Penyakit Kardiovaskular, Simak Strategi Perki Tekan Angka Kematian

Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, atau Perki, telah dan akan menerapan beberapa strategi yang dinilai menjadi upaya maksimal dari mereka dalam membantu pemerintah dan masyarakat menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia.
Yoseph Pencawan | 27 April 2018 21:32 WIB
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) Ismoyo Sunu (kedua kanan). - JIBI/Yoseph Pencawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, atau Perki, telah dan akan menerapan beberapa strategi yang dinilai menjadi upaya maksimal dari mereka dalam membantu pemerintah dan masyarakat menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia.

Ketua Umum PP Perki Ismoyo Sunu menuturkan, sebenarnya dalam kurun waktu lebih dari 60 tahun mengabdi kepada bangsa dan negara, Perki tetap konsisten memberikan aksi nyata di bidang kesehatan yang dibuktikan dengan keterlibatannya dalam kemajuan teknologi kardiovaskular, seperti pencitraan (imaging).

"Sekarang ini kita sudah sejajar dengan negara-negara maju, teknologi kita tidak ketinggalan," ujarnya belum lama ini.

Namun Hal itu tidak terlepas dari beberapa strategi Perki yang diterapkan, terutama pada masa ini. Salah satunya adalah memiliki badan hukum. Dengan sudah berstatus badan hukum, Perki mendapat kepercayaan oleh intitusi-institusi, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk bekerjasama melaksanakan berbagai program promosi, preventif, kuratif, penyakit kardiovaskular di Indonesia. Termasuk keberadaan pencitraan di lebih dari 144 rumah sakit rujukan nasional.

Kemudian Perki kemudian meluncurkan buku mengenai pelayanan kardiovaskular di rumah sakit rujukan sebagai bentuk advokasi terhadap kebijakan pemerintah dalam memberikan prioritas fasilitas fasilitas pelayanan dan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah.

Diharapkan hal ini mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan rumah sakit rujukan sehingga akhirnya mampu menurunkan angka kematian penyakit kardiovaskuler secara signifikan. Selama ini belum ada, baru kali ini ada buku model dan perhimpunan dokter lain juga belum bikin.

Sedangkan dalam upaya meningkatkan kuantitas, jumlah fasilitas dan dokter spesialis di rumah sakit rujukan advokasi Perki terhadap Kementerian Kesehatan juga berhasil mengeluarkan dukungan terhadap program pendidikan. Hasil dari pendidikan ini dapat ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit. Perki juga sudah menggunakan alat-alat buatan Indonesia yang berkualitas dan ekonomis.

"Kalau tidak begitu, tidak mungkin kita membeli alat yang harganya mencapai triliunan rupiah yang akan membebani keuangan negara. Oleh sebab itu Perki membuat suatu kesepakatan dengan asosiasi institusi pendidikan teknologi pada September 2017."

Kesepakatan itu terkait dengan perakitan alat-alat kardiovaskuler yang akan disebarkan ke seluruh Indonesia. Kalau bisa, semua alat kardiovaskular dibuat orang-orang Indonesia sendiri. Ini cita-cita ke depan.

Bukan hanya itu, Perki juga melakukan studi untuk perbaikan pengendalian faktor risiko di provinsi dengan beban penyakit kardiovaskular tertinggi di Indonesia, yaitu Bangka Belitung dan Sulawesi Selatan. Hal itu karena meskipun alat dan dokter sudah menyebar tetapi pasien terlalu banyak, tetap akan menimbulkan masalah besar.

Program ini merupakan kerjasama Perki dengan WHO melalui WHF. Proyeksi ke depan, hasil studi ini menjadi rekomendasi untuk pemerintah dalam advokasi kebijakan.

Dalam rangka pembinaan anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, saat ini kami mempunyai 1.100 SpJP yang nantinya akan mendapatkan peluang mendapatkan pendidikan tambahan seperti pencitraan. Komunikasi dilakukan dengan telekonferensi, yang merupakan sesuatu yang baru, secara rutin. Hal ini dilakukan untuk mempercepat komunikasi khususnya bagi teman-teman yang sibuk melakukan kegiatan pelayanan sehari-hari.

Ke depan akan tercipta kesamaan dan kesetaraan dalam menjaga kompetensi setiap dokter spesialis jantung dan pembuluh darah secara nasional. Dokter tidak harus ke Jakarta untuk melakukan pendidikan. Hal ini juga untuk menjamin jenjang karir dokter-dokter spesialis di daerah sehingga tugasnya bukan hanya mengurus pencitraan. Dokter-dokter spesialis akan diarahkan untuk menjadi profesor.

Namun kita masih harus mempublikasi pengetahun dan hasil penelitian ke luar negeri sehingga Perki memberikan dukungan yang besar terhadap adanya majalah Jurnal Kardiologi Indonesia yang dikreasikan oleh Perki sendiri. Ini sangat menarik karena kita sudah mendapatkan ISSN elektronik dan 1-2 tahun ke depan akan terindeks.

Ini juga akan berpengaruh terhadap 13 rumah sakit-rumah sakit pendidikan di Indonesia. Dengan begitu, ke depan Perki bukan hanya organisasi profesi tetapi juga organisasi yang berkontribusi besar terhadap perkembangan keilmiahan medis.

Lebih jauh dikatakannya, selama ini hanya pemerintah dan dokter-dokter yang proaktif sehingga angka morbiditas Indonesia masih sangat tinggi karena yang aktif hanya kedua pihak tersebut. Karena itu dia mengajak masyarakat menggerakkan keluarganya untuk proaktif, jangan pasif, terhadap faktor risiko penyakit kardiovaskular dan pengendaliannya.

"Kalau bapaknya merokok, diberitahu, kalau ibunya berpenyakit gula, jangan makan banyak gula. Edukasi di dalam keluarga merupakan faktor kunci, murah dan efektif. Tindakan ini merupakan hal yang penting dalam membantu pemerintah dan keluarga untuk mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, penyakit kardiovaskular, Dokter Spesialis

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top