Begini Problematika Penanganan Penyakit Jantung Bawaan

Salah satu topik yang dibahas pada penyelenggaraan 27 th Annual Scientific Meeting of Indonesia Heart Association pada 19-22 April 2018 di Jakarta adalah mengenai perkembangan medis dalam penanganan penyakit jantung bawaan.
Yoseph Pencawan | 21 April 2018 00:59 WIB
Oktavia Lilyasari (paling kiri) sedang memberi paparan dalam temu pers ASMIHA 2018 di Jakarta, Jumat 20 April 2018. - JIBI/Yoseph Pencawan

Bisnis. com, JAKARTA - Salah satu topik yang dibahas pada penyelenggaraan 27 th Annual Scientific Meeting of Indonesia Heart Association pada 19-22 April 2018 di Jakarta adalah mengenai perkembangan medis dalam penanganan penyakit jantung bawaan.

Oktavia Lilyasari, salah seorang pengurus teras Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) memberikan gambaran mengenai penyakit itu di Indonesia.

"Dengan jumlah kelahiran hidup sekitar 4,5 juta per tahun, diperkirakan terdapat lebih dari 40.000 bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB)," ujarnya saat temu pers Annual Scientific Meeting of Indonesia Heart Association (ASMIHA) 2018, Jumat (20/4/2018).

Dari jumlah itu, lanjut dia, hampir sepertiganya menderita PJB kritis yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan pada hari pertama atau tahun pertama kehidupan. Prevalensi ini terus meningkat seiring dengan perkembangan pada diagnosis dan tatalaksana penyakit tersebut.

Risiko morbiditas dan mortalitas pun meningkat seiring dengan adanya keterlambatan diagnosis atau keterlambatan merujuk ke pelayanan kesehatan tersier untuk tatalaksana selanjutnya.

Kendati demikian, kemajuan di bidang ilmu jantung anak dan PJB serta bedah jantung dalam beberapa dekade terakhir telah menimbulkan perubahan besar pada tatalaksana pasien. Yang mana saat ini tindakan pembedahan pada PJB sudah terdiri dari tindakan bedah paliatif dan tindakan bedah koreksi.

Tindakan bedah paliatif dilakukan pada pasien PJB yang belum memungkinkan dilakukan reparasi, meskipun bedah reparasi tetap menjadi pilihan utama bila dimungkinkan. Adapun reparasi anatomi atau fisiologis itu sendiri menghasilkan pemisahan sirkulasi sistemik dengan sirkulasi pulmoner.

Seiring dengan perkembangan teknologi, tindakan kateterisasi jantung yang awalnya digunakan sebagai modalitas diagnostik, kini sudah meluas ke teknik intervensi non-bedah. Yakni melalui teknik pencitraan kardiovaskular yang dapat memberikan gambaran pencitraan yang baik akan memungkinkan seleksi pasien pra-intervensi menjadi lebih baik.

Data di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, sebagai pusat rujukan nasional kasus PJB di Indonesia, pun menunjukkan adanya peningkatan jumlah intervensi bedah ataupun non-bedah kasus PJB.

"Sayangnya, kemajuan ilmu dan teknologi di bidang PJB ini tidak dapat dinikmati oleh semua anak Indonesia yang membutuhkan."

Hal itu karena intervensi bedah dan non-bedah yang sudah berhasil dilakukan di seluruh Indonesia hanya mampu berkisar 2.000 kasus per tahun. Angka tersebut menurutnya masih jauh di bawah kebutuhan karena paling tidak, terdapat 20.000 penderita PJB yang memerlukan intervensi setiap tahun.

Lebih lanjut dia paparkan, penegakan diagnosis PJB memerlukan beberapa modalitas diagnostik dari yang sederhana hingga yang canggih. Dan dalam beberapa dekade terakhir terjadi perubahan tren metode pencitraan lanjut dengan kateterisasi jantung berubah ke arah metode yang sifatnya lebih non-invasif lanjut, dengan menggunakan modalitas pencitraan CT jantung dan MRI.

Data di RS Jantung Harapan Kita, selama 5 tahun (2013-2017) memperlihatkan perubahaan tren pencitraan kardiovaskular untuk PJB. Yakni penggunaan modalitas pencitraan kardiovaskular CT dan MRI sebagai modalitas diagnostik non-invasif lanjutan.

Adapun pencitraan kardiovaskular merupakan hal yang fundamental dalam diagnosis PJB. Pencitraan kardiovaskular dapat menguraikan anatomi dan fisiologi tubuh, menyempurnakan tatalaksana, mengevaluasi akibat dari intervensi yang diberikan dan juga dapat membantu penentuan prognosis pasien.

"Sayangnya belum ada satu modalitas pencitraan yang dapat memenuhi seluruh peranan tersebut tanpa bantuan modalitas pencitraan lain."

Oleh karena itu, menurut dia, penilaian PJB harus melibatkan berbagai modalitas pencitraan yang fungsinya saling melengkapi satu sama lain, sensitif, akurat, reprodusibel dan hemat biaya, dengan efek samping yang minimal.

 

Tag : jantung
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top