Melihat Potensi Pasar Karya Seni ‘Prints’

Seni cetakan atau prints belakangan menjadi barang buruan yang paling laris di pasar lelang besar. Jumlah penjualannya meningkat drastis dibanding kategori karya lain.
Ilman A. Sudarwan | 19 Februari 2018 00:56 WIB
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Seni cetakan atau prints belakangan menjadi barang buruan yang paling laris di pasar lelang besar. Jumlah penjualannya meningkat drastis dibanding kategori karya lain.

Kurator Amir Sidharta menjelaskan, Prints adalah jenis karya seni yang sudah muncul sejak zaman renaisans, namun selalu mendapatkan posisi yang sulit di pasar seni.

Kurator Amir Sidharta berpendapat seni cetakan memiliki sifat reproduksi, tetapi juga punya ekslusivitasnya sendiri.

Seniman grafis yang membuat karya seperti ini bisanya merilis karyanya dalam bentuk edisi terbatas yang sudah ditentukan sebelumnya.

Sebagian dari mereka juga membubuhkan tanda tangan atau ciri khas tersendiri untuk menjamin orisinalitasnya. Seniman pop art Andy Warhol adalah salah satunya.

“Prints atau cetakan adalah sebuah cara menghasilkan karya yang menggunakan teknik cetakan. Mereka menyebutnya edisi bukan reproduksi. Setiap dia cetak itu satu edisi, masing-masing edisi adalah karya asli. Itu harus dipahami, seni cetakan berbeda dari karya reproduksi,” jelasnya.

Karya cetakan ini memiliki rentang harga yang berkisar antara US$15.000 sampai US$1 juta lebih. Karya cetakan bisa sangat mahal harganya ketika memang menempatkannya sebagai karya seni yang sengaja direproduksi. Sementara yang murah, berbanding terbalik, sering kali hanyalah salinan dari dari lukisan yang asli.

“Perlu dibedakan, ada memang seniman barat yang memakai printing sebagai sistem penjualan, dia reproduksi lukisannya dalam cetakan, yang dia jual hanya hasil reproduksinya. Ini menurut saya bukan seniman cetakan,” tegas Amir.

Dikutip dari Bloomberg Presiden Galeri seni dan Percetakan Pace Prints di New York Dick Solomon mengatakan bahwa setidaknya ada dua hal yang menentukan tinggi rendahnya harga seni cetakan yakni, reputasi dari sang perupa dan kualitas dari cetakan itu sendiri.

Di Indonesia sendiri, menurut Amir karya cetakan biasanya dihargai dari mulai ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta. Salah satu yang paling mahal adalah karya-karyaa dari seniman Aytjoe Christine. Selain itu, kehadiran karya cetakan dalam berbagai pameran juga semakin tumbuh belakangan ini.

Meski begitu, Amir mengatakan masih agak sulit untuk mengatakan karya ini bertumbuh pesat di segmentasi pasar seni murah Indonesia. Masih ada stigma negatif tersendiri terhadap karya jenis ini, membuatnya sering kali tidak dilirik oleh para kolektor.

“Pembeli di Indonesia itu masih belum nyaman membeli cetakan, pada umumnya dia lebih gampang lembab jadi lebih susah untuk dipelihara. Akhirnya ada stigma kurang baik dari koleksi cetakan maupun karya-karya dalam medium kertas lainnya,” katanya.

 

 

Tag : seni rupa, desain grafis
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top