Ragam Budaya Nusantara dalam Perhiasan Karya Samuel Wattimena

Nusa, Anta, Tara memiliki makna kepulauan, imajinasi, dan cita-cita serta perempuan yang sarat pencapaian dengan semangat kebebasan jiwa. Pesona tersebut ditunjukan melalui ukiran yang dibuat teramat presisi pada perhiasan. Perpaduan emas dan berlian dalam desain yang dibuat sarat cerita akan tradisi sebagai gambaran Nusantara.
Asteria Desi Kartika Sari | 21 Mei 2018 10:15 WIB

Nusa, Anta, Tara memiliki makna kepulauan, imajinasi, dan cita-cita serta perempuan yang sarat pencapaian dengan semangat kebebasan jiwa. Pesona tersebut ditunjukan melalui ukiran yang dibuat teramat presisi pada perhiasan. Perpaduan emas dan berlian dalam desain yang dibuat sarat cerita akan tradisi sebagai gambaran Nusantara.

Nusa adalah seri perhiasan dengan siluet yang mewakili Indonesia dari bagian barat. Nusa terinspirasi dari pending yang dalam kultur Jawa dan Sunda bermakna perhiasan serta ikat pinggang yang lazimnya dihias berdesain kerawang, dan biasanya bermotif lubang-lubang.

Antropolog Universitas Indonesia Notty J Mahdi menceritakan pending masuk ke Nusantara sebagai hadiah dari Tiongkok pada abad ke-7 buat Sriwijaya yang teramat disegani. Siluet itu kemudian menjadi salah satu wujud kultur peranakan.

Inspirasi pending kemudian diwujudkan dalam desain menyerupai potongan berlian yang disebut marquise. Potongan tersebut dipadukan dengan aneka ukiran yang detail.

Anta, merupakan seri yang mewakili dari tengah. Seri Anta terinspirasi dari perhiasan identitas warga Sumba dan wilayah lain Nusa Tenggara, seperti mamuli dan marangga atau maraga.

Mamuli berbentuk menyerupai mata pena di bagian atasnya dan mengecil di bagian bawah dengan aneka ornamen di sekitarnya, termasuk dua sosok yang memegang tombak dan perisai, masing-masing di kanan dan kiri. Mamuli dikenakan di telinga yang menjadi penanda identitas perempuan, kesuburan, rahim yang melahirkan generasi penerus.

Sementara itu dari penjuru timur, ada Tara, siluet tara diambil dari perhiasan warga Indonesia timur, seperti mas bulan base, belak, serta pepek soriti. Belak, dalam kultur aslinya dikerjakan dengan cucuran keringat.

Perajinnya menempa dan membentuk logam di antara api dan palu. Ketika dikenakan di leher perempuan, kedua ujungnya diikat benang merah yang disematkan pada lubang kecil di tengahnya.

Rangkaian perhiasan Nusa, Anta, dan Tara tersebut dihasilkan melalui tangan dingin desainer senior Samuel Wattimena The Palace Jeweler. Perancang busana dan perhiasan Samuel Wattimena mengatakan kekayaan Nusantara selalu menjadi latar belakang dalam berkarya.

“Jadi inspirasinya dari berbagai perhiasan tradisional yang ada dari Indonesia barat, timur, dan tengah. Kita tidak memubuat ulang perhiasan tapi kita hanya menampilkan siluet, namun untuk ukirannya kita mengikuti desain tradisional,” jelas Samuel.

Samuel mengakui dalam menciptakan sebuah karya tak ingin terlepas dari budaya Indonesia. Tak heran Samuel begitu optimistis bahwa perhiasan dengan latar belakang tradisional atau budaya Indonesia akan diterima oleh masyarakat.

Dia pun berharap melalui koleksi perhiasan tersebut dapat menjadi wadah untuk sarana untuk menggali kekayaan ragam perhiasan yang ada di Indonesia. Apalagi, meskipun terinpirasi tradisional tetapi perhiasan didesain dengan look modern.

“Kita ingin masuk ke generasi sekarang, cuma mereka lihat bahwa perhiasan tradisional itu berat dan rumit. Pendekatan paling mudah dengan menciptakan siluet, kita buat ringan dan modern,” jelasnya.

Apalagi menurut Samuel, perhiasan dengan desain tersebut dapat diaplikasikan dengan berbagai macam gaya baik dari kebaya, dress, baju muslim. “Jadi semua bisa di mix and match dengan mudah.”

General Manager The Palace Jelita Setifa mengatakan melalui koleksi tersebut perusahaan permaksud mengajak masyarakat untuk menggali kekayaan perhiasan yang dimiliki Indonesia. “Sehingga mulai megenakan perhiasan sebagai identitas bangsa,” tambahnya.

Jelita melanjutnya, melalui kolaborasi tesebut The Palace memiliki 86 jenis perhiasan mulai dari anting, gelang, cincin dari emas dan berlian. Pihaknya berharap dengan memakai perhiasan koleksi Nusantara tersebut, masyarakat dapat merasakan esensi budaya Indonesia.

Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai dari kalung 2,3 gram seharga Rp4,3 juta, sampai kalung 80 gram yang dibanderol Rp132 juta.

Tag : perhiasan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top