup diminati masyarakat Singapura sejak pertama kali diluncurkan 11 tahun yang lalu.

Perusahaan ini tak berhenti melakukan inovasi. Di bawah naungan Lunch Actually Group, mereka kembali meluncurkan platform layanan pencarian jodoh online bernama eSynchrony.

Layanan ini merupakan perpaduan antara online dan offline pencarian jodoh. Semenjak masuk ke Indonesia pada April 2015, layanan aplikasi ini sudah memiliki 200 anggota. Lim pun cukup optimistis dengan kesuksesan layanan ini di Indonesia.

Menurut Lim, dating online di Indonesia sudah cukup menjamur dan rata-rata memiliki 2.000 anggota untuk tiap-tiap platform layanan pencarian jodoh online. Selain itu, penetrasi pasar Internet di Indonesia cukup tinggi, mencapai 30 persen dari total penduduk Indonesia.

Keunikan

eSynchrony pun dinilai memiliki keunikan, karena platform ini menggabungkan antara layanan online dan offline. Layanan online, karena pelanggan bisa mendaftar secara online, nantinya mereka akan melalui 16 tes kompabilitas.

Setelah itu, pelanggan akan dihubungi untuk memverifikasi data pelanggan. Di sini mereka akan diminta berbagai dokumen yang memverifikasi keberadaan konsumen sehingga terhindar dari penipuan.

Setelah itu, konsumen juga bisa berkonsultasi dengan dating consultant sebelum akhirnya mulai mencari pasangan. Nantinya, kecocokan konsumen didasarkan pada kuis yang telah mereka isi.

Setelah masing-masing merasa cocok, dating consultant akan mengatur pertemuan mereka. Dating consultant akan meminta feedback dari kepuasan serta pendapat mereka mengenai pasangan masing-masing.

Layanan ini dibanderol mulai Rp800 ribu per dua bulan. Menurut Lim, layanan premium berbayar ini justru membuktikan konsumen serius mencari pasangan.

”Harganya memang terkesan tidak murah. Namun justru membuktikan bahwa setiap konsumen yang mendaftar serius. Selain itu, orang yang ingin membuat akun palsu akan berpikir dua kali.”

Untuk semakin meyakinkan, eSynchrony juga memberikan garansi bagi konsumen mereka.

Apabila dalam waktu dua bulan konsumen belum bisa menemukan lawan jenis yang sesuai untuk diajak bertemu dengan lawan jenis, perpanjangan pun akan diberikan secara cuma-cuma. Layanan ini sudah tersebar di Singapura, Kuala Lumpur, Penang, Hong Kong, Bangkok, dan Jakarta, terbatas hanya berada di kota besar saja.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kencan online

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top