Jangan Anggap Remeh Kesemutan, Bahaya Sakit Berat Mengancam

Kesemutan diyakini berhubungan dengan kondisi kesehatan yang kurang baik, seperti tanda-tanda diabetes, gangguan ginjal, penyakit hati, kanker, stroke, tumor otak, ketidakseimbangan hormon, multiple sclerosis atau sklerosis ganda atau CTS (carpal tunnel syndrome).
Yoseph Pencawan | 20 Mei 2018 11:59 WIB
Saraf - Istimewa

Kesemutan tidak bisa dianggap remeh karena menjadi sinyal sesuatu yang lebih berat terkait dengan gangguan saraf.

Kesemutan diyakini berhubungan dengan kondisi kesehatan yang kurang baik, seperti tanda-tanda diabetes, gangguan ginjal, penyakit hati, kanker, stroke, tumor otak, ketidakseimbangan hormon, multiple sclerosis atau sklerosis ganda atau CTS (carpal tunnel syndrome).

Menurut Manfaluthy Hakim, Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), kesemutan merupakan masalah yang biasanya mengiringi penyakit-penyakit tersebut, yakni gejala dari terjadinya gangguan saraf tepi (neuropati).

Kerusakan pada saraf tepi juga dapat menyebabkan gangguan sensorik, motorik dan penurunan kualitas hidup pasien. “Kesemutan adalah salah satu dari kondisi gangguan fungsi saraf tersebut tetapi tetapi struktur sarafnya masih normal,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saraf tepi adalah saraf yang keluar dari sumsum belakang untuk menuju ke seluruh tubuh. Sebenarnya semua orang memiliki risiko yang sama terkena neuropati karena penyebabnya banyak sekali.

Kendati demikian, orang yang paling berisiko mengalaminya adalah mereka yang sudah berusia lanjut, penderita diabetes, darah tinggi, mengonsumsi rokok dan alkohol, juga penderita penyakit pembuluh darah seperti penyakit jantung dan kanker. Begitu juga seseorang yang terpapar penyakit lain karena meminum obat-obatan sembarangan.

Kendati demikian, lanjutnya, neuropati dapat dicegah karena kondisi itu lebih diakibatkan oleh gaya hidup. Pencegahannya adalah dengan kebiasaan berolahraga, beristirahat yang cukup, asupan gizi yang seimbang serta mengonsumsi vitamin neurotropik. “Lakukan ketiga itu maka mudah-mudahan usaha kita akan membawa hasil.”

Khusus mengenai vitamin neurotropik, dia menjelaskan bahwa vitamin ini merupakan zat yang dibutuhkan untuk menjaga sistem saraf supaya dapat bekerja dengan baik. Vitamin yang terdiri dari B1, B6 dan B12 ini sudah ditemukan lebih dari 50 tahun lalu. Vitamin B1 sendiri ditemukan di Indonesia oleh orang Belanda ketika berkembangnya penyakit beri-beri.

Vitamin B sangat diperlukan sistem saraf, untuk bekerja, dan membantu sistem saraf dengan cara kerjanya masing-masing. Ketiganya menormalkan fungsi saraf dengan memperbaiki gangguan metabolisme.

Kata Hakim, kita memerlukan asupan vitamin ini, khususnya B12 yang lebih banyak karena tubuh hanya dapat menyerap 2% kandungan B12. Adapun sejumlah makanan konsumsi kita sehari-hari yang mengandung B12 antara lain kacang-kacangan, beras, dan daging.

Namun, lanjutnya, meski sudah minum vitamin B selama seminggu ternyata masih banyak pula yang mengeluhkan kesemutan. Oleh karena itu dilaksanakanlah suatu penelitian di Indonesia untuk menjawab keluhan-keluhan tersebut.

Dari penelitian itu disimpulkan bahwa pemberian vitamin neurotropik baru bisa menurunkan gejala setelah dua minggu. Dari penelitian yang dilakukan pada 2014 sampai 2017 ini juga didapat kesimpulan bahwa semua gejala neuropati bisa diperbaiki setelah meminum vitamin B minimal 14 hari dengan perbaikan kondisi mencapai 63%.

Penelitan ini melibatkan lebih dari 400 responden penderita neuropati yang berusia 18–65 tahun dengan etiologi berbeda dari yang mengalami gejala gangguan saraf (neuropati) ringan sampai sedang. Etiologi adalah penyebab atau asal penyakit dan faktor-faktor yang menghasilkan atau memengaruhi suatu penyakit tertentu atau gangguan.

Adapun etiologi responden antara lain diabetes (104 orang), carpal tunnel syndrome (44 orang), idiopathic (112 orang), dan penyebab lain (25 orang) serta kombinasi (126 orang). Selama masa penelitian, lanjutnya, responden mengonsumsi satu tablet vitamin neurotropik sekali dalam sehari, setelah makan.

Pada akhir studi ditemukan juga bahwa kualitas hidup responden meningkat secara signifikan karena berkurangnya gejala neuropati yang diderita. Selain itu, efek samping dari konsumsi kombinasi vitamin neurotropik secara rutin dan berkala dalam jangka panjang juga disimpulkan relatif kecil.

Kombinasi vitamin B1, B6 dan B12 dapat mengurangi gejala kerusakan saraf tepi seperti rasa nyeri, mati rasa, kesemutan dan menurunnya sensasi.

Tag : saraf, sakit
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top