Luhut Pandjaitan : Masalah Citarum Menyangkut Masa Depan Penerus Bangsa

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa penanganan Sungai Citarum bukan hanya masalah pemerintah melainkan juga masyarakat karena menyangkut masa depan penerus bangsa.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 11 Mei 2018 22:47 WIB
Dari kiri ke kanan: Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Doni Monardo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Ristekdikti Mohamad Nasir, Staf Ahli Bidang Organisasi, Birokrasi, dan Teknologi Informasi Kementerian Keuangan Susiwijono. - Bisnis/Nur Faizah

Bisnis.com, JAKARTA--Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa penanganan Sungai Citarum bukan hanya masalah pemerintah melainkan juga masyarakat karena menyangkut masa depan penerus bangsa.

Luhut menjelaskan, limbah air Citarum yang mengalir ke lautan dan masuk ke dalam tubuh ikan sangat berbahaya jika akhirnya ikan tersebut dikonsumsi. Apalagi jika ikan yang tercemar itu dikonsumsi oleh ibu hamil, karena bisa menyebabkan stunting.

"Dari hasil penelitian, plastik yang dibuang jadi mikro plastik itu dimakan ikan, ikan dimakan manusia khususnya wanita yang hamil anaknya [nanti] jadi kuntet. Jadi ini [masalah pencemaran Citarum] adalah musuh kita bersama, karena ini sudah menyangkut the next generation, this is your future," ungkap Luhut saat acara Afternoon Tea di Kantor Kementerian Koordinasi Kemaritiman, Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Luhut menambahkan, terkait dana bidang kesehatan, dari total anggaran BPJS sebesar Rp9 Triliun, kurang lebih sebanyak Rp1,9 Triliun digunakan oleh daerah Jawa Barat. Menurut Luhut itu adalah salah satu dari sekian banyak dampak pencemaran di Sungai Citarum.

"[Ditemukan juga data] itu ada 70 ribu orang yang sakit jiwa, apakah karena makan ikan atau bukan, enggak tahu, Tapi di Sukabumi Selatan ada tambang liar, di sana kita temukan adanya kandungan sianida dari merkuri yang jatuh ke laut. Jadi perlu sekali bagi kita semua untuk melawan ini," lanjut Luhut.

Untuk mengatasi pencemaran di Sungai Citarum Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman saat ini bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan TNI untuk membersihkan sungai sepanjang 269 kilometer tersebut.

Kemenristekdikti sendiri dalam upaya membuat Citarum bersih telah membagi sungai tersebut menjadi tiga titik, yakni bagian Hulu, Tengah dan Hilir.

Sejauh ini dikatakan Menteri Ristekdikti Mohammad Nasir, sudah ada enam perguruan tinggi negeri yang dikerahkan untuk melakukan program KKN Tematik Citarum Harum guna merevitalisasi Sungai Citarum.

"Karena masalah di Hulu, Tengah dan Hilir berbeda, maka dari enam perguruan tinggi yang terlibat kami bagi, IPB dan UNPAD bertugas membantu menyelesaikan permasalahan di HULU yang terjadi penggundulan hutan dan sebagainya," ungkap Nasir pada kesempatan yang sama.

Untuk masalah di titik tengah yang menjadi tempat industri berkembang, mahasiswa dari UPI dan ITB yang ditugaskan membantu menyelesaikan masalah pembuangan limbah pabrik ke sungai di sana.

Sedangkan di hilir, mahasiswa dari UI dan UNJ yang ditugaskan membantu mengatasi masalah-masalah yang terjadi.

Selain itu untuk mengatasi masalah sampah, untuk sampah padat akan dimusnahkan dengan mini incinerator. Sampah akan dibakar, secara aman dengan adanya sistem cycling udara sehingga asapnya tidak akan merusak paru-paru.

Sedangkan limbah yang sudah bersenyawa dengan air akan di bersihkan menggunakan bakteri remediasi bernama Bioremediasi.

Di sisi lain, Luhut menegaskan jika ditemukan pelaku industri yang 'nakal' dengan tetap membuah limbah ke bantaran Sungai Citarum, mereka akan mendapat sanksi tegas baik dari pihak Kejaksaan Agung, maupun pemerintah.

Tag : sungai citarum
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top