Kebaya Bukan Sekedar Busana, Tapi Juga Perjuangan

Tepat pukul 08.30 WIB, sekitar 16.000 perempuan anggota PKK Kabupaten Pekalongan berkumpul di alun-alun Kajen. Di bawah teriknya matahari, mereka mengenakan baju tradisional kebaya.
Nindya Aldila | 29 April 2017 22:55 WIB
Kebaya Puteri Solo di JFFF 2015 - JIBI/Duwi Setiya Ariyanti

Tepat pukul 08.30 WIB, sekitar 16.000 perempuan anggota PKK Kabupaten Pekalongan berkumpul di alun-alun Kajen. Di bawah teriknya matahari, mereka mengenakan baju tradisional kebaya. Beberapa di antaranya bahkan luntur riasannya akibat tersapu keringat yang bercucuran.

Namun, antusiasme para perempuan ini mengalahkan rasa tidak nyamannya. Mereka rela berbaris mengikuti barisan yang sengaja diatur sesuai dengan kecamatan domisilinya.

Hari itu menjadi momen bersejarah bagi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pekalongan Munafah. "Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan Pekalongan memiliki komitmen yang tinggi dalam upaya pelestarian budaya bangsa-dalam hal ini pemakaian kebaya. Dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih,” katanya sehari setelah Hari Kartini.

Dengan mendukung gerakan berkebaya yang digagas oleh Komunitas Perempuan Berkebaya, Munafah berharap perekonomian para pengrajin akan menjadi lebih baik.
Sebagai apresiasi, acara ini dicatatkan dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) karena memecahkan rekor mengenakan kebaya dengan jumlah terbanyak.

Sementara salah satu pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya Rahmi Hidayati menyatakan bahwa kebaya bukan hanya sekedar busana, tapi juga pembawa nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu kita.

"Kebaya adalah salah satu identitas perempuan Indonesia yang memilih nilai filosofi tinggi. Kehadirannya dimulai ketika Islam masuk ke Indonesia dengan membawa ajaran bahwa bagian tubuh tertentu yang dinamakan aurat harus ditutup dan kebaya menjadi penumpunya," ujar Rahmi.

Nilai-nilai kegigihan, perjuangan dan kepandaian Kartini seperti ikut melekat pada sehelai kebaya yang semakin banyak dipakai belakangan ini.

"Kebaya pada akhirnya Juga menyangkut masalah ekonomi. Kehadirannya sebagai busana yang makin kerap dipakai membuat industri yang berhubungan dengan kebaya akan tumbuh dengan baik. Misalnya saja industri garmen, para penjahit, kain batik atau tenun, aksesori, selop dan tas tangan. Berbagai bentuk ekonomi kreatif ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat,"ujar Rahmi.

Untuk dapat mempertahankan dan mengembangkan nilai budaya, sosial, religi, dan ekonomi yang melekat di sehelai kebaya, diperlukan keterlibatan banyak pihak pemerintah, swasta, masyarakat dan akademisi perlu bekerjasama agar kebaya dikenal dengan baik, dicintai, dan dilestarikan eksistensinya.

GERAKAN ANTIKORUPSI
Namun, kebaya hanyalah simbol. Perlu ada gerakan nyata dalam menampilkan peran wanita yang lebih besar. Saya Perempuan Antikorupsi atau SPAK menjadi salah satu program edukasi bagi perempuan untuk menekankan nilai kejujuran, terutama untuk memberantas tindak korupsi.

Wanita harus bisa menjadi tiang keluarga dalam menegakkan kebenaran karena perannya yang masif terhadap pembentukan karakter anggota keluarga. Namun, rendahnya pengetahuan perempuan tentang definisi, proses dan dampak korupsi bagi masa depan bangsa menjadikan praktik korupsi bebas tanpa diadili.

Ketua Agen SPAK Yogyakarta Alimatul Qibtiyah mengatakan kalaupun wanita sudah memiliki pengetahuan yang cukup, studi yang dilakukannya tentang perempuan antikorupsi menunjukkan hanya 20% perempuan yang berani melapor.

“Hal itu biasanya disebabkan karena mereka takut terkena imbasnya,” ujarnya.
Untuk itu, pemerintah daerah perlu menggalakkan program antikorupsi pada wanita di daerahnya. Salah satu cara agar perempuan bisa menjadi agen perubahan adalah melalui PKK. Kelompok ini seharusnya bisa memiliki peran aktif dalam memperkenalkan bahaya korupsi.

“Alat edukasi SPAK biasanya lewat permainan. Contohnya tentang sembilan nilai keadlilan dan cara membedakan gratifikasi, korupsi, dan suap. Selain itu ada film Sahabat Pemberani yang bekerja sama dengan KPK,” ujarnya.

 

Tag : kebaya, kebaya
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top