Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dituduh Plagiat, Sutradara Surat dari Praha Rugi Psikologis

Film berlatar belakang kehidupan mahasiswa eksil 1965, Surat Dari Praha, ramai diperbincangkan di sejumlah media. Kali ini, kisah yang menyeruak bukan seputar prestasi film yang telah beredar di bioskop pada 28 Januari 2016, melainkan terkait isu plagiarisme.nn
Deliana Pradhita Sari
Deliana Pradhita Sari - Bisnis.com 01 Februari 2016  |  16:58 WIB
Dituduh Plagiat, Sutradara Surat dari Praha Rugi Psikologis
Konferensi pers film "Surat dari Praha" di Jakarta, Senin (25/1/2016) (ANTARA News - Nanien Yuniar)
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Film berlatar belakang kehidupan mahasiswa eksil 1965, Surat Dari Praha, ramai diperbincangkan di sejumlah media. Kali ini, kisah yang menyeruak bukan seputar prestasi film yang telah beredar di bioskop pada 28 Januari 2016, melainkan terkait isu plagiarisme.

Surat Dari Praha diklaim menjiplak sebuah buku karya Dosen Universitas Brawijaya, Yusri Fajar. Buku yang dirilis pada 2012 itu merupakan kumpulan cerita pendek (cerpen) di mana salah satu cerpennya berjudul Surat dari Praha.

Sang penulis yang merupakan alumnus salah satu universitas di Jerman ini mensomasi film Surat dari Praha terkait kesamaan judul, tema dan ide besar.

Menanggapi hal ini, Sutradara film Surat Dari Praha Angga Dwimas Sasongko mengatakan film yang dibintangi Tio Pakusadewo dan Julie Estelle itu tidak satu pun mencatut dialog dari cerpen karya Yusri Fajar.

Angga mengklaim latar belakang film yang dia buat di Praha dan Indonesia ini merupakan kisah asli dari narasumber primer yang merupakan mahasiswa eksil di Praha.

Menurutnya, tuduhan yang datang kepada dirinya pribadi dan kepada rumah produksi yaitu Visinema Pictures dinilai sangat merugikan.

Ada kerugian reputasi di sini, kerugian psikologis. Karena ini ngomongin tentang substansi hukum dan substansi kreatif. Bukan lagi substansi ekonomi, katanya di Jakarta, Senin (1/2/2016).

Dia menyayangkan langkah penulis cerpen yang mengumbar tentang plagiarisme di media. Padahal, Visinema Pictures telah berusaha melakukan komunikasi personal. Namun sayang langkah baik ini sellau ditolak oleh kuasa hukum Yusri Fajar.

"Saat film ini dibuat, kami tidak menggunakan cepren karya Saudara Yusri Fajar sebagai panduan. Kami aja ga tau kalau buku itu ada karena memang buku itu diterbitkan terbatas," lanjutnya.

Selain itu, ungkapnya, sumber-sumber primer yang dia temui di Praha juga tidak mengetahui bahwa kisah mereka pernah dibukukan dalam bentuk kumpulan cerpen.

Tuduhan ini menyakitkan pihak-pihak yang telah bekerjasama dengan kami. Termasuk para mahasiswa yang diasingkan ke Praha pada 1965, ujarnya.

Hingga berita ini dibuat, Pihak Visinema Pictures belum menerima satupun somasi yang dilayangkan ke mereka. "Pihak sana Yusri Fajar berkoar-koar hanya di media. Tapi sampai saat ini tidak ada somasi yang datang ke kami. Tidak satupun," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Surat dari Praha
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top